Peristiwa

Kehabisan Ongkos, Dua Pria Jalan Kaki dari Sumsel ke Bandung

×

Kehabisan Ongkos, Dua Pria Jalan Kaki dari Sumsel ke Bandung

Sebarkan artikel ini

Kehabisan Ongkos, Dua Pria Jalan Kaki dari Sumsel ke Bandung

Mei 2025 – Matahari Palembang masih menyisakan panasnya ketika dua pria tampak menyusuri jalan lintas timur Sumatera. Dengan ransel kecil di punggung, kaki penuh debu, dan langkah yang perlahan, mereka melangkah menuju arah yang jauh: rumah. Tak ada kendaraan yang mereka tumpangi. Tak ada bekal yang cukup. Hanya satu hal yang mereka genggam erat: harapan untuk pulang.

Dua pria itu adalah Wawan (37) dan Iwan Kurniawan (28). Mereka bukan pelancong, bukan pula peziarah. Mereka adalah warga Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang terpaksa menempuh perjalanan pulang dari Betung, Sumatera Selatan ke Bandung hanya dengan kaki mereka, karena kehabisan ongkos.

Dari Harapan Pekerjaan ke Jalan Pulang yang Sunyi

Cerita mereka bermula dari satu tekad sederhana: ingin memperbaiki nasib. Wawan dan Iwan merantau ke Palembang dengan modal seadanya, berharap bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi Sumatera bukan tanah yang mudah bagi mereka. Setelah berhari-hari tanpa kepastian, mereka harus menerima kenyataan: tidak ada pekerjaan, tidak ada uang tersisa, dan tak ada cara untuk pulang.

Mereka menolak menyerah. Dengan pakaian lusuh dan tenaga yang tersisa, keduanya memutuskan satu hal: berjalan kaki menuju kampung halaman. Bukan satu atau dua kilometer. Tapi ratusan kilometer melintasi dua pulau.

Tangan yang Mengetuk: Video Permohonan yang Menggetarkan

Di sela perjalanan yang melelahkan, Wawan mengambil ponselnya dan merekam sebuah video. Dengan suara pelan, namun penuh harap, ia berkata:

“Assalamualaikum Pak Dinas, saya pengen pulang ke Bandung, posisi saya di Palembang. Saya mau pulang tapi gak punya ongkos, mohon bantuannya kepada Pak Dian.”

Video itu kemudian viral di media sosial dan diunggah ulang oleh akun resmi Polresta Bandung. Apa yang awalnya hanya jeritan hati dua pria yang kelelahan, menjadi panggilan moral bagi aparat di kampung halaman mereka.

Polisi Bergerak, Lintas Pulau Dijangkau

Kapolsek Cangkuang, Ipda Didi Dwi Purnomo, saat melihat video itu langsung merespons cepat. Ia dan jajarannya melakukan koordinasi lintas wilayah, bahkan lintas pulau, untuk memastikan dua warganya bisa pulang dengan selamat.

“Kami langsung menghubungi rekan-rekan Polsek dan Polres di Sumatera Selatan. Kami juga menjalin komunikasi dengan komunitas transportasi,” ujar Didi.

Berkat kerja sama tersebut, pada Rabu malam, 14 Mei 2025, Wawan dan Iwan akhirnya bisa pulang naik bus jurusan Palembang-Bandung. Mereka tak lagi harus menyusuri jalan dengan kaki yang lelah.

Air Mata di Ujung Jalan

Tak ada sambutan mewah saat keduanya tiba di gerbang tol Pasir Koja. Hanya pelukan dan air mata keluarga yang menyambut mereka. Tapi bagi Wawan dan Iwan, itulah hadiah paling indah.

“Sekarang sudah bisa bertemu lagi Aa dengan anak dan istrinya. Terima kasih, Bapak Kapolsek Cangkuang sareng rengrengan sadayana,” ujar salah satu istri dalam bahasa Sunda, sembari menyeka air mata.

Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono menyampaikan apresiasi terhadap respons cepat jajarannya. Ia menegaskan bahwa kehadiran Polri bukan hanya soal hukum, tetapi juga kemanusiaan.

“Ini wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat. Kami tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tapi juga pada aspek kemanusiaan dan sosial,” katanya.

Langkah kecil dua pria itu bukan hanya membuka mata masyarakat, tapi juga menyatukan rasa empati di tengah dunia yang kerap sibuk sendiri.

Suara Warganet: Doa dan Dukungan

Kisah ini menggerakkan banyak hati. Kolom komentar di unggahan video dipenuhi ungkapan haru dan doa:

“Sehat selalu Pak Polisi, semoga selalu jadi penolong,” tulis seorang netizen.

“Duh, meni karunya milari damelan. Hatur nuhun ka Polsek Cangkuang,” tulis yang lain dalam bahasa Sunda.

Wawan dan Iwan kini kembali ke pelukan keluarga. Mereka mungkin belum menemukan pekerjaan, tapi telah mendapatkan pelajaran hidup yang tak ternilai: bahwa dalam dunia yang keras ini, masih ada tangan yang mau menggenggam, masih ada hati yang peduli.

Dan di balik badge kepolisian yang sering hanya dilihat sebagai simbol kekuasaan, terselip manusia-manusia yang tetap ingat: tugas utama mereka adalah melindungi, mengayomi, dan melayani. ***

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News