Kisah Misteri

Pasar Setan Bubrah Gunung Merapi Menahan Pendaki WNA Spanyol, Ih Ngeriiiiii…….

×

Pasar Setan Bubrah Gunung Merapi Menahan Pendaki WNA Spanyol, Ih Ngeriiiiii…….

Sebarkan artikel ini
pendaki gunung

Pasar Bubrah Gunung Merapi Menahan Pendaki WNA Spanyol, Ih Ngeriiiiii…….

Boyolali – Pasar bubrah di kawasan Gunung Merapi memang sudah di kenal kewingitannya. Menurut orang Jawa bahkan pendaki, pasar tersebut kerap di sebut pasarnya setan di gunung berapi aktif tersebut.

Pendaki lokal pun enggan mendirikan tenda di kawasan ini. Kecuali, mereka yang ada tujuan ritual khusus. Selain dari itu, kebanyak menghindarinya.

Konon pada jam-jam tertentu, kawasan pasar bubrah ramai secara gaib. Kebisingan layaknya pasar terdengar jelas, namun dari pandangan mata tak nampak.

Sebagai pendatang di kawasan tersebut, sangat di larang menerima pemberian dari mahluk di pasar bubrah. Konon jika hal itu di lakukan, maka akan pindah ke alam mereka.

Namun apa jadinya, jika pelancong luar negeri justru terjebak di kawasan yang terkenal itu. Banyak cerita yang di alami warga negara asing (WNA) yang di ketahui bernama Denis.

Pendaki gunung asal Spanyol itu, mengaku 12 jam terjebak di gunung tersebut, dan sempat tertahan di pasar bubrah.

Ia mendaki gunung tersebut secara ilegal. Karena gunung merapi di tutup sementara dari pendakian, pasca erupsi beberapa tahun lalu.

Pendakian yang di lakukan dengan cara tiktok. Artinya, pendakian tanpa menginap layaknya pendaki pada umumnya, dan langsung pulang setelah mencapai titik tertentu.

Kendati pendakian tiktok, namun logistif tetap ia bawa. Namun tidak sebanyak persiapan logistika ketika hendak membangun camp di sana. Ia juga masih membawa selimut dan jaket untuk meredam suhu dingin gunung merapi.

Saat wanita tersebut berada di pasar Bubrah, yang ada di benaknya hanyalah bahaya. Karena tanah yang di ijak kakiknya selalu melorot, karena mengandung bebatuan.

Di kawasan itu, Ia mengaku tidak bisa tertidur nyenyak. Karena hanya tempat itu yang ia temukan untuk beristirahat. Tubuh Ia rebahkan, mata nyalang menatap langit kelam.

Suhu dingin menyergap ketap. Jaket dan selimut yang di pakai, tak mampu membendung suhu dingin yang menusuk tulang.

“Sempat tertidur sekitar 50 menit, ” katanya.

Rencana pendakiannya, memang tidak ingin ngecamp. Hanya sampai pasar bubrah dan kembali turun. Namun rencana tinggal rencana. Di pasar bubrah, ia tidak bisa berbuat banyak kecuali bertahan.

Alam sekitar pasar bubrah tampaknya menahan Denis di kawasan itu. Karena kondisi alam berkabut, sehingga membuatnya tak hafal jalan.

“Logistik dan air saya hemat, karena tidak tahu sampai kapan bertahan di kawasan itu, (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News