Langkah mengejutkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah menyetujui sejumlah syarat yang diajukan Iran dalam kesepakatan penghentian konflik.
Keputusan ini langsung memantik sorotan tajam dari kalangan akademisi global. Salah satunya datang dari Robert Pape, profesor ilmu politik dari University of Chicago.
Melalui pernyataannya di media sosial X pada Rabu (8/4/2026), Pape menilai keputusan tersebut sebagai pukulan telak bagi Amerika Serikat. Bahkan, ia menyebut dampaknya setara dengan kekalahan besar sejak Perang Vietnam.
Menurutnya, persetujuan terhadap tuntutan Iran menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan global sedang berubah.
Ia menegaskan bahwa Iran kini mulai menunjukkan posisi sebagai kekuatan baru yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dalam percaturan dunia.
Kesepakatan tersebut memuat sepuluh poin penting yang menjadi syarat dari pihak Teheran. Isi tuntutan itu tidak hanya menyangkut penghentian konflik, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi dan kontrol jalur strategis internasional.
Berikut poin-poin yang diajukan Iran:
- Jaminan keamanan agar Iran tidak kembali menjadi target serangan
- Pengakhiran konflik secara permanen, bukan sekadar jeda sementara
- Penghentian operasi militer Israel di wilayah Lebanon
- Penghapusan seluruh sanksi dari Amerika Serikat
- Penghentian konflik di kawasan yang melibatkan sekutu Iran
- Pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz
- Penetapan tarif sebesar 2 juta dolar AS untuk setiap kapal yang melintas
- Pembagian pendapatan tarif tersebut dengan Oman
- Penentuan jalur aman bagi kapal internasional di Selat Hormuz
- Pemanfaatan dana dari tarif pelayaran untuk program rekonstruksi
Keputusan ini memunculkan berbagai spekulasi terkait dampaknya terhadap stabilitas global, terutama pada kawasan Timur Tengah yang selama ini terkenal rawan konflik.
Sejumlah pengamat menilai, jika syarat-syarat tersebut benar-benar dijalankan, Iran berpotensi memperoleh keuntungan besar, baik dari sisi ekonomi maupun pengaruh geopolitik.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan rinci dari pihak pemerintah Amerika Serikat terkait implementasi kesepakatan tersebut, sehingga memunculkan banyak pertanyaan di tengah publik internasional.***

