OKU RAYA

Secercah Mengenali Israil dan Yahudi

×

Secercah Mengenali Israil dan Yahudi

Sebarkan artikel ini
Ust. Ahmad Yasin

Secercah Mengenali Israil dan Yahudi

Persembahan Ustadz Yasin

Dengan gencarnya berita dunia yang memberitakan pertikaian antara Negara Iran Dan Israil yang dibantu Amerika,  penulis ingin sedikit mengajak pembaca mengetahui sedikit tentang pengetahuan siapa Israil bani dan siapa israil Negara.

Bani Israil adalah keturunan Nabi Ibrahim as. Ibrahim memiliki dua putra, yaitu Ismail dan Ishaq as. Keturunan Ismail melahirkan bangsa Arab Adnani, sedangkan Ishaq memiliki putra bernama Ya’qub as.

Ya’qub kemudian dikenal sebagai Israil, sehingga keturunannya disebut sebagai Bani Israil. Ketika berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita mengarah pada keturunan Nabi Ya’qub, yaitu Yusuf as., Benyamin, dan 11 saudara Yusuf lainnya.

Total anak-anak Nabi Ya’qub berjumlah 13 orang, sesuai dengan simbol matahari, bulan, dan 11 bintang yang muncul dalam mimpi Nabi Yusuf.

Mimpi tersebut menjadi cerminan jumlah anggota keluarga Nabi Ya’qub. Angka 13 kemudian dianggap sebagai angka istimewa oleh orang Yahudi hingga kini, bahkan banyak logo perusahaan besar yang menggunakan elemen angka ini.

Sifat-Sifat Bani Israil

Bani Israil secara umum memiliki dua karakter utama: sifat kebaikan dan sifat keburukan. Sifat keshalihan diwarisi dari keturunan Nabi Yusuf as., sedangkan sifat buruk berasal dari saudara-saudara Yusuf (yang seayah namun berbeda ibu).

Di antara saudara-saudara Yusuf, terlihat sifat-sifat seperti iri hati, tipu daya, dan kebohongan. Meski begitu, sifat-sifat ini hanya sebatas potensi, bukan takdir mutlak.

Bahkan, menjelang akhir hayat Nabi Ya’qub, seluruh anak-anaknya berserah diri kepada agama tauhid, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

Artinya: Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri”. (QS. Al-Baqarah: 133).

Ketika membahas Bani Israil, sebagian dari mereka dikenal sangat shalih, namun sebagian lainnya dikenal sangat durhaka. Setelah Islam datang, Bani Israil tidak lagi diizinkan mengikuti agama selain Islam.

Jika mereka menolak Islam, mereka dianggap sebagai orang-orang yang durhaka, tanpa toleransi sedikit pun sesuai dengan AlQur’an:
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Artinya:Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85).

Perjalanan Sejarah Bani Israil

Sejarah Bani Israil mulai terhubung dengan peradaban Mesir ketika Nabi Yusuf as. memainkan peran penting di sana. Berkat jasanya membantu bangsa Mesir menghadapi masa sulit, keturunan Ya’qub diberi wilayah luas di Kan’an oleh penguasa Mesir.

Kan’an dipilih karena letaknya dekat dengan Mesir yang makmur, sementara wilayah asal mereka sering dilanda kelaparan.

Pada awalnya, keturunan Ya’qub sangat dihormati oleh penguasa Mesir. Namun, seiring waktu, hubungan antara bangsa Mesir dan keturunan Ya’qub memburuk. Alih-alih terus menghormati jasa Nabi Yusuf, bangsa Mesir justru menjadikan Bani Israil sebagai budak.

Setelah wafatnya Nabi Ya’qub dan Yusuf, Bani Israil mengalami penderitaan di bawah kekuasaan Mesir. Kondisi ini bisa terjadi karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau kecenderungan bangsa Mesir untuk menindas.

Namun, jika melihat sikap adil penguasa Mesir terhadap Nabi Yusuf sebelumnya, kemungkinan besar penyebabnya adalah perilaku buruk dari Bani Israil itu sendiri. [dutaislam.or.id/ab]

Demografi Israel menunjukkan bahwa mayoritas warga negaranya merupakan orang-orang Yahudi. Namun tahukah Anda, sebenarnya orang Yahudi keturunan Nabi siapa? Mengenai hal ini, Ustadz Adi Hidayat pernah menjelaskan silsilahnya dalam beberapa ceramah singkatnya.

Ia mengatakan bahwa orang Yahudi sebenarnya merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS. Dalam Alquran, orang Yahudi dikenal juga dengan sebutan Bani Israil. Banyak ayat Alquran yang menjelaskan tentang kedudukan Yahudi dalam Islam. Dalam Surat Al-Maidah ayat 82, Allah SWT berfirman:

Al-Ma’idah · Ayat 82
۞ لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْاۚ وَلَتَجِدَنَّ اَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّا نَصٰرٰىۗ ذٰلِكَ بِاَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَّاَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ ۝٨٢

Artinya: Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Pasti akan engkau dapati pula orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri.

Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dalam perjuangannya akan menemukan manusia yang paling memusuhi dan menyakiti orang-orang mukmin.

Manusia itu adalah Yahudi Medinah, musyrik Arab dan kalangan penyembah berhala. Orang Yahudi dan orang musyrik Arab sama-sama menentang ajaran Muhammad.

Persamaan inilah yang mengikat kedua golongan ini, meskipun masing-masing mempunyai sifat kepribadian yang berlawanan.

Selanjutnya ayat ini memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dia akan mendapatkan manusia yang paling dekat dan menyukai orang-orang mukmin.

Manusia itu adalah orang-orang Nasrani. Sebabnya ialah di antara mereka ada golongan yang memperhatikan pelajaran agama dan budi pekerti yaitu golongan biarawan yang anti terhadap kemewahan duniawi.

Mereka bertakwa dan banyak bersemedi untuk beribadah. Tentunya kedua golongan ini orang-orang yang bersifat tawaduk (rendah hati) karena agama mereka mengajak mencintai musuh dan memberikan pipi yang kiri kepada orang yang memukul pipi kanannya.

Kebaikan orang-orang Nasrani itu telah dibuktikan oleh sejarah yaitu sambutan Raja Habasyah (Abisinia) yang disebut Najasyi yang memeluk agama Nasrani.

Dia beserta sahabat-sahabatnya melindungi Muslimin yang pertama kali melakukan hijrah dari Mekah ke Habasyah karena takut dari gangguan dan fitnahan yang dilakukan oleh kaum musyrik Arab secara kejam.

Raja Romawi Timur di Syam yaitu Heraklius, ketika menerima surat Nabi Muhammad menyambutnya dengan sambutan baik dan berusaha memberikan penjelasan kepada rakyatnya, supaya dapat menerima ajakan Nabi Muhammad meskipun rakyat belum sependapat dengannya karena masih berpegang dengan kefanatikan.

Mukaukis yang menguasai Mesir, juga menyambut surat Nabi dengan sambutan yang baik, meskipun dia belum bersedia untuk menerima ajakan Nabi kepada Islam, namun beliau menjawab surat Nabi serta mengirim hadiah berharga, antara lain berupa seorang jariah yang bernama Mariah al-Qibtiyah.

Demikian sambutan orang Nasrani pada masa Nabi. Berlawanan sekali dengan orang Yahudi, meskipun mereka secara terpaksa menyatakan sikap simpatik terhadap orang-orang mukmin, namun di dalam hati mereka tersembunyi pikiran tipu daya untuk memperdayakan orang-orang mukmin.

Karena ajaran-ajaran pemimpin-pemimpin Yahudi menanamkan pada mereka fanatisme kebangsaan dan pendirian bahwa Bani Israil adalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Allah.

Ingin tahu lebih jauh tentang silsilah orang Yahudi? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

Silsilah Orang Yahudi dalam Islam

Seperti disebutkan sebelumnya, orang Yahudi sebenarnya merupakan keturunan Nabi Ibrahim. Kala itu, Nabi Ibrahim menikahi empat istri untuk meneruskan risalahnya.

Dari pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai 13 orang anak dan salah satunya adalah Nabi Ishaq. Lalu, Nabi Ishaq menikah dengan Rafqah binti Batuil dan dikaruniai anak kembar bernama Ishu dan Yaqub.

Saat anaknya beranjak dewasa, Nabi Ishaq memerintahkan mereka untuk hijrah ke kawasan Romawi dan Babilonia. Salah satu anaknya, yakni Nabi Yaqub menikah dengan empat perempuan dan dikaruniai 12 orang anak.

Mengutip buku Islam on The Spot susunan Radindra Rahman (2015), 12 orang anak Nabi Yaqub itulah yang nantinya disebut orang Yahudi. Dalam Alquran, Nabi Yaqub disebut Israil. Maka, anak dan keturunannya dikenal juga dengan sebutan Bani Israil.

Sebenarnya nama Bani Israil ini memiliki makna yang positif, yakni anak-anak Nabi Yaqub yang sholeh dan baik.

Bahkan dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

Al-Baqarah · Ayat 74
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٧٤

Artinya: Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat ini diungkapkan watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar dan sudah pula memahami kebenaran, hati mereka keras membatu bahkan lebih keras lagi.

Allah mengumpamakan hati orang Yahudi itu dengan batu yang dalam istilah geologi digunakan untuk menyebut segala macam benda yang merupakan spesies dari karang, atau materi seperti karang yang bersifat keras, untuk menunjukkan kekerasan hati mereka untuk menerima petunjuk Allah.

Bahkan mungkin lebih keras lagi. Walaupun batu itu keras, tetapi pada suatu saat dan oleh suatu sebab dapat terbelah atau retak.

Dari batu yang retak itu memancarlah air, dan kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu itu jatuh dari gunung karena patuh kepada kekuasaan Allah.

Demikianlah halnya hati orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun. Hati mereka tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia.

Namun demikian, di antara hati yang keras membatu itu terdapat hati yang disinari iman, sehingga hati itu berubah dari keras menjadi lembut karena takut kepada Allah. Yang demikian itu banyak disaksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hati yang tadinya biasa membangkang menentang agama akhirnya menjadi lembut, orang yang biasanya berbuat maksiat menjadi orang yang taat berkat petunjuk Allah.

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩٩ (اٰل عمران

Artinya: Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Āli ‘Imrān/3:199)

Demikian pula pada ayat lain, Allah berfirman:
وَمِنَ الْاَعْرَابِ مَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبٰتٍ عِنْدَ اللّٰهِ وَصَلَوٰتِ الرَّسُوْلِ ۗ
Artinya: Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa Rasul. (at-Taubah/9:99)

Menurut saintis, kata “hati” tidak menunjuk pada organ hati (liver), melainkan umumnya mengacu kepada jantung. Jantung adalah suatu organ bagian dalam, terletak di bagian dada dan berukuran sebesar kepalan tangan.

Jantung terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Setiap sisi terbagi lagi menjadi dua ruang, yaitu ruang atas (atrium) dan ruang bawah (Ventrikel).

Ruang-ruang itu berdenyut sebanyak 70 kali per menit untuk menjaga aliran darah ke seluruh tubuh. Apabila dihitung, maka jantung akan berdenyut sebanyak lebih dari 30 juta kali dalam setahunnya.

Perjalanan darah, apabila diukur dan dimulai dari paru-paru dan jantung, akan mengalir melalui urat darah di seluruh tubuh sepanjang 96.000 km. Jarak tersebut ditempuh dalam 23 detik setiap kali putaran.

Terlihat bagaimana pentingnya peran jantung dalam kehidupan manusia. Kata jantung dalam bahasa Arab adalah ‘qalb’. Kata tersebut juga digunakan untuk maksud lain, yaitu untuk mengartikan perasaan atau kalbu. Kalbu, sebagaimana jantung, dalam kehidupan juga sangat penting.

Nabi Muhammad saw, setelah mencontohkan banyak hal mengenai kebaikan dan keburukan, mengatakan mengenai kalbu dalam artian pusat rasa atau pusat kepekaan, demikian: “ ….. Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging sebesar kunyahan, apabila baik, baiklah seluruh jasad dan apabila rusak, rusaklah seluruh jasad. Ia adalah kalbu.” (Riwayat al-Bukhārī melalui Nu‘mān bin Basyīr) Jantung atau kalbu sering juga disandingkan dengan “hati”.

Seringkali disatukan dan menjadi jantung-hati. Ada beberapa ayat terkait mengenai hati dan kepekaan, dua di antaranya adalah Surah al-Isrā’/17: dan Qāf/50: 37 yang artinya sebagai berikut: “Dan Kami jadikan hati mereka terutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Quran, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).” (al-Isrā’/17: 46)

Al-Isra’ · Ayat 46
وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا ۝٤٦
Artinya: Kami jadikan di atas hati mereka penutup-penutup (sesuai dengan kehendak dan sikap mereka) sehingga mereka tidak memahaminya dan di telinga mereka ada penyumbat (sehingga tidak mendengarnya). Apabila engkau menyebut (nama) Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).

Selanjutnya Allah swt menjelaskan bahwa pada saat Rasulullah membaca Al-Qur’an, Allah swt memasang tutup yang menyelubungi hati kaum musyrikin, sehingga hati mereka tidak bisa memahami Al-Qur’an, dan memasang sumbat di telinga mereka, sehingga tidak dapat mendengarnya.

Kalau dalam ayat 45 di atas, Allah menyebutkan sebab-sebab yang meng-halangi mereka memahami Al-Qur’an yang datang dari luar, dalam ayat ini Allah swt menyebutkan sebab-sebab yang datang dari dalam atau yang terdapat pada diri mereka sendiri.

Mereka telah mengalami kerusakan mental yang berat, sehingga tidak dapat lagi mengendalikan jiwanya. Oleh karena itu, mereka terhalang dari memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang benar-benar meminta perhatian dan pemusatan pikiran.

Kerusakan mental ini disebabkan kebiasaan mereka mengikuti jejak nenek moyang, meskipun apa yang diikuti itu tidak benar. Mereka sendiri mengakui kerusakan mental mereka, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah pada ayat yang lain:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ ٥

Artinya: Dan mereka berkata, ”Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesung-guhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).” (Fuṣṣilat/41: 5) (Perhatikan pula Fuṣṣilat/41: 44 dan al-An‘ām/6: 25)

Selanjutnya dijelaskan bahwa apabila Rasulullah menyebutkan nama Allah Yang Maha Esa dalam Al-Qur’an, tanpa menyebutkan nama-nama tuhan mereka, mereka berpaling ke belakang, dan menjauhinya dengan sikap yang sombong dan takabur.

Mereka merasa tersinggung sebab Rasulullah hanya menyebut nama Allah Yang Maha Esa saja dan tidak menyebutkan nama berhala-berhala mereka dalam Al-Qur’an yang dibaca.

Mereka benar-benar membenci Nabi yang tidak hanya tampak pada ucapan dan sikap mereka, akan tetapi diikuti dengan tindakan-tindakan penyiksaan kepada kaum Muslimin.

Mereka juga merintangi kegiatan menyebarkan dakwah Islamiyah di kalangan penduduk Mekah dan sekitarnya.
Qaf · Ayat 37
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ ۝٣٧
Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan.

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam peristiwa azab ditimpakan kepada mereka benar-benar terdapat peringatan yang sangat jelas bagi mereka yang menggunakan akalnya yang sehat atau menggunakan pandangannya, sambil menyaksikan fakta-fakta kenyataannya sehingga timbul kesadaran dan keinginan mawas diri.

Dalam bahasa Al-Qur’an, disebutkan bahwa hati yang ditutup akan menjadikan pemiliknya tidak dapat menerima kebenaran apalagi mengikutinya. Ia hanya dapat mengikuti hal-hal yang tidak sejalan dengan yang hak, yakni hawa nafsu.

Penutupan hati yang dilakukan Allah adalah sebagai dampak dari perbuatan mereka sendiri. Mereka enggan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hatinya, sehingga pada akhirnya hati berkarat dan tertutup.

Secara tradisional, orang menganggap bahwa komunikasi antara kepala/otak (akal) dan jantung/hati (perasaan) berlangsung satu arah, yaitu bagaimana hati bereaksi terhadap apa yang diperintahkan otak.

Akan tetapi, sekarang terungkap bahwa komunikasi antara hati dan otak berlangsung sangat dinamis, terus menerus, dua arah, dan setiap organ tersebut saling mempengaruhi fungsi mereka satu sama lain.

Suatu penelitian mengungkap bahwa hati melakukan komunikasi ke otak dalam empat jalan, yaitu (1) transmisi melalui syaraf, (2) secara biokimia melalui hormon dan transmiter syaraf, (3) secara biofisik melalui gelombang tekanan, dan (4) secara energi melalui interaksi gelombang elektromagnetik.

Semua bentuk komunikasi tersebut mengakibatkan terjadinya aktivitas di otak. Penelitian mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan hati kepada otak akan mempengaruhi perilaku.

Selama ini para ahli mempercayai bahwa medan elektromagnetik hati adalah medan yang paling kuat yang dimiliki manusia. Medan ini tidak hanya mempengaruhi setiap sel yang ada dalam tubuhnya, akan tetapi juga mencakup ke segala arah ruang di sekitarnya.

Diduga bahwa medan elektromagnetik adalah pembawa informasi yang sangat penting. Bahkan dapat dibuktikan pula bahwa medan elektromagnetik seseorang dapat mempengaruhi cara kerja otak orang lain.

Namun lama kelamaan, kaum Bani Israil ini menunjukkan pembangkangan. Setelah Nabi Yaqub meninggal dunia, tepatnya pada masa risalah Nabi Musa AS, mereka enggan beriman kepada Allah SWT. Mereka kufur kepada Nabi Musa karena telah terpengaruh oleh paham paganis bangsa Mesir.

Mereka bahkan menyembah patung sapi yang terbuat dari emas dan perhiasan lainnya.

Dikutip dari buku Kedatangan Dua Al-Masih karya Syaikh Ali Ahmad Ath-thahtawi (2022), kekufuran Bani Israil atau orang Yahudi ini telah banyak dijelaskan dalam dalil-dalil shahih.

Mereka mengingkari semua risalah kenabian yang telah diutus kepadanya, termasuk Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW.

Karena kedurhakaan orang Yahudi kepada Allah SWT, mereka pun mendapatkan kemurkaan-Nya. Dalam Surat Ali Imran ayat 112 Allah berfirman:
Ali ‘Imran · Ayat 112

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ۝١١٢

Artinya: Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka.

Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.

Dengan kekafiran dan keingkaran para Ahli Kitab (Yahudi), serta tindak tanduk mereka yang keterlaluan memusuhi umat Islam dengan berbagai cara dan usaha, Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali bila mereka tunduk dan patuh kepada peraturan dan hukum Allah dengan membayar jizyah, yaitu pajak untuk memperoleh jaminan keamanan (ḥabl min Allāh) dan mereka memperoleh keamanan dari kaum muslimin (ḥabl min al-nās).

Tetapi hal ini tidak dapat mereka laksanakan dalam pergaulan mereka dengan Nabi dan para sahabatnya di Medinah, bahkan mereka selalu menentang dan berusaha melemahkan posisi kaum Muslimin dan tetap memusuhi Islam.

Karena itu mereka mendapat kemurkaan Allah, ditimpa kehinaan dan terusir dari Medinah. Semoga bermanfaat…

Sil-silah nabi Muhammad SAW.
Muhammad bin
Abdullah bin
Abdul Muttalib
bin Hasyim
bin Abdu Manaf
bin Qusayy
bin Kilab
bin Murrah
bin Ka’b
bin Lu’ayy
bin Ghalib
bin Fihr
bin Malik
bin al-Nadlr
bin Kinanah
bin Khuzaimah
bin Mudrikah
bin Ilyas
bin Mudhar
bin Nizar
bin Ma’add
bin ‘Adnan
bin Udda
bin Muqawwim
bin Nahur
bin Tayrah
bin Ya’ruba
bin Yasyjuba
bin Nabat
bin Ismail
bin Ibrahim
bin Tarih
bin Nahur
bin Sarug
bin Ra’u
bin Falikh
bin Aybar
bin Syalikh
bin Arfakhsyadz
bin Sam
bin Nuh
bin Lamak
bin Mattu Syalakh
bin Akhnunkh
bin Yard
bin Malayil
bin Qainan
bin Yanisy
bin Syits
bin Adam ‘alaihis salam.”

Baca juga :

Gubernur Sumsel Pelopori Bayar Zakat Fitrah dan Infak Melalui BAZNAS Sumsel

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News