Khazanah IslamOKU RAYASumsel

Sholat Sunnah dan Wirid Bersama ba’da salam 

×

Sholat Sunnah dan Wirid Bersama ba’da salam 

Sebarkan artikel ini
Selain ibadah sholat wajib, umat muslim juga melaksanakan ibadah sholat sunnah untuk melengkapi ibadah wajibnya. Foto : Mustofa / oku satu.

Sholat Sunnah dan wirid Bersama ba’da salam 

Oleh: ust.Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Penyuluh Agama Islam Kab.OKU

Sebagai Dzat Yang Maha Mencipta, Allah Maha Tahu akan kekurangan hamba-hamba-Nya.

Karena itu, Dia senantiasa membuka ruang bagi mereka untuk memperbaiki dan menutupi kekurangan tersebut.

Demikian halnya dalam urusan shalat fardhu. Tahu akan kekurangan shalat fardhu yang mereka lakukan, Dia mensyariatkan shalat sunnah pengiringnya.

Sholat sunah sebelum dan sesudah sholat wajib perlu di ketahui kaum Muslimin.

Dengan mengetahui dan memahaminya, maka amalan sunah ini bisa di lakukan secara teratur dan benar.

Rasulullah SAW bersabda,

 

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

 

“Tidaklah seorang muslim melakukan sholat sunnah karena Allah setiap hari sebanyak 12 raka’at yang bukan sholat wajib,

kecuali Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” [HR. Muslim dari Ummu Habibah radhiyallahu’anha]

Itulah shalat sunnah rawatib. Salah satu hikmahnya adalah sebagai penambal atau penyempurna kekurangan yang mungkin selalu terjadi di dalamnya.

Padahal, setiap Muslim tahu bahwa amal shalat fardhu adalah amal hamba yang pertama kali di hisab, sebagaimana yang di kemukakan dalam hadits riwayat Abu Hurairah berikut ini.

Dalam riwayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا، وَإِلَّا قِيلَ: انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الْفَرِيضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ الْمَفْرُوضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

Artinya, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali di hisab pada hari Kiamat adalah shalat fardhu. Itu pun jika sang hamba menyempurnakannya. Jika tidak, maka di sampaikan,

“Lihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (shalat) sunnah?” Jika memiliki amalan shalat sunnah, sempurnakan amalan shalat fardhu dengan amal shalat sunnahnya. Kemudian, perlakukanlah amal-amal fardhu lainnya seperti tadi,” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain

أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelah zhuhur, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”  [HR. At-Tirmidzi dari Aisyah dan Ummu Habibah radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6183 ]

Dan yang paling utama dari seluruh sholat sunnah qobliyah (sebelum) dan ba’diyah (sesudah) sholat wajib adalah sholat sunnah fajar, yaitu qobliyah Shubuh.

Rasulullah SAW bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Sholat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh lebih baik daripada dunia dan isinya.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallaahu’anha]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ

“Tidak ada sholat sunnah yang paling dijaga Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melebihi sholat dua raka’at sebelum Shubuh.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha juga berkata,

أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ لا يَدَعُ أرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، ورَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الغَدَاةِ

“Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sebelum Shubuh.” [HR. Al-Bukhari]

Dan ketika safar, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengerjakan sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah, kecuali qobliyah Shubuh, tetap beliau kerjakan walau sedang safar.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

وكان من هديه ﷺ في سفره الاقتصار على الفرض ولم يحفظ عنه أنه صلى سنة الصلاة قبلها ولا بعدها إلا ما كان من الوتر وسنة الفجر فإنه لم يكن ليدعهما حضرا ولا سفرا

“Dan termasuk petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam safar (perjalanan jauh) hanya melakukan sholat wajib.

Dan tidak di riwayatkan beliau sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah kecuali sholat witir dan qobliyah Shubuh, sesungguhnya beliau tidak pernah meninggalkan dua sholat sunnah ini saat mukim maupun safar.” [Zaadul Ma’ad, 1/473]

 

Sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah terbagi menjadi dua:

 

Berdasarkan hadits-hadits yang mulia di atas, para ulama menjelaskan bahwa sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah terbagi menjadi dua:

 

1. Sholat sunnah muakkadah (sholat sunnah yang ditekankan).

2. Sholat sunnah ghairu muakkadah (sholat sunnah yang dianjurkan).

 

Rincian Sholat Sunah Qobliyah dan Ba’diyah Muakadah

Sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah yang muakkadah ada 12 raka’at:

 

* 2 raka’at sebelum Shubuh.

Bahkan, ada shalat sunnah rawatib yang menandingi kebaikan dunia dan isinya. Ialah shalat sunnah fajar atau dua rakaat shalat sunnah subuh. Demikian yang di sebutkan dalam riwayat Muslim dan At-Tirmidzi.

رَكعَتَا الْفجْر خير من الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya, “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan pengisinya.”

 

* 4 raka’at sebelum Zhuhur (di kerjakan 2 raka’at salam, lalu 2 raka’at salam).

Sementara keutamaan khusus yang di miliki shalat sunnah rawatib adalah empat rakaat sebelum dan setelah dhuhur, berdasarkan riwayat berikut:

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Artinya: “Siapa saja yang menjaga empat rakaat sebelum dhuhur dan dua rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya atas siksa neraka,” (HR. At-Tirmidzi).

Masih dalam riwayat At-Tirmidzi di sebutkan, empat rakaat sebelum shalat ashar mengundang rahmat Allah subhanahu wata’ala.

رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Artinya, “Allah merahmati seseorang yang shalat sunnah empat rakaat sebelum ashar.”

 

* 2 raka’at setelah Zhuhur

Kemudian, shalat sunnah rawatib Jumat di qiyaskan kepada shalat dhuhur, baik dalam muakkad maupun ghair muakkad-nya, yakni dua rakaat muakkad sebelum dan setelahnya, dan dua rakaat ghair muakkad sebelum dan setelahnya, sebagaimana dalam riwayat Muslim:

إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

Artinya, “Jika salah seorang kalian shalat Jumat, maka shalatlah setelahnya empat rakaat.”

Walhasil, shalat sunnah rawatib memiliki keutamaan yang besar, baik yang muakkad maupun yang ghair muakkad.

Antara lain menjadi penambal kekurangan shalat fardhu, pengundang ridla dan rahmat Allah, penanding kebaikan dunia, dan pengantar nikmat akhirat.

Siapa pun yang ingin meraih sejumlah keutamaan itu, maka tunaikanlah tanpa melihat muakkad dan ghair muakkad-nya. Sebab, yang ghair mukkad pun memiliki keutamaan besar dan sayang sekali bila di lewatkan.

Dalam keadaan sempit, sekurang-kurangnya adalah yang muakkad. Jangan pernah melewatkannya, karena orang yang biasa melewatkannya, menurut Imam Ar-Rafii, layak ditolak kesaksiannya.

 

* 2 raka’at setelah Maghrib.

* 2 raka’at setelah Isya.

 

Dzikir Setelah Sholat

“Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati.” Demikian sabda Rasulullah sebagaimana di riwayatkan Imam Bukhari.

Dzikir tentu bisa di lakukan kapan saja, baik dalam hati maupun lisan, salah satunya adalah dzikir setelah melaksanaan sholat/sembahyang fardhu.

Selepas menunaikan shalat fardhu lima waktu, seseorang di anjurkan meluangkan waktu sebentar untuk berdzikir.

Amalan ini menjadi rutinitas (wirid) as-salafus shalih yang memiliki dasar yang kuat dari Sunnah Nabi.

Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar pada Bâbul Adzkâr ba‘dash Shalâh mengatakan bahwa ulama telah bersepakat (ijma’) tentang kesunnahan dzikir usai shalat yang di topang oleh banyak hadits shahih dengan jenis bacaan yang amat beragam.

Berikut ini adalah di antara rangkaian bacaan dzikir sesudah shalat maktubah yang di susun pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Muhammad bin Abdullah Faqih (rahimahullâh) sebagaimana di kutip dari Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah.

Beliau mengutipnya antara lain dari hadits riwayat Muslim, Bukhari, Abu Dawud, serta kitab Bidâyatul Hidâyah dan lainnya

1. Membaca istighfar di bawah ini sebanyak tiga kali:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمَ الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ
وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ×٣

 

2. Memuji Allah dengan kalimat:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام

Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim. Dalam riwayat lain sebagaimana di kutip Bidâyatul Hidâyah:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَارَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ

 

3. Lalu membaca:

اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Bacaan ini bisa kita temukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Muslim (muttafaqun ‘alaih).

Dalam Bidâyatul Hidâyah di sebutkan:

اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا رَآدَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَاالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

 

4. Berdoa agar di beri kemampuan untuk mengingat (dzikir), bersyukur, dan beribadah secara baik kepada Allah:

اَللَّـهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

(HR Abu Dawud)

 

5. Di lanjutkan dengan membaca:

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

(di baca tiga kali tiap selesai shalat fardhu, khusus setelah maghrib dan shubuh sepuluh kali).

 

6. Memohon perlindungan dari ganasnya neraka:

اَللَّهُمَّ أَجِرْنِـى مِنَ النَّارِ

(tujuh kali bakda maghrib dan shubuh)

 

7. Membaca Ayat Kursi:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلَانَوْمٌ، لَهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلَا يَـؤدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ.

 

8. Membaca Surat al-Baqarah ayat 285-286

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ، كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ، وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

9. Di sambung dengan penggalan dari Surat Ali Imran:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ، إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ، قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ،  إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ، وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

10. Membaca Surat al-Ikhlas, Surat al-Falaq, Surat an-Nas, lalu Surat al-Fatihah.

 

11. Membaca tasbih, hamdalah, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali:

سُبْحَانَ اللهِ ×٣٣
اَلْحَمْدُلِلهِ ×٣٣
اَللهُ اَكْبَرْ ×٣٣

 

12. Kemudian di lanjutkan dengan:

اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُيُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّابِا للهِ الْعَلِـىِّ الْعَظِيْمِ. أَفْضَلُ ذِكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ

(Di baca 300 kali bakda shubuh, 100 kali bakda isya, 50 kali bakda dhuhur, 50 kali bakda ashar, dan 100 kali bakda maghrib)

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

(di baca bakda shubuh 300 atau 100 kali)

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

13. Wirid kemudian di tutup dengan doa sesuai dengan harapan masing-masing saat sholat bila sholat sendiri, bila berjamaah tinggal meng Aminkan apa yang di baca imam.

 

Dzikir dan do’a bersama memiliki beberapa dasar yang salah satunya Hadits Nabi Muhammad SAW yang di riwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Hakim sebagai berikut :

عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ يَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني في الكبير و الحاكم في المستدرك

Artinya : Dari Habib bin Maslamah al-Fihri RA –beliau seorang yang di kabulkan do’anya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdo’a,

dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan do’a mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak).

Nah, untuk yang terakhir ini di jelaskan oleh Sayyid Abdurrahman bin Hasan bin Husain Ba Alawi dalam kitab Ghayatu Talkhish Al Murad min Fatawi ibn Ziyad Hal. 89

واختار الحافظ ابن حجر في فتاويه أن الإمام إن كان ممن يذكر المأمومين أو يدرسهم أو يفتيهم فأولى أن يستقبلهم وإلا فيستقبل القبلة

Artinya : Imam Al-Hafidz Ibn Hajar dalam Fatawinya mengatakan : imam lebih utama menghadap makmum jika memang hendak memberikan nasehat, pelajaran atau fatwa kepada mereka. Jika tidak demikian, maka imam tetap menghadap kiblat.

Mengenai posisi imam setelah salam, banyak pendapat tentang hal tersebut.

Ada yang mengatakan imam menghadap makmum, ada yang mengatakan bagian kanan badan imam mengarah ke makmum sementara bagian kirinya mengarah ke arah kiblat(untuk di Indonesia, menghadap ke Utara).

Ada juga yang mengatakan imam tetap menghadap kiblat.

Dengan demikian, dzikir bersama setelah sholat dan posisi imam menghadap kiblat setelah salam memiliki dasar pijakannya sendiri yang di ambil dari Kitab atau Sunnah dan pendapat ulama yang tentunya berdasarkan Kitab dan Sunnah.

Perbedaan pandangan dalam hal tersebut dan hal-hal furu’iyah yang lain tidak perlu menjadi penyebab perpecahan antara sesama umat Islam.

Perbedaan yang ada biarlah tetap menjadi rahmat, bukan menjadi penyebab laknat. Semoga kita selalu mendapat rahmat dan ni’mat dari Allah SWT. Aamiin…

Semoga Bermanfaat

Baca juga :

Tuntunan Shalat Lima Waktu dengan Bacaannya Lengkap

Akibat Meninggalkan Solat Jumat

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News