Tingkatan Imam Tertinggi. Kita di Level Mana ?
Persembahan Ust.Yasin
Ada berbagai macam tantangan perguruan tinggi dalam menghadapi cara masyarakat beragama.
Pertama, mewujudkan Islam Rahmatal Lil Alamin.
Seperti yang disampaikan Lukman Hakim Saifuddin saat mengisi webinar virtual yang diselenggarakan Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (24/10/2021).
Menurutnya, perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang pola pembelajarannya diselenggarakan berbeda dengan lembaga di bawahnya. Daya kritis dalam bernalar dan berpikir menjadi napas keberlangsungan belajarnya.
Diantaranya adanya fenomena beragama yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan juga merupakan tantangan pertama bagi seluruh umat beragama. Corak beragama yang konfrontasi dan suka mengklaim kebenaran sepihak adalah wujudnya.
Cara beragama yang demikian sebenarnya sangat bertentangan dengan tujuan agama yang sesungguhnya,”. Seharusnya, dari Islam tercipta ketenangan, ketenteraman, kebahagiaan, dan lain sebagainya yang berdampak positif bagi seluruh ciptaan Allah swt.
Islam punya visi besar untuk menciptakan ketenteraman bersama. Untuk menuju Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin harus memadukan kerja spiritual, moral, intelektual, dan aksi-aksi kemanusiaan.
Kali ini pembahasan difokuskan pada pemahaman keimanan sesorang yang hampir terabaikan seputar pemahaman dan klasifikasinya.
Iman merupakan salah satu dasar kepercayaan bagi pemeluk agama Islam yang sangat penting. Kualitas keimanan ini menjadi hal yang cukup krusial karena masuk dalam ranah ideologi, dengan demikian bukti nyata dari keimanan tidak akan terlihat secara jelas. Sebab tersimpan dalam diri setiap individu.
Berbeda dengan amaliah ibadah yang sifatnya fisik, sehingga akan terlihat jelas.
Iman juga adalah keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan lainnya.
Iman juga dapat diartikan sebagai ketetapan hati, keteguhan batin, dan keseimbangan batin. Semakin kuat iman seorang manusia, dia akan menjadi pribadi yang lebih kokoh.
Iman kepada Allah merupakan rukun iman pertama. Kepercayaan atas keberadaan Allah, sebagai zat yang melebihi segala makhluk-Nya, mengangkat derajat seseorang yang membuat hatinya lapang karena batin orang yang beriman adalah samudera tak bertepi dan cakrawala tak berbatas.
Namun demikian, tingkat keimanan seorang manusia kepada Allah itu berbeda-beda. Kita berada pada posisi yang mana? Mengutip pendapat Syekh M Nawawi Banten menyebut lima tingkat keimanan anak Adam.
Ia menjelaskan secara rinci sebagai berikut ini:
مراتب الإيمان خمسة
Artinya, “Derajat keimanan ada lima,” (Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).
Pertama, iman taklid.
Keimanan ini didasarkan pada ucapan orang lain (ulama biasanya) tanpa memahami dalilnya. Keimanan orang ini sah-sah saja meski ia terbilang bermaksiat karena meninggalkan upaya pencarian dalil sendiri bila ia termasuk orang yang dalam kategori mampu melakukan pencarian dalil.
Kedua, iman ilmu atau ilmul yaqin.
Keimanan ini didasarkan pada pemahaman aqidah berikut dalil-dalilnya. “Orang dengan kategori keimanan pertama dan kedua terhijab dari zat Allah,” (Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).
Ketiga, iman ‘iyan atau ainul yaqin.
Dengan keimanan ini seseorang mengetahui Allah (makrifatullah) dengan jalan pengawasan batin. Dengan keimanan ini, Allah tidak ghaib sekejap pun dari mata batinnya. Bahkan “gerak-gerik” Allah selalu hadir di dalam batinnya seakan ia memandang-Nya. Ini maqam muraqabah.
Keempat, iman haq atau haqqul yaqin.
Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah melalui batinnya. Ini yang dibilang oleh para ulama bahwa “arif (orang dengan derajat makrifat) memandang Tuhannya pada segala sesuatu.” Ini maqam musyahadah.
“Orang dengan kategori keimanan ini terhijab dari makhluk Allah,” (Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).
Dengan demikian, yang tampak padanya hanya Allah belaka yang lain adalah perwujudan dari dzat Allah Swt di alam nyatanya.
Kelima, iman hakikat.
Dengan keimanan ini, orang menjadi lenyap karena Allah dan dimabuk oleh cinta kepada-Nya. Ia tidak menyaksikan apapun selain Allah. Bahkan ia sendiri tidak menyaksikan dirinya.
Dirinya Seperti tenggelam di laut, ia tidak melihat adanya pantai. Orang ini berada di maqam fana. Sesungguhnya, keimanan dua kategori pertama dapat diupayakan (wilayah ikhtiar manusia). Oleh karena itu, seseorang wajib mendalami keimanan melalui pencarian dalil dan wajib mempelajari sedapat mungkin sifat-sifat Allah.
Sementara keimanan pada tingkatan berikutnya merupakan laduni, wahbi, atau anugerah Ilahi yang tidak bisa diikhtiarkan karena didasarkan pada kehendak Allah.
والواجب على الشخص أحد القسمين الأولين أما الثلاثة الآخر فعلوم ربانية يخص بها من يشاء من عباده
Artinya, “Seseorang wajib berada di dua level pertama. Sedangkan tiga level setelah itu adalah ilmu rabbani [anugerah ilahi] yang Allah berikan secara khusus kepada sejumlah hamba-Nya yang dikehendaki,”
Selain lima tingkatan itu, Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam-nya menyatakan ada tingkat keimanan maqam baqa.
Dengan demikian keimanan seorang manusia kepada Allah terdapat enam tingkatan.
Keenam, iman pada tingkat maqam baqa.
Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah dan makhluk-Nya sekaligus tanpa terkecoh. Dengan keimanan ini, seseorang memandang dua entitas berbeda, yaitu Allah sebagai wujud hakiki dan makhluk-Nya sebagai wujud majazi.
Tingkatan keimanan keenam ini yang disebut juga maqam akmal atau maqam lebih sempurna karena ia tetap menjaga hubungan dengan alam, manusia, hewan, selain menjaga hubungan dengan Allah.
وقد قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه لعائشة رضي الله عنها لما نزلت براءتها من الإفك على لسان رسول الله صلى الله عليه و سلم : يا عائشة اشكري رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت : والله لا أشكر إلا الله دلها أبو بكر رضي الله عنه على المقام الأكمل مقام البقاء المقتضي لإثبات الآثار وقد قال الله تعالى أن اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ. وقال صلى الله عليه و سلم لا يشكر الله من لا يشكر الناس. وكانت هي في ذلك الوقت مصطلمة عن شاهدها غائبة عن الآثار فلم تشهد إلا الواحد القهار
Artinya, “Sahabat Abu Bakar al-Ṣiddîq ra memerintahkan Aisyah ra ketika turun ayat pembebasannya dari fitnah melalui lisan Rasulullah, ‘Wahai A‘isyah, sampaikan ucapan terima kasih kepada Rasulullah!” “Demi Allah, aku tidak akan berterima kasih kecuali kepada Allah,’ jawab Aisyah ra. Sahabat Abu Bakar al-Ṣiddîq ra lalu menunjukinya dengan maqam yang lebih sempurna, yaitu maqam baqa yang menuntut ketetapan eksistensi ciptaan-Nya.
Allah berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
wa washshainal-insâna biwâlidaîh, ḫamalat-hu ummuhû wahnan ‘alâ wahniw wa fishâluhû fî ‘âmaini anisykur lî wa liwâlidaîk, ilayyal-mashîr
Artinya: Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,)
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya dan mewujudkan keinginannya.
Pada ayat-ayat lain, Allah juga memerintahkan yang demikian, firman-Nya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. (al-Isra’/17: 23).
Hal-hal yang menyebabkan seorang anak diperintahkan berbuat baik kepada ibu adalah:
1. Ibu mengandung seorang anak sampai ia dilahirkan. Selama masa mengandung itu, ibu menahan dengan sabar penderitaan yang cukup berat, mulai pada bulan-bulan pertama, kemudian kandungan itu semakin lama semakin berat, dan ibu semakin lemah, sampai ia melahirkan. Kekuatannya baru pulih setelah habis masa nifas.
2. Ibu menyusui anaknya sampai usia dua tahun. Banyak penderitaan dan kesukaran yang dialami ibu dalam masa menyusukan anaknya. Hanya Allah yang mengetahui segala penderitaan itu.
Dalam ayat ini yang disebutkan hanya alasan mengapa seorang anak harus taat dan berbuat baik kepada ibunya, tidak disebutkan apa sebabnya seorang anak harus taat dan berbuat baik kepada bapaknya.
Hal ini menunjukkan bahwa kesukaran dan penderitaan ibu dalam mengandung, memelihara, dan mendidik anaknya jauh lebih berat bila dibandingkan dengan penderitaan yang dialami bapak dalam memelihara anaknya.
Penderitaan itu tidak hanya berupa pengorbanan sebagian dari waktu hidupnya untuk memelihara anaknya, tetapi juga penderitaan jasmani dan rohani.
Seorang ibu juga menyediakan zat-zat penting dalam tubuhnya untuk makanan anaknya selama anaknya masih berupa janin di dalam kandungan.
Sesudah lahir ke dunia, sang anak itu lalu disusukannya dalam masa dua tahun (yang utama).
Air susu ibu (ASI) juga terdiri dari zat-zat penting dalam darah ibu, yang disuguhkan dengan kasih sayang untuk dihisap oleh anaknya. Dalam ASI ini terdapat segala macam zat yang diperlukan untuk pertumbuhan jasmani dan rohani anak, dan untuk mencegah segala macam penyakit.
Zat-zat ini tidak terdapat pada susu sapi. Oleh sebab itu, susu sapi dan yang sejenisnya tidak akan sama mutunya dengan ASI.
Segala macam susu bubuk atau susu kaleng tidak ada yang sama mutunya dengan ASI. Seorang ibu sangat dihimbau untuk menyusui anaknya dengan ASI.
Janganlah ia menggantinya dengan susu bubuk, kecuali dalam situasi yang sangat memaksa. Mendapatkan ASI dari ibunya adalah hak anak, dan menyusukan anak adalah suatu kewajiban yang telah dibebankan Allah kepada ibunya.
Dalam ayat ini, Allah hanya menyebutkan sebab-sebab manusia harus taat dan berbuat baik kepada ibunya. Nabi saw sendiri memerintahkan agar seorang anak lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibunya daripada kepada bapaknya, sebagaimana diterangkan dalam hadis:
Dari Bahz bin hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata, “Aku bertanya ya Rasulullah, kepada siapakah aku wajib berbakti?” Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu.” Aku bertanya, “Kemudian kepada siapa?” Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu.” Aku bertanya, “Kemudian kepada siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu.” Aku bertanya, “Kemudian kepada siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Kepada bapakmu. Kemudian kepada kerabat yang lebih dekat, kemudian kerabat yang lebih dekat.” (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Adapun tentang lamanya menyusukan anak, Al-Qur’an memerintahkan agar seorang ibu menyusukan anaknya paling lama dua tahun, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat ini, dengan firman-Nya, “dan menyapihnya dalam masa dua tahun.”
Dalam ayat lain dan akan kita bahas di materi yang lebih relefan. Kita kembali pada fokus keimanan seperti sabda Rasulullah saw bersabda, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah kalau tidak berterima kasih kepada orang lain (ibu dan ayah dan selain keduanya).”
Tentu saja ketika itu Siti Aisyah sedang tercabut dari penglihatannya dan lenyap dari ciptaan-Nya sehingga ia hanya menyaksikan Allah yang maha esa dan maha perkasa.”
Kutipan dari Al-Hikam ini menunjukkan tingkatan keimanan keenam, yaitu maqam baqa. Pada maqam ini, seseorang yang semakin tenggelam dalam fana justru bertambah baqa. Semakin mabuk cinta kepada Allah, orang ini semakin sadar.
Semakin mengakui keesaan Allah, orang ini bertambah adab kepada makhluk-Nya. Semua tingkat keimanan itu mulia dan baik adanya.
Meski derajat keimanan itu berbeda-beda, kita sebagai manusia biasa tidak perlu menilai tingkat keimanan orang lain karena semua mendapatkan petunjuk dari sumber yang sama, yaitu Allah.
Dapat disimpulkan bahwa iman sebagai kombinasi dari keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Imam al-Asy’ari menegaskan bahwa iman mencakup tiga komponen utama yaitu keyakinan di dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan amal perbuatan.
Ini menegaskan bahwa iman bukan hanya tentang apa yang ada di dalam hati, tetapi juga harus terlihat dalam tindakan nyata seorang Muslim. Iman juga tidak berhenti pada pengakuan lisan saja, melainkan perkataan yang menembus dalam jiwa yang menggerakkan anggotanya ringan menjalakan segala perintahnya dan berat atau terhindar dari melaksanakan yang dilarangnya. Semoga Bermanfaat… (*)






