OKU RAYASumsel

Tuntunan Lengkap Sholat Istisqo’

×

Tuntunan Lengkap Sholat Istisqo’

Sebarkan artikel ini

Tuntunan Lengkap Sholat Istisqo’

Oleh Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd.

Istisqo’ secara bahasa adalah meminta turun hujan. Secara istilah yaitu meminta kepada Allah SWT agar menurunkan hujan dengan cara tertentu ketika di butuhkan hamba-Nya.

Hukum shalat Istisqo adalah sunnah muakkadah bagi yang terkena musibah kelangkaan air untuk minum dan kebutuhan lainnya.

Dan di anjurkan bagi kaum muslimin lainnya yang masih mendapatkan air, sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Shalat sunnah istisqa dan khutbah setelah Shalat Istisqa di syariatkan dalam agama Islam sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah.

Shalat ini di anjurkan ketika masyarakat mengalami musim panas yang berkepanjangan sehingga pasokan air berkurang. Allah swt berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

Artinya, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sungguh Dia adalah Maha Pengampun–, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu,’” (Surat Nuh ayat 10-12).

Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengutip hadits Rasulullah saw perihal praktik Shalat Istisqa dalam karyanya, Bulughul Maram, sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Artinya, “Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, Nabi Muhammad saw keluar rumah dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah.

Lalu ia shalat dua rakaat seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini.” (HR Imam Lima dan dinilai shahih oleh At-Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban)

Adapun khutbah Shalat Istisqa sedikit berbeda dari khutbah pada umumnya. Khutbah istisqa di buka dengan istighfar, bukan dengan takbir sebagaimana keterangan berikut ini:

ثم يخطب الإمام خطبتين بعدهما الركعتين، يستغفر الله الكريم في افتتاح الأولى تسعا و في افتتاح الثانية سبعا وصيغة الاستغفار أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Artinya, “Kemudian imam berkhutbah dua kali setelah shalat dua rakaat, lalu ia beristighfar sebanyak sembilan kali pada pembukaan khutbah pertama,

dan sebanyak tujuh kali pada pembukaan khutbah kedua. Adapun lafal istighfarnya adalah ‘Astaghfirullahal azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi,’” (KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Maktabah Al-As‘adiyah: 2014 M/1434 H], cetakan pertama, halaman 63).

Dari sini dapat di buat rangkaian susunan pelaksanaan shalat dan khutbah istisqa sebagai berikut:

Pertama, pemerintah mengumumkan pelaksanaan Shalat Istisqa selama 4 hari ke depan.

Kedua, masyarakat di sunnahkan berpuasa bersama selama 4 hari. Selama berpuasa pada tiga hari pertama, pemerintah dan masyarakat di anjurkan untuk bertobat, bersedekah, berhenti dari kezaliman/mengembalikan hak-hak orang lain yang telah di rampas, dan mengadakan rekonsiliasi atas sengketa dan konflik dengan pihak lain.

Ketiga, pada hari keempat, masyarakat kumpul bersama untuk melakukan Shalat Istisqa sebanyak dua rakaat.

Masyarakat di anjurkan untuk mengenakan pakaian biasa, bukan pakaian mewah. Masyarakat juga dianjurkan untuk keluar rumah dengan penuh kerendahan hati dan menunjukkan kefakiran kepada Allah SWT sebagai penguasa hujan.

Masyarakat di harapkan semua berkumpul bersama, baik orang dewasa, lansia, dan juga anak-anak.

Masyarakat juga di anjurkan untuk membawa hewan ternak karena yang berkebutuhan atas air adalah semua makhluk hidup, bukan hanya manusia.
Keempat, setelah shalat dua rakaat dengan bacaan lantang/jahar, khatib naik ke mimbar untuk berkhutbah sebanyak dua kali sebagaimana biasa.

Hanya saja, pada pembukaan khutbah pertama, khatib di sunnahkan membaca istighfar sebanyak 9 kali.

Pada pembukaan khutbah kedua, khatib membaca istighfar sebanyak 7 kali.

Lafal istighfar pembukaan khutbah Shalat Istisqa adalah sebagai berikut:

أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullahal azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi Artinya, “Aku meminta ampun kepada Allah yang maha agung. Tiada tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Tegak. Aku bertobat kepada-Nya.”

Kelima, khatib disunnahkan memutar selendang atau serban yang diselempangkan di bahunya sehingga sisi serban yang posisi di atas menjadi di bawah, kemudian memindahkannya ke bahu yang lain.

Praktik pemutaran dan pemindahan serban merupakan bentuk tafa’ul, sejenis doa agar keadaan berubah dari paceklik berkepanjangan menjadi turunnya air hujan.

Keenam, khatib di sunnahkan memperbanyak doa baik sir dan jahar. Ketika khatib membaca dia secara lantang, maka jamaah Shalat Istisqa mengamininya.

Dalam membaca doa, khatib juga dianjurkan untuk bertawasul Ketujuh, khatib disunnahkan memperbanyak membaca istighfar.

Pada prinsipnya, syarat dan rukun khutbah Shalat Istisqa sama saja dengan syarat dan rukun khutbah Jumat dan Shalat Id. Artinya, sejauh syarat dan rukun khutbahnya terpenuhi, maka khutbah Shalat Istisqa tetap sah. Wallahu a’lam.

Waktu Istisqo

Jika hanya doa, maka dapat di lakukan kapan saja, dan lebih baik jika dilakukan saat khutbah Jum’at.

Jika doa dan shalat maka dapat di lakukan kapan saja, tetapi jangan dilakukan pada waktu yang di makruhkan shalat.

Waktu yang utama adalah pada waktu Dhuha sampai Zhuhur sebagaimana shalat Id.

Tempat Shalat Istisqo

Shalat Istisqo  dapat di lakukan di masjid atau di luar masjid

Adab sebelum shalat Istisqo

Memperbanyak  istighfar dan taubat di hari-hari sebelumnya

Menghindari perbuatan zhalim dan mengembalikan hak-hak orang yang terzhalimi

Di dahului dengan berpuasa tiga hari

Hari pelaksanaan di anjurkan puasa.

Memperbanyak sedekah.

Sebelum pelaksanaan, di sunnahkan melakukan thaharah seperti, mandi, bersiwak, menjauhkan perhiasan dan wangi-wangian, memakai baju yang sederhana.

Berangkat ke tempat dalam keadaan tawadhu, khusyu’, berharap pada Allah.

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqo

Shalat dua rakaat, sebagaimana shalat ‘Ied, rakaat pertama takbir tujuh kali dan kedua lima kali.

Ibnu Abbas berkata:” lakukan pada Istisqo seperti pada waktu ‘Ied”.

Rakaat pertama di sunnahkan membaca surat Al-A’la dan rakaat kedua surat Al-Ghasiyah

Setelah shalat, di teruskan dengan khutbah dua kali.

Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat dua tangan.

Di anjurkan doa Istisqo di bacakan oleh Ahli Bait dan orang shalih

Bertawasul dengan amal shalih

Khusus untuk kaum lelaki di sunnahkan memindahkan dan membalikkan selendang atau sorbannya.

Di anjurkan imam keluar bersama masyarakat.

Di anjurkan membawa binatang ternak.

Doa Istisqo :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا, اللَّهُمَّ اسْقِنا غَيْثاً مُغِيثاً هَنِيئاً مَرِيئاً غَدَقاً مُجَلِّلاً  سَحّاً عامّاً طَبَقاً دَائِماً؛ اللَّهُمَّ على الظِّرَابِ وَمَنابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الأوْدِيَةِ؛ اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفّاراً، فأرْسلِ السَّماءَ عَلَيْنا مِدْرَاراً؛ اللَّهُمَّ اسْقِنا الغَيْثَ وَلا تَجْعَلْنا مِنَ القَانِطِينَ. اللهم إنَّ بِالعِبادِ والبِلادِ والبهائم  والخلق من اللأواء والجهد والضنك ما لا نشكوه إلا إليك.  اللَّهُمَّ أنْبِتْ لَنا الزَّرْعَ، وَأدِرَّ لَنا الضَّرْعَ، وَاسْقِنا مِنْ بَرَكاتِ السَّماءِ، وأنْبِتْ لَنا مِنْ بَرَكاتِ الأرْضِ؛ اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الجَهْدَ وَالجُوعَ والعُرْيَ، واكْشِفْ عَنَّا مِنَ البَلاءِ ما لا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ

اللهم اسقنا الغيثَ وانصرنا على الأعداء. اللهم أنت أمرتنا بدعائك ووعدتنا إجابتك، وقد دعوناك كما أمرتنا فأجبنا كما وعدتنا، اللهم امنن علينا بمغفرة ما قارفنا،  وإجابتك في سقيانا، وسعة رزقنا.

 

Baca juga :

Khutbah Sholat Istisqo’

Salat Minta Hujan Di gelar Pemkab OKU, Simak Tanggalnya

 

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News