Usaha Maksimal Takkan Merubah Takdir
Oleh : Ust. Ahmad Yasin
Pada Senin malam, 2 September 2024, dalam kajian syufi di mushola Aryo Blango lubuk Rukam yang diasuh Ust. Ahmad Yasin masuk pada Materi ketiga.
Materi yang membicarakan segala sesuatu, namun tetap ada campur tangan kekuasaan Tuhan yang maha Esa, Alloh swt.
Kajian ini memberi harapan agar para pelaku usaha maksimal baik dalam peribadatan maupun pekerjaan, social maupun individu, agar tidak lekas putus asa saat menemukan ketidaksesuaian hasil dari yang diharapkan atas upaya maksimalnya.
Mau tau komentar sufi dengan berbagai argument yang bersumbber dari pengalaman ritualnya ?… mari simak langkahnya dibawah ini
“USAHA MAKSIMAL KITA TAK AKAN MERUBAH KEKUATAN TAQDIR”
سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ
“Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai qadar-qadar.”
Syarah
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Hikam Pasal 2, himmah adalah sebuah tarikan ke atas, keinginan menuju Allah, merupakan lawan kata darisyahwat.
Adapun pengertian sawaabiqu (dari akar kata sabaqa) bermakna kekuatan atau perlombaan-satu akar kata dengan istilah musabaqah.
Pengertiannya adalah bahwa sekalipun seseorang memiliki himmah yang sangat kuat, namun pencapaian dalam bersuluk itu sudah ditentukan kadarnya, porsinya, dan waktunya.
Segala sesuatu sudah ditentukan takdirnya. Bersuluk itu pada intinya adalah berserah diri kepada Allah; pencapaian dalam jalan suluk tidak dapat dipercepat maupun diperlambat.
kekeramatan atau kejadian-kejadian yang luar biasa dari seorang wali itu, tidak dapat menembus keluar dari takdir, maka segala apa yang terjadi semata-mata hanya dengan takdir Alloh.
Hikmah ini menjadi ta’lil atau sebab dari hikmah sebelumnya (Iroodatuka tajriid) seakan akan Mushonnif berkata: Hai murid, keinginan/himmahmu pada sesuatu, itu tidak ada gunanya, karena himmah yang keras/kuat itu tidak bisa menjadikan apa-apa seperti yang kau inginkan, apabila tidak ada dan bersamaan dengan taqdir dari Allah.
Jadi hikmah ini (Sawa-biqul himam) mengandung arti menentramkan hati murid dari keinginannya yang sangat.
SAWAA-BIQUL HIMAM (keinginan yang kuat): apabila keluar dari orang-orang sholih/walinya Alloh itu disebut: Karomah.
Apabila keluar dari orang fasiq disebut istidroj/ penghinaan dari Alloh.
Firman Allah subhanahu wata’ala : “Dan tidaklah kamu berkehendak, kecuali apa yang dikehendaki Alloh Tuhan yang mengatur alam semesta.” [At-Takwir 29].
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ ٣٠
wa mâ tasyâ’ûna illâ ay yasyâ’allâh, innallâha kâna ‘alîman ḫakîmâ
Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Maksutnya dari uraian diatas adalah kebanggaan yang salah jika merasa hasil upaya adalah buah dari upaya maksimalnya, juga salah kalau kita kemudian sedekit melemah saat hasil kurang sesuai dengan upaya kita. Semoga bisa bermanfaat. (*)






