Opini

Pengharagaan Guru dalam Pandangan Islam

×

Pengharagaan Guru dalam Pandangan Islam

Sebarkan artikel ini
INTI BUDAYA LITERASI
Persembahan Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNBARA, PENGURUS NU DAN PENYULUH AGAMA ISLAM OKU

Pengharagaan Guru dalam pandangan Islam

Persembahan Ustadz Yasin

Dari Beberapa hari yang lalu tidak sedikit masyarakat yang mencari dan bertanya “Hari Guru tanggal berapa?” di mesin pencarian.

Sementara Pertanyaan google ini umumnya muncul menjelang periode peringatannya setiap tahun.
Sebagai negara yang menghargai peran penting para pendidik, Indonesia menetapkan satu tanggal khusus untuk memperingati Hari Guru.

Peringatan ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994.Dengan mengetahui tanggal peringatan Hari Guru Nasional, folowers dapat mempersiapkan dengan baik ucapan, kegiatan, atau bentuk apresiasi lainnya terhadap guru.

Penghargaan sederhana sekalipun tetap dapat memberikan makna besar bagi para guru.

Belajar memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan para pelajar. Mereka yang benar-benar bersungguh-sungguh untuk terus belajar ketika berada di masa pendidikan, memiliki banyak kemungkinan untuk bisa paham dan menguasai materi-materi yang mereka pelajari.

Banyak kisah-kisah hebat para ulama tentang kegigihannya dalam belajar saat duduk di bangku pendidikan. Dengan kesungguhan dan ketekunannya dalam belajar, akhirnya bisa menjadikan dirinya ulama hebat yang sukses dalam dunia keilmuan.

Bahkan tidak sedikit juga yang melahirkan banyak karya-karya yang bisa dinikmati dan dibaca hingga saat ini. Namun demikian, sekadar mencukupkan “belajar” pada dasarnya tidak akan cukup jika tidak disertai dengan adab memuliakan guru-gurunya.

Seorang murid sudah seharusnya tidak tertipu dengan kegigihan dan ketekunannya dalam belajar, hingga lupa untuk memuliakan gurunya.

Karena itu, para ulama sejak zaman dahulu selalu berpesan perihal pentingnya memuliakan guru.

Salah satu pesan itu sebagaimana dicatat oleh Imam Burhanuddin az-Zarnuji (wafat 591 H), dalam salah satu karyanya ia mengatakan bahwa seorang pelajar tidak pernah mendapatkan ilmu jika tidak memuliakan ilmu, orang yang berilmu, dan guru-gurunya,

Menurut Imam al-Ghazali
اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ

Artinya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Dikatakan, tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali disebabkan tidak hormat.” (Imam az-Zarnuji, Ta’limul Muta’allim fi Thariqit Ta’allum, [Daru Ibn Katsir: 2014], halaman 55).

Memuliakan guru merupakan kewajiban setiap pelajar. Siapa saja yang pernah belajar kepada orang lain tentang ilmu pengetahuan, maka wajib baginya untuk memuliakan guru tersebut.

Memuliakan guru merupakan etika dan teladan para ulama terdahulu. Mereka memberikan contoh yang sangat luar biasa perihal bagaimana seorang murid memuliakan gurunya.

Merujuk pada kitab Ta’limul Muta’allim, Imam Burhanuddin az-Zarnuji pernah bercerita bahwa di negara Bukhara terdapat seorang ulama besar yang duduk di suatu majlis ilmu.

Di tengah-tengah pengajian itu, dia terkadang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
Tentu, perbuatan itu membuat para jamaah yang lain heran dan penuh tanda tanya.

Namun tanpa disangka, ia menjawab: “Sungguh anak guruku sedang bermain bersama anak-anak sebayanya di halaman, dan terkadang anak guruku mendekat ke pintu masjid. Oleh karena itu, setiap kali aku melihatnya, aku berdiri untuk memuliakan guruku.” (Imam az-Zarnuji, 56).

Memuliakan guru merupakan bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri, dan orang yang tidak memuliakan gurunya, sama halnya dia tidak memuliakan ilmu yang sedang ia tekuni, dan siapa saja yang tidak memuliakan ilmunya, maka sampai kapan pun ia tidak akan mendapatkan ilmu.

Hal ini sebagaimana nasihat yang disampaikan oleh Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, dalam salah satu kitabnya ia mengatakan:

كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضَا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ

Artinya, “Jadilah kamu orang yang memuliakan serta mengagungkan pada gurumu. Karena sungguh, memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan memuliakan orang yang berilmu. Dan, jadilah kamu orang yang yakin pada kapasitas dan keunggulannya pada orang yang ada pada masanya.” (Syekh Syatha, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 170).

Beberapa pesan dan nasihat para ulama di atas, merupakan cara yang harus ditiru oleh semua orang ketika hendak mendapatkan ilmu dan keberkahan yang ada di dalamnya.

Dengan memuliakan gurunya, maka ia tidak hanya akan mendapatkan ilmu saja, namun juga akan mendapatkan keberkahan dan kemanfaatan, begitu juga sebaliknya, orang yang tidak memuliakan gurunya maka akan sulit untuk mendapatkan ilmu dan keberkahannya. Itulah pentingnya seorang pelajar memuliakan gurunya.

Memuliakan guru merupakan salah satu jalan kesuksesan setiap pelajar. Karena itu, tidak heran jika Sayyidina Ali karramalahu wajhah, mengatakan bahwa dirinya adalah budak bagi orang-orang yang pernah mengajarkan ilmu kepadanya, sekalipun hanya satu huruf saja,

قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا إنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ

Artinya, “Sayyidina Ali kw berkata: Saya adalah hamba sahaya bagi orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya jika ingin menjual, dan (juga) terserah jika ingin tetap menjadi hamba sahaya.” (Abu Sa’id al-Khadimi, Bariqah Mahmudiyah, [Mathba’ah al-Halabi: 1348], juz V, halaman 185).

Itulah beberapa pesan dan nasihat para ulama kepada semua pelajar perihal pentingnya memuliakan seorang guru. Ujar Penyuluh Agama Islam Kementrian Agama Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengangkat tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”.

Tema ini menekankan bahwa guru tidak hanya berperan dalam mencerdaskan anak bangsa, tapi juga ikut menjaga dan memperkuat keutuhan negara.

Di sisi lain, Kementerian Agama (Kemenag) merilis tema “Merawat Semesta dengan Cinta” untuk peringatan Hari Guru Nasional tahun ini.

Melalui tema tersebut, peran guru digambarkan sebagai sosok yang menjaga keseimbangan antara ilmu dan iman, antara pengetahuan dengan kebijaksanaan.

Selamat bertugas dan mengerjakan ibadah yang mulia pada guru yang Tulus dan Ikhlas dalam menjalankan Profesinya, semoga amal ibadah kita semua menjadi bekal di akhirat kelak. Aamiin…. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News