Lailatul Qodar dengan Berbagai Sudut Dimensi
Persembahan Ustadz Yasin
Sejak malam dua puluh satu bulan romadlon selalu di bahas begitu misterinya malam berjuta keberkahan didalamnya, sering kita sebut dengan nama besar lailatul qodar.
Lailatul Qadar Memang merupakan salah satu malam paling istimewa dalam ajaran Islam yang memiliki kedudukan spiritual sangat tinggi bagi umat Islam.
Keistimewaan malam tersebut disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Qadr
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
yang berarti “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar (QS. Al-Qadr : 3).
Ayat ini menyatakan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan Pernyataan ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai spiritual yang luar biasa dibandingkan dengan ibadah pada waktu lainnya.
Dalam sejarah Islam, Lailatul Qadar juga memiliki makna yang sangat penting karena berkaitan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Peristiwa tersebut menandai dimulainya proses pewahyuan Al-Qur’an yang kemudian menjadi pedoman utama bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, Lailatul Qadar tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dimensi historis dan teologis yang mendalam dalam tradisi Islam.
Berbagai hadis Nabi Muhammad ﷺ juga menekankan pentingnya mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda agar umat Islam mencari malam Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Anjuran tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki posisi sentral dalam amalan ibadah umat Islam selama bulan suci Ramadhan.
Meskipun demikian, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak disebutkan secara spesifik dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Sebagian ulama berpendapat bahwa malam tersebut kemungkinan besar terjadi pada malam ke-27 Ramadhan, sementara ulama lain menyatakan bahwa malam tersebut dapat terjadi pada malam-malam ganjil dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan (Ibnu Kathir, 2003).
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki dimensi misteri yang menjadi bagian dari hikmah ilahi.
Dalam perkembangan kajian akademik Islam, Lailatul Qadar tidak hanya dipahami sebagai fenomena teologis, tetapi juga sebagai fenomena sosial dan budaya.
Berbagai masyarakat Muslim di dunia memiliki tradisi yang berkaitan dengan peringatan malam tersebut, seperti tradisi Selikuran di Jawa, Maleman di Demak, serta Dile Jojor di Lombok (Nikmatullah et al., 2023).
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual Lailatul Qadar telah diinternalisasikan dalam kehidupan sosial masyarakat muslim.
Selain itu, kajian modern mengenai spiritualitas Ramadhan menunjukkan bahwa praktik ibadah pada bulan Ramadhan, termasuk pencarian Lailatul Qadar, memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan identitas religius umat Islam (Buitelaar, 2015; Schielke, 2009).
Oleh karena itu, kajian mengenai Lailatul Qadar perlu dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai perspektif keilmuan, termasuk tafsir Al-Qur’an, teologi Islam, serta antropologi agama.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep Lailatul Qadar secara mendalam melalui pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan kajian tafsir, teologi, dan studi sosial budaya Islam.
Berdasarkan latar belakang dan gambaran tulisan di atas, penulisan fokus pada beberapa pertanyaan utama sebagai berikut:
Bagaimana konsep Lailatul Qadar dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis? Bagaimana para mufassir klasik dan modern memaknai makna Lailatul Qadar? Apa saja tanda-tanda Lailatul Qadar menurut literatur Islam? Bagaimana amalan ibadah pada malam Lailatul Qadar yang dianjurkan dalam ajaran Islam? Bagaimana konsep Lailatul Qadar diimplementasikan dalam tradisi budaya masyarakat Muslim?
Kajian mengenai Lailatul Qadar telah menjadi perhatian para ulama sejak masa awal perkembangan Islam.
Dalam literatur tafsir klasik, pembahasan mengenai Lailatul Qadar biasanya dikaitkan dengan penafsiran Surat Al-Qadr dan Surat Ad-Dukhan.
Mufassir seperti Al-Tabari, Al-Qurtubi, dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa malam tersebut merupakan malam turunnya Al-Qur’an yang memiliki keberkahan luar biasa (Ibnu Kathir, 2003).
Menurut Ibnu Katsir (2003), Lailatul Qadar adalah malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia sebelum kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama masa kenabian.
Penafsiran ini menjadi salah satu pandangan yang paling banyak diterima dalam tradisi tafsir klasik.
Dalam kajian tafsir kontemporer, Shihab (2010) menjelaskan bahwa kata qadar dalam istilah Lailatul Qadar memiliki beberapa makna, antara lain kemuliaan, penetapan takdir, serta kesempitan karena banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut.
Penafsiran ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki dimensi kosmologis yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dunia dan alam malaikat.
Selain kajian tafsir, beberapa Penulisan modern juga mengkaji dimensi sosial dan budaya dari praktik ibadah pada bulan Ramadhan.
Schielke (2009) menunjukkan bahwa pengalaman spiritual selama Ramadhan sering kali dikeluarkan oleh proses refleksi moral dan pembentukan identitas religius dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.
Penulisan lain oleh Buitelaar (2015) menyoroti bagaimana praktik ibadah Ramadhan, termasuk pencarian Lailatul Qadar, membentuk pengalaman spiritual yang bersifat pribadi sekaligus kolektif dalam masyarakat Muslim modern.
Sementara itu, Penulisan Nikmatullah dkk. (2023) mengkaji tradisi Dile Jojor di Lombok yang berkaitan dengan peringatan Lailatul Qadar.
Penulisan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi media untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
Meskipun berbagai Penulisan telah membahas Lailatul Qadar dari berbagai perspektif, masih terdapat kebutuhan untuk mengkaji fenomena ini secara integratif dengan menggabungkan perspektif tafsir klasik, tafsir modern, dan kajian antropologi agama. Penulisan ini menggunakan tiga pendekatan teoritis utama, yaitu tafsir tematik Al-Qur’an, teologi takdir dalam Islam, serta antropologi agama.
Teori Tafsir Tematik (Maudhu’i)
Pendekatan tafsir tematik digunakan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Lailatul Qadar secara komprehensif. Metode ini tekanan pengumpulan ayat-ayat yang memiliki tema yang sama untuk dianalisis secara sistematis (Shihab, 2010).
Melalui pendekatan ini, konsep Lailatul Qadar dapat dipahami tidak hanya dari Surat Al-Qadr, tetapi juga dari ayat lain yang berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan.
Teologi Takdir dalam Islam
Konsep qadar dalam teologi Islam berkaitan dengan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi berdasarkan ketetapan Allah. Dalam konteks Lailatul Qadar, istilah qadar dipahami sebagai malam yang menetapkan berbagai urusan manusia oleh Allah (Shihab, 2010).
Pemahaman ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki dimensi teologis yang berkaitan dengan hubungan antara kehendak ilahi dan kehidupan manusia.
Perspektif Antropologi Agama
Dalam perspektif antropologi agama, praktik keagamaan seringkali mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal.
Tradisi yang berkembang di masyarakat Muslim dalam menyambut Lailatul Qadar merupakan bentuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam konteks budaya lokal (Nikmatullah et al., 2023).
Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library Research). Pendekatan ini dipilih karena kajian mengenai Lailatul Qadar berkaitan dengan analisis teks keagamaan serta interpretasi para ulama yang terdapat dalam berbagai literatur klasik maupun kontemporer.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Terjemahan Kemenag RI:
Artinya: “ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kejayaan .” (QS.Al-Qadr : 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an. Dalam tafsir klasik, sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari L auh Mahfuz ke langit dunia pada malam tersebut, kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama masa kenabian (Ibnu Kathir, 2003).
Ayat kedua berbunyi:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Terjemahan Kemenag RI:
Artinya: “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS.Al-Qadr : 2)
Menurut para mufassir, bentuk pertanyaan dalam ayat ini bertujuan untuk menegaskan keagungan dan kemuliaan malam tersebut.
Selanjutnya pada ayat ketiga disebutkan:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Terjemahan Kemenag RI:
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr : 3)
Sebagian ulama menafsirkan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai yang lebih besar daripada ibadah selama seribu bulan, atau sekitar delapan puluh tiga tahun (Shihab, 2010).
Ayat keempat menjelaskan:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Terjemahan Kemenag RI:
Artinya: “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr : 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh keberkahan karena turunnya malaikat membawa rahmat dan ketetapan Allah bagi manusia.
Ayat terakhir menyatakan:
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Terjemahan Kemenag RI:
Artinya:“Sejahteralah ( malam itu ) hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr : 5)
Menurut para mufassir, ayat ini menggambarkan suasana penuh kedamaian dan keberkahan yang berlangsung sepanjang malam tersebut.
Selain Surah Al-Qadr, konsep Lailatul Qadar juga dikaitkan dengan Surah Ad-Dukhan ayat 3:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Terjemahan Kemenag RI
Artinya: “ Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi. Sungguh, Kami-lah yang memberi peringatan.” ( QS. Ad-Dukhan : 3)
Banyak mufassir pertemuan “ laylatin mubārakah ” (malam yang diberkahi ) pada ayat ini dengan malam Lailatul Qadar yang disebut dalam Surah Al-Qadr (Al-Tabari, 2001; Al-Qurtubi, 2006; Shihab, 2002). Karena itu ayat ini sering dijadikan dalil tambahan dalam pembahasan tentang Lailatul Qadar dalam literatur tafsir.
Sebagian ulama menafsirkan bahwa ayat ini merujuk pada malam Lailatul Qadar yang terjadi pada bulan Ramadhan.
Komparasi Tafsir Ulama tentang Lailatul Qadar
Perbedaan penafsiran para ulama mengenai Lailatul Qadar menunjukkan kekayaan tradisi intelektual dalam Islam. Berikut tabel perbandingan beberapa pandangan mufassir.
| nomer | ulama | penafsiran | Sumber |
| Al-Tabari
| Malam turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke langit dunia
| Tafsir Al-Tabari
| |
| Ibn Kathir
| Malam penuh keberkahan yang lebih baik dari seribu bulan
| Ibn Katshir (2003)
| |
| Al-Qurtubi
| Malam penentuan takdir tahunan bagi manusia
| Tafsir Al-Qurtubi
| |
| Quraish Shihab
| Malam kemuliaan, malam penentuan takdir, dan malam penuh malaikat
| Al-Misbah Shihab (2010)
|
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan penekanan dalam penafsiran, para ulama sepakat mengenai keutamaan luar biasa malam tersebut dalam kehidupan spiritual umat Islam.
Analisis Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Hadis Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan beberapa tanda yang berkaitan dengan Lailatul Qadar. Di antara tanda-tanda yang sering disebutkan dalam sastra Islam adalah:
Malam terasa tenang dan penuh kedamaian.
Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan.
Tanda-tanda tersebut diriwayatkan dalam beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah. Namun demikian, para ulama menekankan bahwa tanda-tanda tersebut tidak dapat dijadikan sebagai kepastian mutlak mengenai terjadinya Lailatul Qadar. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam tersebut adalah agar umat Islam memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Amalan pada Malam Lailatul Qadar
Dalam tradisi Islam, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada malam Lailatul Qadar. Amalan tersebut antara lain:
- Shalat Malam (Qiyamul Lail)
Rasulullah ﷺ menyerukan umat Islam untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan shalat malam.
Dalam hadis disebutkan:
Artinya “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
- Membaca Al-Qur’an
Membaca dan memikirkan Al-Qur’an merupakan salah satu amalan utama pada malam tersebut karena Lailatul Qadar berkaitan dengan turunnya kitab suci tersebut.
- Berdoa
Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini diriwayatkan dalam hadis ketika Aisyah binti Abu Bakar bertanya kepada Muhammad tentang doa yang dibaca jika menemukan malam Lailatul Qadar, dan beliau mengajarkan doa tersebut (HR. Muhammad al-Bukhari, Muslim ibn al-Hajjaj, dan Al-Tirmidzi).
- I’tikaf
I’tikaf merupakan praktik berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Dimensi Sosial Budaya Lailatul Qadar
Selain memiliki dimensi teologis, Lailatul Qadar juga memiliki dimensi sosial budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat muslim. Di berbagai wilayah dunia Islam, malam tersebut diperingati melalui berbagai tradisi lokal yang mencerminkan integrasi antara nilai agama dan budaya masyarakat. Di Indonesia misalnya terdapat beberapa tradisi yang berkaitan dengan Lailatul Qadar, antara lain:
Selikuran di Jawa
Tradisi peringatan malam ke-21 Ramadhan yang dilakukan dengan kegiatan keagamaan dan doa bersama.
Maleman di Demak
Tradisi masyarakat Jawa yang melibatkan kegiatan ibadah dan pembagian makanan kepada masyarakat.
Dile Jojor di Lombok
Tradisi menyalakan obor yang melambangkan cahaya spiritual dalam menyambut Lailatul Qadar (Nikmatullah et al., 2023).
Tradisi Pencarian Lailatul Qadar di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat: Perspektif Antropologi Islam
Lailatul Qadar tidak hanya dipahami sebagai konsep teologis dalam Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga menjadi bagian dari praktik sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat Muslim.
Dalam konteks Indonesia, ekspresi budaya yang berkaitan dengan pencarian malam Lailatul Qadar dapat ditemukan di berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bagaimana ajaran Islam diinternalisasi dan dipraktikkan dalam konteks budaya lokal.
Secara umum, masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar memiliki tradisi keagamaan yang kuat dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Aktivitas keagamaan seperti qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, zikir, dan doa bersama dilakukan secara intensif di masjid maupun di rumah-rumah tokoh agama.
Praktik tersebut mencerminkan upaya kolektif masyarakat untuk memperoleh keberkahan malam Lailatul Qadar yang diyakini memiliki nilai ibadah lebih baik dari seribu bulan.
Tudang Sipulung dan Tradisi Kebersamaan Spiritual
Salah satu praktik sosial yang sering dijumpai dalam masyarakat Bugis dan Makassar adalah tradisi tudang sipulung, yaitu berkumpul bersama dalam suatu majelis untuk berdiskusi, berdoa, atau melakukan kegiatan keagamaan.
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, kegiatan ini sering dilakukan di masjid atau rumah tokoh agama dengan agenda membaca Al-Qur’an, zikir bersama, dan mendengarkan ceramah keagamaan.
Dalam perspektif antropologi Islam, tradisi ini dapat dipahami sebagai bentuk ritual kolektif yang memperkuat solidaritas sosial sekaligus memperdalam pengalaman spiritual masyarakat. Menurut Geertz (1968), praktik-praktik keagamaan dalam masyarakat Muslim sering kali berfungsi sebagai sarana untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan struktur sosial masyarakat.
Dengan demikian, tudang sipulung tidak hanya menjadi aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi media pembentukan identitas komunitas keagamaan.
Menghidupkan Masjid pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Di banyak desa di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Masyarakat secara aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti shalat tarawih, qiyamul lail, i’tikaf, dan tadarus Al-Qur’an hingga menjelang waktu sahur.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Studi mengenai praktik Ramadhan di berbagai komunitas Muslim menunjukkan bahwa aktivitas ibadah kolektif pada bulan tersebut memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman keagamaan yang bersifat komunal (Buitelaar, 2015).
Sahur Bersama dan Praktik Solidaritas Sosial
Di beberapa wilayah Mandar di Sulawesi Barat, terdapat tradisi sahur bersama di masjid pada malam-malam terakhir Ramadhan. Warga biasanya membawa makanan dari rumah untuk kemudian dimakan bersama setelah melaksanakan qiyamul lail.
Tradisi ini tidak hanya memiliki makna praktis, tetapi juga simbolik. Sahur bersama mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Indonesia.
Dalam kajian antropologi agama, praktik berbagi makanan dalam konteks ritual keagamaan sering dipahami sebagai mekanisme untuk memperkuat kohesi sosial dalam komunitas (Schielke, 2009).
Simbol Cahaya dan Penyambutan Malam Kemuliaan
Di beberapa kampung tua Bugis dan Mandar, masyarakat juga memiliki kebiasaan memperbanyak penerangan di sekitar masjid pada malam-malam terakhir Ramadhan. Lampu atau obor dinyalakan sebagai simbol penyambutan malam yang diyakini penuh keberkahan.
Simbol cahaya dalam tradisi keagamaan sering dikaitkan dengan konsep spiritualitas dan pencerahan. Dalam konteks Islam, cahaya sering digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan petunjuk ilahi dan keberkahan spiritual (Nasr, 2015).
Oleh karena itu, praktik simbolik tersebut dapat dipahami sebagai ekspresi budaya yang merefleksikan harapan masyarakat untuk memperoleh cahaya spiritual dari malam Lailatul Qadar.
Integrasi Nilai Islam dan Budaya Lokal
Tradisi-tradisi yang berkembang di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menunjukkan adanya proses integrasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal.
Fenomena ini sejalan dengan temuan berbagai Penulisan antropologi Islam yang menunjukkan bahwa praktik keagamaan umat Islam sering kali beradaptasi dengan konteks sosial dan budaya setempat (Ahmed, 2016).
Dalam kerangka tersebut, tradisi pencarian Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai bentuk okalisasi ajaran Islam ( lokalisasi Islam ) yang memungkinkan nilai-nilai spiritual Islam diterjemahkan ke dalam praktik budaya masyarakat.
Proses ini tidak mengubah esensi ajaran agama, namun justru memperkaya ekspresi keagamaan dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, tradisi masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam menyambut Lailatul Qadar menunjukkan bahwa pengalaman spiritual dalam Islam tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif.
Praktik-praktik budaya tersebut menjadi sarana untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat hubungan sosial dalam komunitas Muslim.
Perbandingan Tradisi Lailatul Qadar di Berbagai Wilayah Indonesia tergambar dalam table sederhana dibawah ini.
| no | wilayah | Tradisi | Makna antropologis |
| 1 | Jawa
| Selikuran
| Ritual kolektif masyarakat
|
| Lombok
| Dile Jojor
| Simbol cahaya spiritual
| |
| Sulawesi Selatan
| Tudang Sipulung
| Solidaritas religius
| |
| Sulawesi Barat
| Sahur bersama
| Komunitas sosial Kohesi
|
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak hanya dipraktikkan dalam bentuk ritual ibadah, tetapi juga dalam bentuk ekspresi budaya yang memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat.
Analisis Akademik
Secara teologis, konsep Lailatul Qadar mencerminkan hubungan antara wahyu, takdir, dan spiritualitas dalam Islam. Turunnya Al-Qur’an pada malam tersebut menunjukkan bahwa wahyu ilahi menjadi sumber petunjuk utama bagi manusia.
Selain itu, konsep “lebih baik dari seribu bulan” menunjukkan bahwa Islam memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperoleh pahala yang sangat besar dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini mencerminkan prinsip rahmat dan kemurahan Allah dalam ajaran Islam.
Dari perspektif antropologi agama, praktik pencarian Lailatul Qadar juga menunjukkan bagaimana pengalaman spiritual individu terhubung dengan praktik sosial dan budaya dalam masyarakat Muslim.
Studi mengenai Ramadhan menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan selama bulan tersebut sering kali menjadi momentum refleksi moral dan pembentukan identitas keagamaan (Schielke, 2009).
Dengan demikian, Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai fenomena multidimensi yang mencakup aspek teologis, spiritual, dan sosial budaya dalam kehidupan umat Islam.
Kesimpulan
Penulisan ini menunjukkan bahwa konsep Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam, baik dari perspektif teologis, spiritual, maupun sosial budaya.
Berdasarkan analisis terhadap ayat Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Qadr ayat 1–5, Lailatul Qadar dipahami sebagai malam turunnya Al-Qur’an yang memiliki nilai ibadah lebih baik dari seribu bulan serta menjadi waktu turunnya para malaikat dengan membawa berbagai ketetapan ilahi bagi manusia (QS Al-Qadr [97]:1–5).
Kajian terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan bahwa umat Islam dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah seperti shalat malam, doa, zikir, membaca Al-Qur’an, serta i’tikaf di masjid (Bukhari, 2002; Muslim, 2000).
Hadis-hadis tersebut juga memberikan beberapa indikasi mengenai tanda-tanda Lailatul Qadar, seperti suasana malam yang tenang, tidak terlalu panas atau dingin, serta terbitnya matahari pada pagi hari tanpa sinar yang menyilaukan.
Dalam kajian tafsir, para mufassir klasik dan modern memberikan berbagai penafsiran mengenai makna kata qadr . Sebagian ulama mengartikannya sebagai kemuliaan atau keagungan malam tersebut, sementara sebagian lainnya memaknainya sebagai malam penetapan takdir tahunan bagi manusia. Tafsir kontemporer juga menekankan bahwa kata qadr dapat memiliki makna yang bersifat multidimensi, yaitu kemuliaan, ketentuan ketentuan ilahi, dan kepadatan malaikat yang turun pada malam tersebut (Al-Tabari, 2001; Al-Qurtubi, 2006; Shihab, 2002).
Selain memiliki dimensi teologis dan spiritual, Penulisan ini juga menunjukkan bahwa konsep Lailatul Qadar memiliki dimensi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Muslim.
Praktik pencarian malam tersebut sering diwujudkan melalui berbagai aktivitas kolektif kolektif pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Dalam konteks masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, misalnya, pencarian Lailatul Qadar juga tercermin dalam tradisi keagamaan seperti tudang sipulung , sahur bersama di masjid, serta kegiatan ibadah kolektif yang memperkuat solidaritas sosial dalam komunitas Muslim.
Dengan demikian, Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai fenomena multidimensi yang mencakup aspek teologis, spiritual, dan kultural. Integrasi antara pengajaran Islam dan praktik budaya lokal menunjukkan bahwa pengalaman spiritual dalam Islam tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif dan kontekstual dalam kehidupan masyarakat Muslim. (*)
Daftar Pustaka
Abu Zahrah, M. (1954). Fiqih al-lailatayn . Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi.
Adhim, AHHA (Ed.). (2010). Tafsir al-Misbah : Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an . Jakarta: Pustaka Media.
Ahmed, S. (2016). Apa itu Islam? Pentingnya Menjadi Islami . Princeton University Press.
Al-Bukhari, MI (2002). Shahih al-Bukhari . Riyadh: Darussalam.
Al-Ghazali, AH (nd). Ihya’ ‘Ulum al-Din . Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Qaradawi, Y. (2000). Fiqh al-siyam (Vol.2). Kairo: Maktabah Wahbah.
Al-Qurtubi, MA (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an . Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Tabari, MJ (2001). Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an . Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Buitelaar, M. (2015). Perempuan Muslim dan tantangan kebangkitan Islam . Oxford University Press.
Departemen Agama Republik Indonesia. (2009). Al-Qur’an dan terjemahannya . Jakarta: Departemen Agama RI.
Geertz, C. (1968). Islam yang diamati: Perkembangan keagamaan di Maroko dan Indonesia . University of Chicago Press.
Majelis Ulama Indonesia. (nd). Ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW sebagai landasan Lailatul Qadar . Diperoleh dari https://mui.or.id
Majelis Ulama Indonesia. (nd). Istifhama, L. Sejarah malam seribu bulan (Lailatul Qadar) . Diperoleh dari https://mui.or.id
Majelis Ulama Indonesia. (nd). Apa saja tanda-tanda malam Lailatul Qadar? Diperoleh dari https://mui.or.id
Majelis Ulama Indonesia. (nd). Fatwa dan publikasi resmi tentang Ramadhan dan Lailatul Qadar . Diperoleh dari https://mui.or.id
Muslim, AH (2000). Shahih Muslim . Riyadh: Darussalam.
Nikmatullah, N., dkk. (2023). Nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits dalam tradisi Dile Jojor: Pencarian Laylat al-Qadr di Lombok. Jurnal Ushuluddin , 31(2), 145–160.
Nasr, SH (2015). Studi Al-Quran: Terjemahan dan komentar baru . HarperOne.
NU Daring. (nd). Prof. Quraish Shihab menjelaskan makna Lailatul Qadar dan tanda-tandanya . Diperoleh dari https://www.nu.or.id
NU Daring. (nd). Kaidah menandai Lailatul Qadar menurut Imam al-Ghazali . Diperoleh dari https://www.nu.or.id
Shihab, MQ (2002). Tafsir al-Misbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an (Vol. 15). Jakarta: Lentera Hati.
Schielke, S. (2009). Berbuat baik di bulan Ramadan: Ambivalensi, fragmentasi, dan jati diri moral dalam kehidupan kaum muda Mesir. Jurnal Institut Antropologi Kerajaan , 15(1), S24–S40.
Sunan Abu Dawud. (2008). Sunan Abi Dawud . Riyadh: Darussalam.
Sunan al-Tirmidzi. (2007). Jami’ al-Tirmidzi . Riyadh: Darussalam.
Yayasan Riyadhus Shalihin. (2012). Riyadh as-Shalihin: Kumpulan hadis pilihan . Jakarta: Pustaka Amani.
Ensiklopedi Islam. (2005). Ensiklopedi Islam . Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.



