Rukun Haji dan Pengertiannya
Persembahan Ustadz Yasin
Menjelang menyambut bulan dzulhijah tahun 1447 H/2026 M ini Penyuluh Agama Islam kecamatan Semidang Aji Ustadz Yasin fokus menyampaikan materi pembinaanya sedikit berbeda dari bulan sebelumnya.
Bulan dzulhijah yang bertepatan dengan puncaknya haji tinggal nunggu beberapa hari lagi. Materi dia buka dengan pembahasan Rukun Haji.
Rukun haji merupakan sejumlah tata laksana kegiatan ibadah haji yang harus dilakukan oleh setiap umat Muslim yang melaksanakan ibadah haji.
Berbeda dengan wajib haji, seseorang yang tidak melaksanakan rukun haji bisa dikatakan hajinya tidak sah atau harus diulang.
Sementara, jika seseorang tidak melaksanakan wajib haji orang tersebut hanya harus menggantinya dengan membayar ‘Dam’ yakni sejenis denda sebagai konsekuensinya.
Dalam Fathul Qaribil Mujib kitab fikih Madzhab Syafi’i terdapat 5 (lima) rukun haji yang harus dilaksanakan. Kelima rukun haji tersebut yakni Ihram, Wuquf, Thawaf, Sa’i dan Tahallul.
Mengingat pentingnya rukun haji sebagaimana penjelasan di atas, berikut ini penjelasan rukun ibadah haji beserta tata cara pelaksanaan dan waktunya.
Ihram
Yakni niat beribadah haji yang dilaksanakan pada saat miqot. Niat ini harus memperhatikan waktu (miqat zamani) dan tempat (miqat makani).
Terkait miqat zamani, niat harus dilakukan di bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan awal Dzulhijjah. Sementara miqat makani, bagi penduduk Indonesia (sesuai buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag), miqat-nya disesuaikan dengan gelombang.
Bagi jamaah gelombang pertama, miqat dimulai dari Dzulhulaifah (Bir Ali). Sementara bagi jamaah gelombang kedua, miqat-nya ketika berada di atas pesawat udara pada garis sejajar dengan Qarnul Manazil atau di Bandara King Abdul Azis Jeddah (sesuai dengan Keputusan Komisi Fatwa MUI, tanggal 28 Maret 1980 dan dikukuhkan kembali pada tanggal 19 September 1981 tentang Miqat Haji dan Umrah) atau Asrama Haji Embarkasi di Tanah Air.
Sahih bukhori 1444
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ انْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ بَعْدَ مَا تَرَجَّلَ وَادَّهَنَ وَلَبِسَ إِزَارَهُ وَرِدَاءَهُ هُوَ وَأَصْحَابُهُ فَلَمْ يَنْهَ عَنْ شَيْءٍ مِنْ الْأَرْدِيَةِ وَالْأُزُرِ تُلْبَسُ إِلَّا الْمُزَعْفَرَةَ الَّتِي تَرْدَعُ عَلَى الْجِلْدِ فَأَصْبَحَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكِبَ رَاحِلَتَهُ حَتَّى اسْتَوَى عَلَى الْبَيْدَاءِ أَهَلَّ هُوَ وَأَصْحَابُهُ وَقَلَّدَ بَدَنَتَهُ وَذَلِكَ لِخَمْسٍ بَقِينَ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ فَقَدِمَ مَكَّةَ لِأَرْبَعِ لَيَالٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحَجَّةِ فَطَافَ بِالْبَيْتِ وَسَعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَلَمْ يَحِلَّ مِنْ أَجْلِ بُدْنِهِ لِأَنَّهُ قَلَّدَهَا ثُمَّ نَزَلَ بِأَعْلَى مَكَّةَ عِنْدَ الْحَجُونِ وَهُوَ مُهِلٌّ بِالْحَجِّ وَلَمْ يَقْرَبْ الْكَعْبَةَ بَعْدَ طَوَافِهِ بِهَا حَتَّى رَجَعَ مِنْ عَرَفَةَ وَأَمَرَ أَصْحَابَهُ أَنْ يَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ثُمَّ يُقَصِّرُوا مِنْ رُءُوسِهِمْ ثُمَّ يَحِلُّوا وَذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ بَدَنَةٌ قَلَّدَهَا وَمَنْ كَانَتْ مَعَهُ امْرَأَتُهُ فَهِيَ لَهُ حَلَالٌ وَالطِّيبُ وَالثِّيَابُ
Terjemahan kurang lebihnya sebagai berikut.
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu Bakar Al Muqaddamiy] telah menceritakan kepada kami [Fudhail bin Sulaiman] berkata, telah menceritakan kepada saya [Musa bin ‘Uqbah] berkata, telah mengabarkan kepada saya [Kuraib] dari [‘Abdullah bin ‘Abbas RAa] berkata:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari Madinah setelah Beliau menyisir rambutnya dan memolesnya dengan minyak zaitun. Dan Beliau mengenakan baju dan rida’nya, begitu juga para sahabat Beliau.
Beliau tidak melarang apapun mengenai rida’ (selendang panjang) dan baju untuk dipakai kecuali minyak wangi (za’faran) yang masih tersisa pada kulit badan. Ketika paginya berada di Dzul Hulaifah, Beliau berangkat dengan mengendarai tunggangannya hingga sampai di padang sahara saat siang hari.
Maka disitulah Beliau memulai ihram dengan bertalbiyyah begitu juga para sahabatnya. Lalu Beliau menandai hewan qurbannya. Ini terjadi pada lima hari terakhir dari bulan Dzul Qa’dah.
Lalu Beliau sampai di Makkah pada malam keempat dari bulan Dzul Hijjah lalu Beliau melaksanakan thowaf di Baitulloh, lalu sa’i antara bukit Shafaa dan Marwah dan Beliau belum lagi bertahallul karena Beliau membawa hewan qurban yang telah ditandainya.
Kemudian Beliau singgah di tempat yang tinggi di kota Makkah di Al Hajjun, yang dari tempat itu Beliau berniat memulai hajji.
Beliau tidak mendekati Ka’bah setelah melaksanakan thowafnya disana hingga Beliau kembali dari ‘Arafah lalu Beliau memerintahkan para sahabatnya agar melaksanakan thowaf di Baitulloh dan sa’iy antara bukit Shafaa dan Marwah kemudian memerintahkan pula agar mereka memotong rambut mereka lalu bertahallul.
Ketentuan ini berlaku bagi mereka yang tidak membawa hewan sembelihan (qurban). Maka barangsiapa yang ada isterinya bersamanya, isterinya itu halal baginya begitu juga memakai wewangian dan pakaian (baju).
Wuquf di Bukit Arafah
Jamaah Haji Dihimbau Selalu Gunakan Alas Kaki Waktu pelaksanaan wuquf di Bukit Arafah terentang mulai dari waktu Dzuhur tanggal 9 Dzulhijjah sampai Subuh tanggal 10 Dzulhijjah.
Jamaah haji dapat memilih antara waktu siang sampai setelah maghrib, ataupun malam harinya sampai jelang subuh.
حَدَّثَنَا عَبِي عَنْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحَرْتُ هَاهُنَا وَمِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ هَاهُنَا وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Hafsh bin Ghiyats] Telah menceritakan kepada kami [bapakku] dari [Ja’far] telah menceritakan kepadaku [bapakku] dari [Jabir] ia menceritakan dalam hadisnya;
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku menyembelih hewan kurban di sini, dan Mina seluruhnya adalah tempat menyembelih. Oleh karena itu, sembelihlah kurbanmu di tempat kendaraanmu berhenti. Dan wukuf di Arafah, maka Arafah seluruhnya adalah tempat wukuf.
Thawaf Ifadhah
Setelah melaksanakan wuquf di Bukit Arafah, jamaah haji berjalan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf ifadhah yakni berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari arah Hajar Aswad dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri badan jamaah haji.
Gampangnya adalah jamaah haji berjalan mengelilingi Ka’bah berpuiar melawan arah jarum jam. Waktu pelaksanaan thawaf ifadhah yang utama adalah pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah melempar jumrah aqabah dan tahallul.
Sedangkan waktu lainnya ialah sesudah tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah keluarnya matahari di tanggal 10 Dzulhijjah.
Tidak ada batasan waktu untuk akhir pelaksanaan tawaf ini, tetapi sebaiknya dilaksanakan sebelum berakhirnya hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ حَجَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَفَضْنَا النَّحْرِ فَحَاضَتْ صَفِيَّةُ فَأَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا مَا يُرِيدُ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا حَائِضٌ قَالَ حَابِسَتُنَا هِيَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَاضَتْ يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ اخْرُجُوا وَيُذْكَرُ عَنْ الْقَاسِمِ وَعُرْوَةَ وَالْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ اللَّهُ عَنْهَا أَفَاضَتْ صَفِيَّةُ يَوْمَ النَّحْرِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bun Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ja’far bin Rabi’ah] dari [Al A’raj] berkata, telah menceritakan kepada saya [Abu Salamah bin ‘Abdurrahman] bahwa [‘Aisyah radliallahu ‘anha] berkata: “Kami pergi menunaikan haji bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kami bertolak pada hari Nahar (untuk thawaf ifadhah)). Shafiyyah mengalami haidh. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin mendatanginya sebagaimana seorang suami mendatangi isterinya, maka aku katakan: “Wahai Rasulullah, dia sedang mengalami haidh”. Lalu Beliau berkata: “Dia telah menyusahkan kita!” [Al Aswad] dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha]: “Syafiyyah bertolak (thawaf ifadhah) pada hari Nahar”.
Sa’i Lari-lari kecil yang dilakukan oleh jamaah haji dari bukit Shafa ke Marwah sebanyak 7 kali putaran.
Bsrdasarkan hadits yang Terjemahannya sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepada kami [Ghundar] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Qais bin Muslim] dari [Thoriq bin Syihab] dari [Abu Musa Al As’ariy radliallahu ‘anhu] berkata; Aku berdiskusi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Dia berada di Bathha’, ketika Dia berhenti untukk istirahat lalu Dia bertanya berpikir: “Bagaimana cara kamu berihram?”. Aku jawab: “Aku berihram dengan bertalbiyah (berniat memulai haji) sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berihram”.
Maka Beliau berkata: “Kamu sudah berbuat dengan baik, maka thawaflah di Ka’bah Baitullah dan sa’iy antara bukit Shafaa dan Marwah lalu bertahallullah”.
Maka aku thawaf di Ka’bah Baitullah dan sa’iy antara bukit Syafaa dan Marwah. Kemudian aku menemui seorang wanita dari Banu Qais lalu dia mencari kutu kepalaku. Kemudian aku berihram untuk haji.
Setelah itu aku selalu memberi fatwa cara manasik seperti itu hingga masa khilafah ‘Umar radliallahu ‘anhu yang dia berkata: “Jika kita mengambil pelajaran dari Kitab Allah maka Dia memerintahkan kita untuk menyelaraskannya dan ketika kita mengambil Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Beliau tidak bertahallul hingga Al Hadyu sampai pada tempat penyembelihannya”.
Tahallul
Yaitu mencukur rambut setelah selesai melaksanakan rangkaian ibadah haji yang dilaksanakan sekurang-kurangnya adalah setelah lewat tanggal 10 Dzulhijjah.
Demikian merupakan 5 rukun haji beserta tata cara pelaksanaan dan waktunya.
Materi ini disampaikan bergilir dari kelompok jamaah satu dan yang kelompok lainya diwilayah binaan kecamatan Semidang Aji. Selain sebagai Upaya menumbuhkan minat juga menambah wawasan jamaah tentang rukun yang kelima. Semoga bermanfaat. (*)




