Tau Agama Belum Tentu Ulama
Persembahan Ustadz Yasin
Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat memuliakan ulama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ulama merupakan orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.
Kemuliaan ulama banyak termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis. Kemuliaan ulama tentu dikarenakan kemuliaan ilmu yang merupakan warisan para nabi dan rasul.
Mereka tidak mewarisi harta maupun tahta, melainkan mewarisi ilmu.
Meski demikian, banyak juga hadis yang berbicara mengenai kehinaan ulama dan ancaman-ancamannya.
Hal ini karena mereka menjadikan ilmu sebagai jembatan meraih dunia yang hina. Kejadian tersebut sering terjadi dari golongan mereka yang belajar Ilmu Agama tidak melalui guru atau bahkan cukup menghafal adari buku atau media yang mereka beli tanpa mendapat penjelasan dari seorang yang Ahli dibidang tersebut.
Kemalasan belajar dari kaum Awam yang sedang mencoba memulia belajar Agama dengan Latar belakan membanggakan kecukupan Hartanya dalam membeli fasilitas belajar modern menjadi Aliran bersih kemunculan para Alim ini (Tau Tanpa Guru).
Dari kejadian ini kita juga sering mendengar kalimat, bahwa jika kita belajar agama tanpa guru maka gurunya adalah setan atau syaithan.
Bagaimana kita menyikapi kalimat ini, apakah ini hadits, apakah ini ucapan sahabat, atau dari mana asalnya nasehat bahwa ‘belajar tanpa guru maka gurunya setan’, berikut adalah hasil pencarian Penulis
ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﺷﻴﺦ ﻓﺸﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
ini adalah kalam Syaikh Abu Yazid al-Busthami
ﻭﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺍﺑﻰ ﻳﺰﻳﺪ ﺍﻟﺒﺴﻄﺎﻣﻰ ﻗﺪﺱ ﺳﺮﻩ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﺷﻴﺦ ﻓﺸﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
) ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺣﻘﻲ – ) ﺝ 7 / ﺹ 393 )
Jangankan hanya belajr tanpa guru, membaca kitab sendiri. Jika melakukan penterjemahan mandiri seperti itu, banyak kesalahan yang didapatkan daripada manfaatnya.
Termaktub dalam sarah muhadzab juz 1 halama 66 sebagai berikut:
المجموع شرح المهذب ج١ص٦٦
فقد قال ابن سيرين ومالك وخلائق من السلف: هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم. إلى أن قال… وقالوا: ولا تأخذ العلم ممن كان أخذه له من بطون الكتب من غير قراءة على شيوخ أو شيخ حاذق فمن لم يأخذه إلا من الكتب يقع في التصحيف ويكثر منه الغلط والتحريف.
Maksut tulisan diatas adalah: ibnu syairin mengatakan, Belajar sendiri itu bisa memungkinkan terjadinya kesalahan dan ketidak tanggungjawaban atas apa yang ia pelajari. Bisa jadi di situ ada kekeliruan yang malah menyesatkan.
Misal, Tanpa Kita ketahui, ternyata kitab yang Kita baca bukan kitab yang benar atau boleh dipelajari, seperti Kitab-kitab karangannya oknum-oknum sesat.
Bahkan dengan guru saja Kita bisa jadi keliru, apalagi tanpa guru. Membaca kitab-kitab yang tanpa ada ilmu untuk memahaminya secara utuh dan benar, yang ada malah membuat Kita malah terpleset dari kebenaran, kemungkinan besar.
Dari segi barokah saja, belajar tanpa guru itu terhitung kurang. Dalam dunia santri dikenal istilah _ta’alluq_ antara santri dengan guru. Itu lebih mulia daripada sekedar mempelajari sesuatu.
Sementara kamus besar bahasa indonesi mengatakan Bahwa Seorang Alim adalah orang yang layak dijadikan rujukan dalam beragama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat memuliakan ulama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sekali Lagi ulama merupakan orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.
Kemuliaan ulama banyak termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis. Kemuliaan ulama tentu dikarenakan kemuliaan ilmu yang merupakan warisan para nabi dan rasul.
Mereka tidak mewarisi harta maupun tahta, melainkan mewarisi ilmu.
Meski demikian, banyak juga hadis yang berbicara mengenai kehinaan ulama dan ancaman-ancamannya.
Hal ini karena mereka menjadikan ilmu sebagai jembatan meraih dunia yang hina. Ulama terbagi menjadi tiga, yaitu ulama akhirat, ulama dunia yang bertaubat, dan ulama dunia yang tidak bertaubat sampai ajal menjemputnya.
Menurut Imam Al-Ghazali, ulama terbagi tiga salah satunya adalah ulama akhirat. Ulama akhirat adalah ulama yang hanya mencari ridho Allah SWT dan balasan di akhirat dengan ilmunya.
Ulama akhirat kelak akan selamat dari siksa neraka dan mendapatkan keuntungan dan kebahagiaan di surga. Syekh Nawawi Banten menyebutkan ciri-ciri ulama akhirat sebagai berikut:
وعلامة عالم الآخرة ثلاثة: وهي عدم طلب الدنيا بالعلم، وكون قصده بالاشتغال بالعلوم نيل سعادة الآخرة، فيكون معتنيا بعلم الباطن سائسا لقلبه بمجاهدة النفس، وكون اعتماده في العلوم على اتباع صاحب الشريعة صلى الله عليه وسلم في أفعاله وأقواله
Artinya: “ciri-ciri ulama akhirat ada tiga: (1) tidak mencari dunia dengan ilmunya, (2) Tujuannya dalam mendalami ilmu adalah untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Maka dari itu, ia bersungguh-sungguh mendalami ilmu batin yang merawat hati dengan mujahatun nafs, (3) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dijadikan sebagai sandaran dan teladan dalam mengamalkan ilmunya, baik perilaku maupun perkataannya.”
Indikator Ulama yang Tidak Mencari Dunia dengan Ilmunya
Ulama akhirat tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencari dunia. Syekh Nawawi Banten dalam kitab Maraqiy al-Ubudiyyah menyebutkan beberapa indikator berikut ini:
1. Bergegas dalam mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Hal ini karena didasari rasa takut kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an surah Fatir ayat 28:
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
Artinya: “di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”
Ulama yang sesungguhnya merupakan orang paling memiliki rasa takut kepada Allah SWT, karena ia telah mengenal Allah atau disebut al-arif billah.
2. Menghindari berlebih-lebihan dalam urusan dunia, baik berupa sandang, pangan, dan papan.
3. Menghindari lingkungan kekuasan dalam rangka mencari jabatan, Rasulullah SAW bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللّٰهِ مَالَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَيُدَاخِلُوْا الدُّنْيَا فَإِنْ خَالَطُوْا السُّلْطَانَ وَدَخَلُوْا فِي الدُّنْيَا فَقَدْ خَانُوْا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ وَاعْتَزِلُوْهُمْ
Artinya: “Ulama itu adalah pemegang amanah para utusan (rasul) atas hamba-hamba Allah Swt., selama mereka tidak bergaul dengan penguasa (sulthan), dan memasuki urusan dunia.
Namun apabila mereka telah bergaul dengan penguasa dan telah memasuki urusan dunia maka sungguh mereka telah mengkhianati para rasul, maka berhati-hatilah kepada mereka dan jauhilah mereka,” (HR. Ad Dailami dan Ar Rafi’i).
Adapun jika memasuki lingkungan kekuasaan dalam rangka menasehati penguasa dan mencegah kezaliman-kezalimannya, maka diperbolehkan.
Selanjutnya kalau dia memang Ulama dia tidak bergegas dalam mengeluarkan fatwa. Kondisi ini sering terjadi kita temui,
Contoh: si A, ditanya Si-B tentang kebenaran zakat, sementara si-A, mentejemahkan QS At-taubah tekstual dan keberpihakan pada pekerjaan yang saat ini di tekuninya.
Kebetulan pertanyaan si-B ada korelasi dengan pekerjaan si-A, maka si-A memberi jawaban sesui relefansi profesinya berdasarkan pemahaman teks terjemahan Ayat tersebut dan Nafsunya.
Si-A tidak menyadari Bahwa di belakang Si-B banyak juga yang mengikuti, anggap saja Si-B, adalah orang yang ditokohkan masyarakat, sehingga tak menutup kemungkinan apa yang dilakukan si-B pasti berdampak Luas kedepanya.
Sementara Sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat tidak demikian, ketika sahabat ditanya mengenai suatu hukum dan diminta berfatwa, mereka mengarahkan penanya kepada yang lebih mengetahui persoalan yang ditanyakan tersebut.
Seorang sahabat yang begitu dekat dengan sumber hukum-pun gak berani Asal jawab, karna begitu luasnya ilmu Agama, dan begitu kompleknya pengertian dari kalimatnya.
Semoga tulisan sedikit ini bisa menmjadi tambahan literature pembaca dalam memberi atau memahami siapa A’lim Sebenarnya. Bahasa pesantren membagi Alim ada dua, ulamak akhirat dan ulamak su’. Semoga bermanfaat…
Baca juga :







