Cara Mengendalikan Hawa Nafsu
Persembahan Ustadz Yasin
Pengurus IPARI dan NU Kabupaten OKU
Bismillahirrahmanirrahim….
Salam sejahtera untuk kita semua terkhusus buat pembaca setia OKU Satu.
Dì kesempatan kali ini saya mengulas beberapa hal mengenai hawa nafsu yang dapat mendorong pada kebaikan maupun keburukan. Nafsu juga sering memimpin jalannya aktifitas jiwa raga kita.
Nafsu adalah hal yanh sangat sentral mempengaruhi jalannya Aktifitas kita sehari-hari, menjadi sukses dan lancar jika dikomandoi dari bisikan nafsu.
Insan yang beriman yg faham betul tentang nafsu dan tipu dayanya sehingga dalam penerapannya di lapangan mampu berbuat baik, benar dan bijaksana.
Setiap manusia memiliki hawa nafsu yang dapat mendorong pada kebaikan maupun keburukan.
Pertanyaannya, bagaimana cara mengendalikan hawa nafsu dalam Islam?
Islam sebagai agama yang sempurna memberikan panduan jelas agar umatnya tidak diperbudak oleh nafsu yang menyesatkan.
Mengendalikan hawa nafsu bukan berarti mematikan keinginan sama sekali, melainkan mengarahkan dan mengontrolnya sesuai perintah Allah SWT. Hal ini penting supaya keinginan-keinginan kita tidak keluar dari batas yang diridai-Nya.
Hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa dan kerugian, sebagaimana kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang mengikuti nafsu hingga binasa (misalnya Fir’aun ditipu ambisi kekuasaannya, Qarun diperdaya kecintaan pada hartanya, dan kaum Nabi Luth tergelincir oleh nafsu syahwat yang menyimpang).
Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan nafsunya akan meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam pandangan Islam, hawa nafsu pada dasarnya merupakan fitrah insani yang perlu dikendalikan. Allah menciptakan nafsu agar manusia dapat menikmati hal-hal duniawi secara wajar.
Namun, Allah juga mengingatkan agar jangan sampai nafsu menguasai diri hingga melanggar aturan-Nya. Al-Qur’an menggambarkan bahwa nafsu manusia memiliki tingkatan: ada nafsu ammarah bis-su’ (nafsu yang selalu mengajak pada keburukan), nafsu lawwamah (nafsu yang menyesali kesalahan dan berjuang menuju kebaikan), dan nafsu muthma’innah (nafsu tenang yang tunduk pada Allah).
Nafsu yang rendah (ammarah) cenderung memerintahkan kepada kejahatan – Nabi Yusuf AS berkata: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”.
Sementara nafsu yang tertinggi (muthma’innah) digambarkan sebagai jiwa tenang yang akan dipanggil Allah kembali kepada-Nya dengan penuh ridha (QS. Al-Fajr: 27-30).
Al-Fajr · Ayat 27
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧
Artinya: Wahai jiwa yang tenang,
Al-Fajr · Ayat 28
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ٢٨
Artinya: kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.
Al-Fajr · Ayat 29
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ ٢٩
Artinya: masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
Al-Fajr · Ayat 30
وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ ٣٠
Artinya: dan masuklah ke dalam surga-Ku!
Dalam ayat-ayat ini, Allah memanggil jiwa yang tenang dan damai ketika diwafatkan, yaitu jiwa yang suci karena iman dan amal saleh yang dikerjakannya, sehingga memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadanya.
Jiwa itu diminta Allah untuk pulang memenuhi panggilan-Nya dengan menghadap kepada-Nya kembali dengan perasaan puas dan senang karena telah memenuhi perintah-perintah-Nya waktu hidup di dunia.
Allah juga puas dan senang kepadanya karena sudah menjalankan perintah-perintah-Nya. Setelah datang kepada-Nya, jiwa itu dipersilakan Allah masuk ke dalam kelompok hamba-hamba-Nya, yaitu ke dalam surga-Nya.
Tujuan kita adalah mengendalikan hawa nafsu yang buruk sehingga jiwa kita menjadi tenang dan patuh kepada Allah.
Cara Mengendalikan Hawa Nafsu dalam Islam
Islam memberikan panduan komprehensif untuk mengekang dan mengarahkan hawa nafsu ke jalan yang benar.
Berikut 10 cara mengendalikan hawa nafsu yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Memperkuat Iman dan Takwa
Langkah pertama yang paling mendasar adalah menanamkan keimanan yang kuat. Sadari bahwa Allah SWT Maha Melihat setiap perbuatan kita; dengan iman yang kokoh, kita akan lebih mudah menahan diri dari godaan maksiat.
An-Nisa’ · Ayat 1
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ١
Artinya: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
Di dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada manusia agar bertakwa kepada Allah, yang memelihara manusia dan melimpahkan nikmat karunia-Nya.
Dialah Yang menciptakan manusia dari seorang diri yaitu Adam. Dengan demikian, menurut jumhur mufasir, Adam adalah manusia pertama yang dijadikan oleh Allah.
Kemudian dari diri yang satu itu Allah menciptakan pula pasangannya yang biasa disebut dengan nama Hawa.
Dari Adam dan Hawa berkembang biaklah manusia. Dalam Al-Qur’an penciptaan Adam disebut dari tanah liat (al-An‘ām/6:2; as-Sajdah/32:7; Ṣād/38:71 dan dalam beberapa ayat lagi).
An-Nisa’ · Ayat 41
فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍ ۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًاۗ ٤١
Artinya: Bagaimanakah (keadaan manusia kelak pada hari Kiamat) jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi atas mereka?
Digambarkan pula bagaimana keadaan manusia di akhirat nanti.
Allah Maha Pengasih tidak akan merugikan hamba-Nya yang mengerjakan kebaikan walaupun sedikit, tapi akan diberi pahala yang berlipat ganda atas kebaikannya itu.
Digambarkan pula, bagaimana keadaan manusia nanti kalau mereka berhadapan dengan saksi-saksi mereka, dengan nabi-nabi mereka. Tiap-tiap umat akan berhadapan dengan saksi mereka, Bersambung….
Baca juga :

