Cara Mengendalikan Hawa Nafsu, selesai
Ketujuh Menjaga Pandangan dan Pikiran
Pandangan mata sering menjadi gerbang masuknya hawa nafsu ke dalam hati. Islam memerintahkan pria-wanita beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan (QS. An-Nur: 30-31).
Dengan menjaga pandangan, kita mencegah nafsu menguasai pikiran. Misal, tidak melihat lawan jenis dengan syahwat, tidak menonton hal tak senonoh, tidak membaca bacaan yang menggoda nafsu.
Begitu pula menjaga pikiran: hindari melamunkan hal-hal dosa atau memikirkan keinginan negatif terus-menerus.
Saat godaan pikiran datang, segera alihkan dengan aktivitas lain atau zikir. Filter informasi dan hiburan yang kita konsumsi sehari-hari, karena apa yang dilihat dan didengar sangat memengaruhi kondisi nafsu.
Dengan melatih lowering the gaze dan filtering the mind, insya Allah hawa nafsu lebih mudah dikontrol.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Pandangan mata itu laksana panah beracun dari iblis.” Oleh karena itu, menghindari pandangan haram akan menjaga hati tetap bersih dan tenang.
Kedelapan Mendalami Ilmu Agama
Ilmu yang benar akan menuntun nafsu. Pelajarilah ajaran Islam lebih dalam melalui majelis ilmu, membaca buku, mendengar ceramah, dsb.
Dengan memahami mana yang halal-haram, mana yang bernilai akhirat dan mana yang sia-sia, kita bisa mengarahkan keinginan sesuai ilmu tersebut.
Seringkali nafsu menguasai karena kita jahil (tidak tahu) hukumnya atau akibatnya. Namun, ketika ilmu sudah tertanam, hati-hati kita akan otomatis mengingatkan saat godaan muncul.
Misalnya, seseorang yang tahu betul dalil dan kisah azab akibat riba akan lebih mudah menahan nafsu untuk curang atau tamak harta.
Ilmu juga memberi strategi praktis mengendalikan diri, karena para ulama sering membimbing dengan tips-tips sesuai Al-Qur’an dan Sunnah (seperti anjuran puasa Senin-Kamis, dzikir pagi petang, dsb. untuk melawan nafsu).
Dengan ilmu, kita pun sadar bahwa hidup di dunia ini ujian sementara, sehingga tidak akan menuruti hawa nafsu yang merugikan akhirat.
Melatih Sabar dan Hidup Sederhana
Sabar adalah kunci mengendalikan nafsu. Sabar bukan berarti pasif, tapi kemampuan menahan diri demi sesuatu yang lebih besar.
Saat marah, sabar menahan lisan dan tangan agar tidak menyakiti. Saat syahwat menggebu, sabar menahan diri hingga waktunya halal. Ingatlah pahala orang-orang sabar sangat besar dan Allah bersama mereka.
Latih kesabaran dari hal-hal kecil sehari-hari, misalnya sabar dalam kemacetan, sabar menunggu, sabar menghadapi orang yang menyebalkan tanpa bereaksi negatif.
Jika sabar sudah menjadi kebiasaan, mengendalikan hawa nafsu akan lebih mudah karena kita terbiasa menunda keinginan.
Selain itu, biasakan hidup sederhana dan tidak berlebihan. Nafsu cenderung liar jika kita selalu menuruti gaya hidup mewah atau memuaskan keinginan tanpa kontrol. Dengan hidup sederhana, keinginan kita lebih terkontrol.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat mencontohkan hidup bersahaja meski mampu, sebagai bentuk pengendalian nafsu dan syukur kepada Allah. Kurangi hal-hal yang memanjakan nafsu, perbanyak aktivitas yang mendidik jiwa.
Mengingat Akibat dan Mengambil Hikmah Ujian
Terakhir, selalu ingatlah konsekuensi buruk dari memperturutkan hawa nafsu. Setiap kali tergoda maksiat, ingatkan diri: apa akibatnya di dunia (nama baik rusak, kerugian fisik/mental) dan terutama di akhirat (siksa kubur dan neraka). K
Kesadaran akan hisab (perhitungan amal) dapat membuat kita takut mengikuti nafsu. Allah telah memperingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu bisa membinasakan (QS. Ṭāhā: 16).
Thaha · Ayat 16
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى ١٦
Artinya: Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa.
Sekalipun ayat ini ditujukan kepada Nabi Musa a.s., tetapi itu merupakan pelajaran bagi kaum Muslimin. Allah meminta agar kita tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada hari Kiamat dan orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya.
Kalau kita ikuti keinginan orang-orang itu, maka kita akan merugi dan menyesal. Harta kekayaan, kemewahan tidak akan dapat menolong kita dari azab Allah, sebagaimana firman Allah:
وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ ١١
Artinya: “Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (al-Lail/92: 11)
Juga keluarga kita tidak akan bisa dan mungkin menolong sebagaimana firman Allah:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧
Artinya: Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 34-37)
Sebaliknya, setiap godaan nafsu yang berhasil kita tahan adalah kemenangan dan akan diganjar pahala. Anggaplah ketika kita menghadapi godaan, itu adalah ujian dari Allah.
Dengan mindset demikian, kita termotivasi untuk lulus ujian tersebut demi meraih ridha-Nya. Setiap kali berhasil mengendalikan diri, bersyukurlah dan ambil hikmah bahwa kita menjadi lebih kuat.
Kalau pun sesekali terjatuh dalam kesalahan, segera bangkit dengan taubat dan belajar dari pengalaman agar ke depan lebih teguh melawan nafsu.
Intinya, jadikan pengendalian hawa nafsu sebagai perjuangan hidup yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah.
Mengendalikan hawa nafsu dalam Islam adalah perjalanan seumur hidup yang menuntut kesabaran, disiplin, dan pertolongan Allah.
Jangan pernah merasa cukup dalam berjihad melawan nafsu, karena godaan bisa datang kapan saja. Namun, jangan pula berputus asa; setiap usaha mengekang nafsu bernilai ibadah di sisi Allah.
Ingatlah janji Allah bahwa siapa yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya akan mendapatkan pertolongan (QS. Al-‘Ankabut: 69).
Akhir kata, mengendalikan hawa nafsu bukan berarti hidup tanpa kebahagiaan. Justru, dengan nafsu yang terkendali, hati menjadi lebih tenang, hidup lebih terarah, dan jiwa pun merasakan kebahagiaan yang hakiki.
Sebagaimana firman Allah,
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Semoga kita semua dimudahkan Allah dalam mengendalikan hawa nafsu dan dijadikan hamba-hamba-Nya yang beruntung di dunia serta akhirat. Aamiin. (*)
Baca juga :



