BATURAJA – Jalan lingkungan rusak. Distribusi air bersih tak kunjung sampai ke bak penampungan di rumah warga. Warga Perumahan Puri Raja Kapuran Kelurahan Sekarjaya sudah lama menunggu realisasi yang tak kunjung terwujud.
Padahal, warga sudah bertahun-tahun menunggu realisasi tersebut. Apalagi sampai saat ini, status jalan penghubung juga belum ada kejelasan.
“Kalau fasilitas yang ada saat ini ya jalan dan listrik. Untuk air bersih dari PDAM sampai sekarang belum ada realisasi pemasangan,” ujar Sandi warga setempat.
Untuk memenuhi kebutuhan air, kata dia, warga harus membuat sumur gali sendiri di belakang rumah. Sementara jika harus membeli air tendon, dana yang diperlukan tidak sedikit.
“Buat sumur gali di belakang rumah. Sumur dimanfaatkan lima rumah, “ katanya.
Sementara itu, nasib Darea warga setempat lebih miris. Untuk memenuhi kebutuhan air, dirinya terpaksa mengandalkan air hujan yang ditampung.
“Kalau hujan kami senang, karena bisa untuk mencuci dan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
BACA JUGA
Ketua MPC dan Kwarcab OKU Dilantik, H Teddy : Jangan Lama-lama Buat Program
Persoalan air, kata dia,bukan saja dikeluhkan warga, tapi juga jalan poros yang hingga kini belum dicor.
“Dulu katanya mau dicor, tapi sampai sekarang belum juga. Kalau hujan sangat becek dan susah dilewati,” keluhnya.
Keluhan lebih tajam disampaikan David, salah seorang penghuni yang menyebut terdapat tiga persoalan utama di kawasan tersebut, yakni air bersih, jalan lingkungan, dan status jalan penghubung.
Menurut David, akses menuju perumahan saat ini masih melintasi lahan milik pihak lain, sehingga warga khawatir sewaktu-waktu akses tersebut dapat ditutup.
“Kalau pemilik tanah menutup akses, warga akan kesulitan keluar masuk. Kami butuh legalitas tertulis agar ada kepastian hukum,” tegasnya.
Ia juga menyoroti jalan di dalam kawasan perumahan yang disebut belum pernah dicor sejak pertama kali rumah ditempati.
BACA JUGA
“Dari awal saya tinggal sampai sekarang belum pernah dicor sama sekali,” ujarnya.
Menanggapi keluhan warga, Direktur Perumahan Puri Raja Kapuran, Satria, Saat dikonfirmasi membenarkan bahwa ada tiga persoalan utama yang menjadi perhatian, yakni air bersih, jalan lingkungan, dan jalan penghubung.
Menurut Satria, pihak developer telah beberapa kali melakukan koordinasi dengan PDAM, namun terkendala keterbatasan kuota distribusi di PDAM.
“Jawaban terakhir yang kami terima, wilayah tersebut masih terbatas kuota air bersihnya,” jelas Satria.
Sebagai langkah sementara, pihak pengembang mengaku sempat memberikan subsidi air berupa penampungan atau gentong air kepada warga.
Selain itu, developer juga mengklaim telah berupaya mencari solusi alternatif melalui sumur bor, bahkan melibatkan tim geologi.
BACA JUGA
126 CJH OKU Selatan Dapat Uang Saku dari Pemkab OKU Selatan
“Kami menemukan titik potensial di kedalaman sekitar 120 meter dengan debit yang cukup memadai,” katanya.
Terkait jalan penghubung, Satria menjelaskan akses tersebut awalnya merupakan wakaf lisan dari pemilik lahan, namun pihaknya kini tengah mengupayakan legalitas tertulis.
Sementara soal jalan lingkungan, ia berjanji perbaikan akan direalisasikan.
“Insya Allah akhir 2026 semuanya akan terealisasi,” tegasnya. (*)












