EkonomiOKU RAYA

Jagung Tiba-Tiba Mahal! Petani di OKU Selatan Langsung Sumringah, Tapi Kenapa Ada Petani Jual Murah?

×

Jagung Tiba-Tiba Mahal! Petani di OKU Selatan Langsung Sumringah, Tapi Kenapa Ada Petani Jual Murah?

Sebarkan artikel ini
Petani jagung di OKU Selatan memanen dan menjemur jagung di tengah kenaikan harga jagung hingga Rp6100 per kg
Harga jagung naik hingga Rp6.100/kg, namun petani tanpa fasilitas pengeringan terpaksa menjual lebih murah.

OKU SELATAN  — Kabar kenaikan harga jagung di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan memang terdengar menggembirakan. Dalam beberapa hari terakhir, harga jagung pipil kering di tingkat petani menembus Rp6.100 per kilogram. Angka ini naik cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp5.300 hingga Rp5.500 per kilogram.

Bagi sebagian petani, kondisi ini menjadi momen yang sudah lama ditunggu. Setelah menghadapi tingginya biaya produksi—mulai dari pupuk, herbisida, hingga ongkos tenaga kerja—harga yang lebih tinggi memberi ruang untuk bernapas lebih lega.

Di sejumlah sentra produksi, suasana panen terasa lebih hidup. Kendaraan pengepul terlihat silih berganti datang ke kebun, membawa hasil panen yang sudah dikeringkan. Jagung yang tersusun dalam karung pun cepat terjual.

Namun, di balik kabar baik itu, tidak semua petani merasakan hal yang sama.

BACA JUGA

Siap Mantel, Hari Ini Hujan di 15 Wilayah dì Sumsel, Konon dari Pagi Loh…..

BPBD OKU Ingatkan Potensi Hujan 3 Hari ke Depan

Seorang pengepul di wilayah Muaradua menjelaskan bahwa harga Rp6.100 per kilogram hanya berlaku untuk jagung dengan kadar air sekitar 15 persen. Jika kadar air masih tinggi, harga otomatis turun karena kualitas belum memenuhi standar pasar.

Lonjakan harga ini, menurutnya, terjadi karena stok jagung mulai menipis setelah panen raya Maret–April. Sementara itu, permintaan dari pabrik pakan ternak di luar daerah tetap tinggi, sehingga harga terdorong naik.

“Barang di petani sudah mulai berkurang, tapi permintaan masih kuat,” ujarnya.

Rudi, petani asal Buay Pemaca, menjadi salah satu yang merasakan dampak positif. Dengan hasil panen sekitar 4 ton per hektare, ia bisa memperoleh pendapatan kotor lebih dari Rp24 juta. Setelah dikurangi biaya produksi, masih ada keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

BACA JUGA

Saat Banyak Orang Masih Menunggu Jodoh, Marfina Sudah 15 Kali Menikah—Kisahnya Bikin Publik Melongo

Pemerintah Siapkan Regulasi PPPK Paruh Waktu jadi Penuh Waktu

“Sekarang sudah lebih baik. Modal kembali, masih ada sisa,” katanya.

Akan tetapi, cerita berbeda datang dari daerah Lekis kababupaten OKU Juli Alkardi, petani jagung di daerah tersebut, justru belum bisa menikmati harga tinggi.

Meski sedang panen, ia terpaksa menjual jagung dalam kondisi pipil basah dengan harga hanya Rp4.500 per kilogram. Bukan tanpa alasan, keterbatasan lahan untuk proses penjemuran membuatnya tidak punya pilihan lain.

“Kami terpaksa menjual jagung pipil basah dengan harga Rp4.500 per kilogram, karena tidak memiliki lahan untuk menjemur. Apalagi hasil panen kali ini diperkirakan mencapai 3 ton,” ungkapnya.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata bahwa kualitas pascapanen sangat menentukan nilai jual. Jagung yang belum dikeringkan dengan baik akan dihargai lebih rendah, meski harga pasar sedang tinggi.

Karena itu, petani diimbau untuk lebih memperhatikan proses pengeringan sebelum menjual hasil panen. Selain itu, kerja sama melalui kelompok tani juga bisa menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan fasilitas, termasuk penyediaan tempat penjemuran.

BACA JUGA

Diam-Diam Bergerak Tengah Malam, Polisi Sapu Bersih Preman dan Balap Liar di Baturaja

Main di Sungai Ogan, Bocil Warga Ulak Pandan Diduga Tenggelam, BPBD OKU Ambil Langkah Cepat

Pengamat komoditas menilai harga jagung di kisaran Rp6.000 masih berpeluang bertahan hingga beberapa pekan ke depan. Namun, situasi bisa berubah ketika musim panen berikutnya tiba dan pasokan kembali melimpah.

Di tengah kondisi ini, petani dituntut tidak hanya mengandalkan harga pasar, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil panen agar keuntungan yang didapat benar-benar maksimal. (ant/al)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News