Khazanah Islam

Ancaman Umat yang Enggan Belajar Ilmu Agama

×

Ancaman Umat yang Enggan Belajar Ilmu Agama

Sebarkan artikel ini
INTI BUDAYA LITERASI
Persembahan Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNBARA, PENGURUS NU DAN PENYULUH AGAMA ISLAM OKU

Ancaman Umat yang Engga Belajar Ilmu Agama

Persembahan : Ustadz Yasin

Dalam memberi motifasi kaum dewasa dalam mempelajari ilmu Agama di wilayah binaannya Ustadz Yasin sedikit Kewalahan.

Berbagai macam alasan disampaikan demi untuk tidak dikunjungi sang ustadz untuk ajakan mengaji. Padahal keuntungan dan kenikmatan dari hasil mengaji akan mereka rasakan sendiri.

Meskipun demikian ustadz Yasin selalu menyelipkan pembicaraanya terkait kewajiban mengaji. Belum lagi keberatan dan kesusahan saat mengajak para remajanya.

Agak sedikit memprihatinkan Di era saat ini banyak masyarakat yang belajar khususnya ilmu agama Islam melalui cara yang instan.

Dengan berbagai perangkat yang merupakan hasil dari perkembangan teknologi, masyarakat dengan mudah mengakses banyak ilmu dan informasi yang disebarkan oleh orang lain.

Banyaknya informasi dan kemudahan ini mengakibatkan banyak orang yang tidak selektif dalam memilah dan memilih informasi yang didapat.

Masyarakat cenderung malas menggali lebih dalam informasi yang didapat dari guru guna memastikan keabsahan informasi ataupun pemahaman agama yang ia dapatkan.

Sehingga hal ini memunculkan permasalahan lain seperti merasa paling benar dan lebih berbahaya lagi memiliki paham sesat dan menyesatkan.

Menyikapi kondisi ini Pengurus Ipari yang juga sebagai dosen Pendidikan Agama di Kampus Lokal ini mengingatkan umat Islam untuk membuka diri dan terus belajar ilmu agama (mengaji).

Menukil Kitab Jawahirul Bukhari, ia menegaskan bahwa orang yang tidak mau ataupun malu mengaji merupakan orang yang sombong.

“Dalam Kitab Jawahirul Bukhari yang merupakan ringkasan dari syarah (penjelasan) kitab Bukhari ditegaskan bahwa salah satu tanda orang yang sombong adalah tidak mau mengaji,” tegasnya di hadapan jamaah Binaanya diwilayah Kecamatan Semidang Aji di MImbar-mimbar pertemuan Jamaah Binaan.

Ustadz Yasin menambahkan bahwa mengaji merupakan sebaik- baik Jihad. Karena dengan mengaji akan tahu bagaimana beragama dengan benar.

Jihad bukanlah meneriakkan takbir dengan dalih memperjuangkan agama namun sebenarnya dilandasi dengan emosi dan disulut oleh fitnah dan kebencian.

“Ngaji merupakan bentuk amal shaleh dan jihad dengan sungguh-sungguh memperjuangkan agama Allah,” tegas Sekertaris MWC NU Peninjauan Kabupaten OKU ini.

Sementara itu Kepala KUA Semidang Aji Drs. Arman Ashri,M.Si.  yang sempat ikut menghadiri pada acara Binaan tersebut , mengingatkan bahwa amal shaleh merupakan bayangan dari iman seseorang.

Keimanan seseorang dapat terlihat dari amal perbuatan baiknya yang ia lakukan kepada orang lain.

“Amal shaleh bisa didefinisikan sebagai perbuatan berupa melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhkan hal-hal yang mudharat (merugikan) baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain,” jelas epala KUA yang juga Ketua POKJA MAJLIS Ta’Lim ini.

Dengan berbagai nikmat yang telah dianugerahkan kepada manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini, manusia harus terus senantiasa berupaya untuk menjadi khalifah yang baik.

Diantara upaya yang dapat dilakukan adalah dengan terus senantiasa mengaji mencari ilmu dengan guru atau ustadaz dan ulama untuk mewujudkan kehidupan di dunia yang dipenuhi dengan kemaslahatan dewasa ini.

Perlu diketahui Bahwa Belajar ilmu agama itu hukumnya wajib dan belajar ilmu dunia itu hanya sunnah, bahkan bisa menjadi makruh atau haram jika mendatangkan mudharat bagi umat manusia.

Mengingat betapa pentingnya belajar ilmu agama sebagai bekal akhirat, Allah Ta’ala bakal memberikan hukuman berat bagi orang-orang yang tidak mau belajar ilmu agama di hari Kiamat kelak.

Ancaman bagi orang yang tidak mau belajar ilmu agama adalah kelak di akhirat akan dijadikan orang yang buta.

Allah berfirman dalam surat Thaha 124-126
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)

Artinya, Dan barang siapa berpaling dari per ingatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (124)
Lalu orang ini bertanya, “Kenapa aku dikumpulkan dalam kondisi buta padahal dulu aku bisa melihat?” (125)

Dijawab oleh Allah,” Karena dulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami tapi engkau melupakannya, engkau tidak mempedulikannya maka hari ini engkau dilupakan.” (126)

Baca juga :

Gambaran Royalti dari Perbuatan Baik atau Buruk

Pentingnya Pemahaman Zakat dan Sedekah

Penjelasan Ulama

1.Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (Thaha: 124) Yaitu kesengsaraan.

2.Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (Thaha: 124).

Segala sesuatu yang Aku berikan kepada seorang hamba, sedikit atau banyak, ia tidak bertakwa kepada-Ku karenanya, maka tiada kebaikan pada sesuatu itu; inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit.

3.Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa sesungguhnya bila ada suatu kaum yang sesat, mereka berpaling dari kebenaran, padahal kehidupan mereka makmur dan mudah lagi bersikap sombong; maka itulah yang dinamakan kehidupan yang sempit.

Dikatakan demikian karena mereka memandang bahwa tidaklah Allah menentang prinsip kehidupan mereka yang berburuk sangka kepada Allah dan mendustakan-Nya (Orang Yang Enggan Belajar Agama).

Apabila seorang hamba mendustakan Allah dan berburuk sangka terhadap-Nya serta tidak percaya kepada-Nya (Enggan melaksanakan kewajiban Belajar Agama), maka kehidupannya menjadi keras, dan kehidupan yang keras inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit dalam ayat ini. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News