Sejarah Bengkulu: Asal-usul Nama, Kerajaan Kuno, dan Jejak Penjajahan
Bengkulu tidak lahir dari cerita biasa.
Nama daerah di pesisir barat Sumatera ini muncul dari perang, darah, dan perebutan kekuasaan yang berlangsung berabad-abad.
Sejarah Bengkulu bergerak dari legenda lokal, kejayaan kerajaan, hingga cengkeraman penjajahan asing yang berlangsung lama. Setiap lapisan waktu meninggalkan jejak yang masih terasa hingga hari ini.
Nama Bengkulu yang Lahir dari Konflik
Sejarah Bengkulu mencatat banyak versi tentang asal-usul namanya. Catatan kolonial Belanda menyebut wilayah ini sebagai Benkoelen atau Bengkulen.
Bangsa Inggris mengenalnya dengan nama Bencoolen.
Sementara lidah Melayu menyebutnya Bangkahulu.
Sebagian sejarawan menafsirkan nama Bengkulu berasal dari gabungan kata bang yang bermakna pesisir dan kulon yang berarti barat.
Pergeseran bunyi dari mulut ke mulut perlahan membentuk sebutan Bengkulu.
Namun, kisah paling kelam datang dari cerita rakyat.
Perang antar kerajaan di masa lalu menewaskan banyak prajurit di hulu Sungai Bengkulu. Jasad-jasad yang tertinggal memunculkan sebutan bangkai di hulu. Dari sanalah istilah Bangkahulu dipercaya lahir.
Legenda paling terkenal mengisahkan Putri Gading Cempaka, putri Ratu Agung Sungai Serut.
Penolakan lamaran rombongan Aceh memicu peperangan besar. Dalam situasi genting, penguasa Sungai Serut memerintahkan pasukan, “Empang ka hulu!” Hadang mereka di hulu sungai.
Seruan itulah yang diyakini berubah menjadi nama Bengkulu.
Kerajaan-kerajaan yang Membentuk Bengkulu
Sebelum bangsa asing datang, Bengkulu telah menjadi wilayah kerajaan sejak abad ke-12. Kerajaan Selebar tumbuh di kawasan pesisir Pulau Baai dan Jenggalu sebagai pusat aktivitas maritim.
Kerajaan Sungai Serut memegang peran penting dalam sejarah awal Bengkulu. Kerajaan Sungai Lemau menguasai jalur darat di wilayah Pondok Kelapa. Di Rejang Lebong, Kerajaan Empat Petulai membangun tatanan adat yang kuat dan bertahan lama.
Sejarah Bengkulu juga mencatat keberadaan Kerajaan Indera Pura, Kerajaan Sungai Itam di Lebak, serta Kerajaan Gedung Agung dan Manau di Bengkulu Selatan. Semua kerajaan ini membentuk fondasi sosial dan budaya Bengkulu.
Pada abad ke-15, pengaruh Majapahit menjangkau Bengkulu setelah runtuhnya Sriwijaya. Para pemuka agama Buddha dari Sriwijaya memimpin beberapa wilayah, terutama di Rejang Lebong. Pada masa inilah masyarakat Bengkulu mengembangkan aksara Ka, Ga, Nga.
Ketika kekuasaan Majapahit melemah, Kesultanan Banten masuk dan membawa pengaruh politik serta perdagangan pada pertengahan abad ke-16.
Bengkulu Jadi Incaran Bangsa Eropa
Letak strategis dan hasil bumi membuat Bengkulu menjadi incaran bangsa Eropa. Pada 1685, Inggris mendarat dan langsung menancapkan kekuasaan. Kapten J. Andiew memimpin armada yang membawa tiga kapal besar ke Bengkulu.
Inggris menjadikan Bengkulu pusat perdagangan lada. Namun wilayah ini berubah menjadi koloni yang mahal. Penyakit tropis seperti malaria dan kolera menewaskan banyak tentara. Perjalanan laut selama delapan bulan membuat Bengkulu sulit dipertahankan.
Untuk mengamankan wilayah, Inggris membangun Benteng Marlborough pada awal abad ke-18. Benteng megah itu berdiri sebagai simbol kekuasaan kolonial dan masih bertahan hingga kini.
Pada 1824, Bengkulu berpindah tangan ke Belanda. Penjajahan Belanda berlangsung hingga 1942 sebelum Jepang mengambil alih wilayah ini selama Perang Dunia II.
Dari Wilayah Perebutan ke Provinsi
Setelah Indonesia merdeka, Bengkulu memasuki babak baru. Pemerintah menetapkan Bengkulu sebagai provinsi melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967. Kota Bengkulu resmi menjadi ibu kota provinsi.
Dari teriakan perang di hulu sungai hingga benteng kolonial di tepi laut, sejarah Bengkulu membuktikan satu hal: daerah ini tidak pernah diam. Bengkulu selalu menjadi panggung perebutan, perlawanan, dan keteguhan identitas. ***







