Delapan Hikmah dan Nabi serta Sebelas Golongan dari Peristiwa Isra Miraj
Penulis : Ahmad Yasin
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Semidang Aji Ogan Komering Ulu.
Prof M Quraish Shihab pernah menyampaikan dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW (2018), tidak bisa didekati dengan pendekatan ilmiah.
Penyebabnya, jelas Prof Quraish, pendekatan ilmiah harus berdasarkan pada pengamatan, trial and error, serta eksperimen. Peristiwa ini hanya bisa didekati dengan pendekatan iman.
Dalam dua perjalanan inilah, Nabi Muhammad bertemu dengan banyak golongan orang dan para nabi terdahulu yang membawa banyak hikmah.
Pada perjalanan Isra’, Nabi Muhammad bertemu dengan 11 golongan orang dengan berbagai macam tingkah lakunya.
Sementara pada perjalanan Mi’raj, Nabi bertemu dengan 8 nabi yang memberi banyak pesan kehidupan kepadanya. Dengan ini saya menambahkan/menyertakan delapan hikmahnya.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al-Isra, [17]:1).
Memaknai Isra Miraj merupakan cara kita mengambil pembelajaran yang penting untuk hidup kita saat ini.
Memaknainya, tidak hanya sebatas apa yang kita dapat dari pemahaman secara Letterlijk saja. Kita harus melihat secara mendalam, ada pesan apa yang bisa kita tangkap, untuk menguatkan kebutuhan batiniah kita, menghadapi kehidupan modern saat ini.
Sehingga, peristiwa luar biasa atas Isra Miraj bisa kita gali, maksud, atau makna-makna yang luput dari pemahaman banyak orang, terkait pentingnya mengaitkan hal ini, di kehidupan modern kita kini, yang semuanya itu, diambil dari bisa memahami makna, pesan Isra Miraj, dari sisi yang langka diulas para ulama kita.
* Pertama, terkait perjalanan malam, dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti yang dilakukan oleh Nabi. Dan hal ini mengkiaskan bahwa perjalanan keimanan, merupakan perjalanan yang mengasyikan.
Jika kita melakukan itu pada saat malam hari, di mana, hanya manusia yang berbedalah, manusia istimewa lah, yang mampu membangun kedekatan dengan Allah, tatkala banyak manusia lainnya sedang terlelap dalam kenikmatan tidurnya.
Peristiwa malam yang gelap, akan menajamkan hati kita, saat kita pakai buat bermunajat, dan khusu beribadah, sehingga akan terbangun qolbu kita, dan malah akan mengasah terangnya hati kita.
* Kedua, terkait silaturahmi, bertemunya Nabi Muhammad SAW dengan para Nabi, ini menandakan bahwa pertemuan ruh para Nabi dengan Nabi kita, mengingatkan kita, bahwa mereka para orang-orang Soleh sesungguhnya tidak mati, mereka hidup dengan mendapatkan kenikmatan dari-Nya.
Sehingga membangun silaturahmi dengan para orang-orang soleh yang sudah wafat, itu dicontohkan oleh Nabi dalam peristiwa Isra Miraj ini.
Dan kesadaran kita berziarah yang di lakukan oleh umat Islam saat ini, dengan mendatangi makam para orang Soleh, merupakan salah satu bentuk kesadaran dari kita umat Muslim.
Bahwa kita ini, terus membangun silaturahmi dengan para pendahulu kita yang telah wafat, di mana, merekalah yang telah berjasa membawa Islam, hingga Islam itu sampai pada kita, yang hidup di zaman ini, dan itu menjadi kebarokahan bagi umat yang akhirnya terhidayahi Islam, agama yang kita anut, alhamdulillah.
Dan ingat, kita pun harus membangun silaturahmi kita dengan para Aulia Allah, para wali yang masih ada, dimana pun mereka berada.
Utamanya juga, dengan orang tua kita, keramat kita, yang jika mereka masih ada, wajib kita sayangi, dan dengarkan apa yang menjadi pesan kesolehan dari keduanya.
* Ketiga, terkait Nabi Muhammad SAW, mau mendengar, nasehat dari para Nabi-nabi, khususnya Nabi Musa, yang wanti-wanti menyampaikan pengalaman dari Umatnya, pada soal peribadahan.
Yaa…Itu harus kita sikapi, bahwa dalam kehidupan yang sudah serba duniawi ini, nasehat dari para manusia pilihan Tuhan, orang-orang Soleh, para wali, ulama Hanif, yang condong pada kebenaran, harus selalu jadi ingatan, kita perlu mendengarkan nasehatnya.
Ini sebagai pijakan buat kita, agar kita selalu awas dalam menapaki dunia yang banyak jebakannya ini, sehingga dengan mau mendengar nasehat dari mereka, In Sya Allah, kita terselamatkan, dan nasehat itu menjadi kebaikan bagi diri kita.
* Keempat, terkait mendapat kebijaksanaan, sehingga Nabi tercerahkan, dan beliau mendapat keputusan yang bermanfaat bagi umat.
Mau mendengar, menerima saran, akan sangat penting dalam membuka wawasan kita, dan dengan begitu, cakrawala pandangan kita akan semakin meluas, semakin mendalam, dalam melihat sebuah persoalan…
* Kelima, keistimewaan Masjidil Aqsha bagi umat Muslim. Dalam perjalanan Isra’, masjid yang berada di Palestina itu menjadi tempat tujuan Nabi, sebelum akhirnya bertolak ke Sidratul Muntaha.
Ini merupakan indikasi betapa mulianya masjid tersebut. ad Bahkan masjid ini pernah menjadi kiblat shalat sebelum akhirnya berganti Ka’bah.
Pahala shalat Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha) juga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.
* Keenam, Islam merupakan agama yang suci.
Ketika Nabi Muhammad saw diberi pilihan antara air susu dan khamr saat Mi’raj di , Nabi lebih memilih susu. Kemudian Malaikat Jibril as berkata,
“Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah).
* Ketujuh, pentingnya persoalan shalat.
Malam Isra’ Mi’raj merupakan waktu disyariatkannya shalat lima waktu secara langsung, tanpa melalui perantara Malaikat Jibril sebagaimana syariat-syariat lainnya. Ini menunjukkan betapa shalat memiliki kedudukan sangat penting bagi umat Islam.
* Kedelapan, memantapkan Nabi Muhammad saw.
Sebelum Mi’raj, Rasulullah hanya mendengar info terkait surga, neraka, dan hal-hal gaib lainnya melalui wahyu.
Ini namanya ‘ilmul yaqin, Nabi mengimaninya tapi belum melihat langsung.
Ketika Mi’raj, Rasulullah saw melihat langsung dengan mata kepala beliau sendiri. Ini namanya ‘ainul yaqin. Ketika seseorang sudah sampai pada ‘ainul yaqin, maka kemantapan atas apa yang diyakininya semakin kuat.
sebagaimana termaktub dalam kitab Dardir Miraj karya Syekh Najmudin Al-Ghaithi, ada 11 golongan yang ditemui Nabi saat Isra. Golongan tersebut adalah sebagai berikut:
Orang-orang yang gemar bersedekah yang digambarkan dengan panen yang tak berhenti-henti
Orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada agama Allah yang dicontohkan dari bau harum keluarga besar Masyitah yang dimasak hidup-hidup oleh Fir‘aun karena tidak mau mengakuinya sebagai Tuhan
Pemalas mengerjakan shalat fardhu yang akan mendapat siksaan berupa kepala yang pecah dan kembali utuh dan berlangsung berkali-kali
Orang-orang yang enggan bersedekah yang diibaratkan memakan pohon dhari’ (pohon kering dan berduri), zaqqum (tumbuhan yang rasanya pahit) dan batu yang panas
Pezina yang lebih memilih wanita lain di luar istrinya sendiri yang diibaratkan dengan memilih daging busuk daripada daging empuk
Para perampok atau pembegal yang akan mendapat balasan terbakar oleh kayu di tengah jalan akibat kelakuannya sendiri
Pemakan harta riba yang diibaratkan seperti orang yang berenang di sungai yang penuh darah
Golongan orang yang rakus jabatan yang diibaratkan dengan orang memikul kayu bakar berat di pundaknya, namun masih terus ingin menambah kayunya walaupun sebenarnya mereka tidak kuat memikulnya
Para dai yang tidak mengamalkan ucapannya yang diperlihatkan lidah dan mulutnya dipotong dengan menggunakan gunting besi berulang-ulang
Para pengumpat yang digambarkan dengan golongan orang yang berkuku panjang dan terbuat dari tembaga yang mencakar-cakar muka mereka dengan kuku tersebut
Golongan provokator yang karena ulahnya menimbulkan masalah besar yang diibaratkan dengan keluarnya seekor sapi yang besar dari lubang kecil. Setelah itu sapi tersebut tidak mampu kembali masuk ke lubang.
Sementara dalam Sirah Nabawiyah (Syekh Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), saat Mi’raj ke langit, Nabi Muhammad bertemu dengan 8 nabi dengan berbagai kejadian yang banyak mengandung hikmah mendalam.
Delapan nabi yang bertemu dengan Rasulullah adalah sebagai berikut:
Nabi Adam yang bertemu di langit lapis pertama
Nabi Yahya yang bertemu di langit lapis kedua
Nabi Isa yang bertemu di langit lapis kedua
Nabi Yusuf yang bertemu di langit lapis ketiga
Nabi Idris yang bertemu di langit lapis keempat
Nabi Harun yang bertemu di langit lapis kelima
Nabi Musa yang bertemu di langit lapis keenam
Nabi Ibrahim yang bertemu di langit lapis ketujuh. (*)












