Khazanah Islam

Esensi Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

×

Esensi Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Sebarkan artikel ini
Ust. Ahmad Yasin

Esensi Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

 

Persembahan Ustadz Yasin

 

Puasa Ramadhan sering kali dipahami sebatas menahan lapar, haus, dan hubungan suami-istri sejak terbitnya fajar hingga Magrib.

 

Padahal, esensi puasa jauh melampaui itu. Puasa adalah proses mendidik batin agar lebih peka, bersih, dan terkendali.

 

Jika yang ditahan hanya perut, tetapi lisan, mata, dan hati dibiarkan ‘liar’, maka puasa yang dijalani kehilangan ruhnya.

 

Ulama besar Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengingatkan bahwa puasa sejatinya memiliki dimensi batin yang tak kalah penting dari dimensi lahir.

 

Imam Al-Ghazali dalam kitab Sulwatul Arifin menjelaskan, bahwa ada 6 perkara batiniyah yang harus dijaga untuk terwujudnya kesempurnaan puasa agar tidak hanya menjadi rutinitas tahunan semata.

 

Menjaga Pandangan: Bijak di Era Scroll Tanpa Batas

 

اِعْلَمْ أَنَّ تَمَامَ الصِّيَامِ سِتَّةُ أُمُورٍ: الْأَوَّلُ: غَضُّ الْبَصَرِ عَنِ النَّظَرِ إِلَى مَا يُذَمُّ وَيُكْرَهُ، وَإِلَى كُلِّ مَا يُلْهِي الْقَلْبَ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى. قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَمْسَةٌ يُفَطِّرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ، وَالنَّمِيمَةُ، وَالْغِيبَةُ، وَالْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ

 

Artinya: “Ketahuilah bahwa kesempurnaan puasa terwujud dengan enam perkara”. Pertama, adalah menundukkan pandangan dari hal-hal yang tercela dan dibenci, serta dari segala sesuatu yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah Ta‘ala.

 

Rasulullah SAW bersabda: “Lima perkara dapat merusak puasa orang yang berpuasa: berdusta, mengadu domba, menggunjing (ghibah), bersumpah palsu, dan memandang dengan syahwat.” (Imam Al-Ghazali, Sulwatul Arifin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011 M], juz 1, halaman 270).

 

Dalam hal ini, puasa mengajarkan kita untuk lebih selektif dalam “meng-scroll”. Tidak semua yang lewat di beranda harus kita nikmati.

 

Jika mata terus dijejali hal yang mengundang hasrat, iri, atau kelalaian, maka hati sulit khusyuk.

 

Di era digital sekarang ini, menjaga pandangan berarti, memfilter konten, mengurangi tontonan yang tak bermanfaat, dan menahan diri dari konten provokatif dan sensual.

 

Karena mata adalah pintu hati, apa yang masuk lewat mata, akan menetap dalam jiwa.

 

Menjaga Lisan: Etika Berkomentar di Media Sosial

 

الثَّانِي: حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْهَذَيَانِ، وَالْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الصَّوْمُ جُنَّةٌ، فَإِذَا صَامَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ اغْتَابَ خَرَقَ صَوْمَهُ، فَلْيَرْقَعْهُ بِالِاسْتِغْفَارِ

 

Artinya: “Kedua, adalah menjaga lisan dari ucapan sia-sia, dusta, dan ghibah”. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”

 

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa berghibah, maka ia telah merobek puasanya; hendaklah ia menambalnya kembali dengan istighfar (memohon ampun)”. (Imam Al-Ghazali, Sulwatul Arifin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011 M], juz 1, halaman 270).

 

Maka dari itu jangan sampai saat kita menahan lapar tapi secara bersamaan membiarkan lisan kita melukai orang lain, itu sama saja merobek pahala puasa kita sendiri.

 

Karena Ramadhan adalah momen latihan untuk lebih bijak berbicara seperlunya. Kita dapat memulai menjaga lisan dari hal-hal kecil seperti, tidak mudah terpancing debat kusir, tidak menyebar berita tanpa verifikasi (berita hoax), dan tidak menjadikan puasa sebagai tameng kemarahan (“lagi puasa, jangan ganggu!”).

 

Karena satu komentar kasar bisa menghapus keheningan ibadah seharian.

 

Menjaga Pendengaran: Selektif terhadap Informasi

 

الثَّالِثُ: كَفُّ السَّمْعِ عَنِ الْإِصْغَاءِ إِلَى كُلِّ مَكْرُوهٍ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُغْتَابُ وَالْمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الْإِثْمِ (وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ يُكَمِّلُ صَوْمَهُ صَوْمَ رَمَضَانَ وَاحِدٍ فِي عِشْرِينَ رَمَضَانَ، وَإِنَّ الْعَبِيدَ يَصِحُّ لَهُ صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ خَمْسَةِ أَيَّامٍ كَمَا تَصِحُّ لَهُ صَلَاةٌ وَاحِدَةٌ فِي خَمْسِ صَلَوَاتٍ)

Artinya: “Yang ketiga adalah menahan pendengaran dari mendengarkan segala hal yang dibenci (maksiat). Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berghibah dan orang yang mendengarkannya sama-sama menanggung dosa.” (Di antara manusia ada yang baru menyempurnakan puasanya satu Ramadhan dalam dua puluh Ramadhan; dan sesungguhnya seorang hamba ada yang sah baginya puasa satu hari dari lima hari, sebagaimana sah baginya satu salat dari lima waktu salat). (Imam Al-Ghazali, Sulwatul Arifin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011 M], juz 1, halaman 271).

 

Di zaman podcast, space digital, dan grup percakapan yang aktif 24 jam, telinga juga harus berpuasa.

 

Mendengarkan ghibah, fitnah, atau ujaran kebencian sama dosanya dengan pelaku utama.

 

Kadang kita merasa tidak ikut membicarakan, padahal kita menikmati dan membiarkannya berlangsung. Maka dari itu, puasa mengajarkan untuk, keluar dari grup yang penuh gosip, tidak menikmati konten yang merendahkan orang lain, dan mengganti tontonan negatif dengan kajian atau hal yang produktif, karena telinga yang bersih membantu hati tetap jernih.

 

Menjaga Anggota Tubuh dari Maksiat:

 

Integritas di Ruang Publik dan Privat الرَّابِعُ: كَفُّ بَقِيَّةِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَكَارِهِ، وَكَفُّ الْبَطْنِ عَنِ الْإِفْطَارِ بِالْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ فَمَثَلُ هَذَا الصَّائِمِ الَّذِي يُفْطِرُ عَلَى الْحَرَامِ مَثَلُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا؛ فَإِنَّ الْحَرَامَ سُمٌّ يُهْلِكُ الدِّينَ، وَالْحَلَالَ دَوَاءٌ يَنْفَعُ قَلِيلُهُ وَيَضُرُّ كَثِيرُهُ فَالْعَبْدُ الْحَافِظُ حُدُودَ اللَّهِ إِنْ أَفْطَرَ بِالْأَكْلِ وَالْجِمَاعِ فَهُوَ صَائِمٌ عِنْدَ اللَّهِ فِي الْفَضْلِ، وَمَنْ صَامَ بِالْأَكْلِ وَالْجِمَاعِ وَتَعَدَّى الْحُدُودَ فَهُوَ مُفْطِرٌ عِنْدَ اللَّهِ صَائِمٌ عِنْدَ نَفْسِهِ. وَكُلُّ حَرَامٍ عَلَيْكَ أَنْ تَفْعَلَهُ فَحَرَامٌ عَلَيْكَ أَنْ تُفْطِرَ إِلَيْهِ أَوْ يَخْطُرَ بِبَالِكَ وَقَدْ سَوَّى اللَّهُ بَيْنَ الْمُسْتَمِعِ وَالْقَائِلِ: ﴿إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ﴾

 

Artinya: “Yang keempat yaitu menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan tercela, serta menjaga perut dari berbuka dengan sesuatu yang haram atau syubhat.

 

Perumpamaan orang yang berpuasa tetapi berbuka dengan yang haram seperti orang yang membangun istana namun merobohkan sebuah kota.

 

Sebab, yang haram itu ibarat racun yang merusak agama; sedangkan yang halal ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, tetapi berlebihan justru membahayakan”.

 

Seorang hamba yang menjaga batas-batas Allah, meskipun ia berbuka dengan makan dan berhubungan suami-istri, ia tetap “orang yang berpuasa” di sisi Allah dalam hal keutamaan.

 

Sebaliknya, orang yang secara lahir menahan makan dan jima‘, tetapi melanggar batas-batas Allah, maka di sisi Allah ia tergolong “orang yang berbuka”, meski menurut dirinya ia sedang berpuasa.

 

Setiap hal yang haram bagimu untuk dilakukan, maka haram pula bagimu menjadikannya sebagai sarana berbuka atau sekadar terlintas dalam benak untuk dituju.

 

Allah telah menyamakan orang yang mendengarkan kemungkaran dengan orang yang melakukannya: “Sesungguhnya kamu pada saat itu sama seperti mereka.” (Imam Al-Ghazali, Sulwatul Arifin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011 M], juz 1, halaman 271-272).

 

Dari keterangan di atas, menjelaskan bahwa ibadah ritual harus dibarengi dengan integritas moral.

 

Di era modern seperti saat ini kita dapat menjaga diri dari memanipulasi laporan kerja, korupsi waktu dengan bermalas-malasan, dan bisnis yang merugikan orang lain.

 

Karena Imam al-Ghazali sendiri telah menjelaskan perumpamaan orang yang berbuka puasa dengan yang perkara atau cara yang haram itu seperti membangun istana tetapi merobohkan kotanya.

 

Menjaga Perut Agar Tidak Berlebihan saat Berbuka: Kritik atas Budaya Konsumtif

 

الْخَامِسُ: أَنْ لَا تَسْتَكْثِرَ مِنَ الْحَلَالِ عِنْدَ الْإِفْطَارِ حَتَّى تَمْتَلِئَ؛ فَمَا مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضَ إِلَى اللَّهِ مِنْ بَطْنٍ مُلِئَ مِنَ الْحَلَالِ وَكَيْفَ يُسْتَفَادُ مِنَ الصَّوْمِ إِذَا تَدَارَكَ الصَّائِمُ عِنْدَ الْفِطْرِ مَا فَاتَهُ ضُحْوَةَ النَّهَارِ، حَتَّى اسْتَمَرَّتِ الْعَادَاتُ لِبَعْضِ النَّاسِ أَنْ يَدَّخِرُوا لِرَمَضَانَ جَمِيعَ أَلْوَانِ الْأَطْعِمَةِ، فَيُؤْكَلُ فِيهِ مَا لَا يُؤْكَلُ فِي عِدَّةِ شُهُورٍ فَإِنَّ مَقْصُودَ الصَّوْمِ كَسْرُ الْهَوَى الَّتِي هِيَ وَسَائِلُ الشَّيْطَانِ، وَلَنْ يَحْصُلَ ذَلِكَ إِلَّا بِالتَّقْلِيلِ؛ وَهُوَ أَنْ يَأْكُلَ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا لَوْ لَمْ يَصُمْ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ لَمْ يَنْتَفِعْ بِصَوْمِهِ

 

Artinya: “Kelima adalah tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan halal saat berbuka hingga perut penuh. Tidak ada wadah yang lebih dibenci Allah daripada perut yang dipenuhi makanan halal (secara berlebihan)”.

 

Bagaimana mungkin puasa memberi manfaat, jika saat berbuka orang yang berpuasa menebus semua yang “hilang” di siang hari? Sampai-sampai sebagian orang menjadikan Ramadhan sebagai “musim pesta makanan”: berbagai hidangan dikumpulkan dan dimakan di bulan ini, sesuatu yang tidak dimakan selama berbulan-bulan.

 

Padahal tujuan puasa adalah menundukkan hawa nafsu—yang merupakan jalan masuk setan—dan itu tidak akan tercapai kecuali dengan mengurangi porsi makan.

 

Maksudnya, ia makan di setiap malam sebagaimana kebiasaan makannya jika tidak berpuasa. Jika tidak demikian, ia tidak mendapatkan manfaat hakiki dari puasanya. (Imam Al-Ghazali, Sulwatul Arifin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011 M], juz 1, halaman 272).

 

Sementara itu, fenomena “war takjil”, buka puasa mewah, dan konten mukbang Ramadan sering kali bertolak belakang dengan semangat puasa itu sendiri. Ramadan yang seharusnya menjadi bulan pengendalian diri, justru berubah menjadi festival kuliner, meja makan penuh, tetapi empati sosial kosong.

 

Menjaga Hati di Antara Takut (Khouf) dan Harap (Raja’)

 

السَّادِسُ: أَنْ يَكُونَ قَلْبُهُ بَعْدَ الْإِفْطَارِ مُتَرَدِّدًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ؛ إِذْ لَا يَدْرِي أَتُقُبِّلَ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ، أَمْ رُدَّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ وَهَكَذَا يَكُونُ الْحَالُ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرُغُ مِنْهَا

 

Artinya: “Yang keenam, yaitu hati seorang hamba berada di antara rasa takut dan harap dalam keadaan setelah berbuka. Dalam artian, orang yang berpuasa ini tidak tahu apakah puasanya diterima atau tidak, sehingga ia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), atau justru ditolak sehingga ia termasuk orang-orang yang dimurkai.

 

Demikianlah seharusnya sikap batin setelah menyelesaikan setiap ibadah: selalu antara takut dan berharap. (Imam Al-Ghazali, Sulwatul Arifin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2011 M], juz 1, halaman 272).

 

Dari penjelasan di atas, Imam al-Ghazali mengajarkan agar hati selalu berada antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Takut jika amal tidak diterima, dan berharap pada rahmat Allah.

 

Sikap inilah yang membuat kita, tidak merasa paling suci, tidak mudah menghakimi orang lain, dan tdak putus asa dari rahmat-Nya. Karena puasa yang benar melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan spiritual.

 

Inilah enam nilai spiritual puasa yang bisa mengantatkan kita kepada kesempirnaan puasa. Dan enam perkara ini yang bisa mengingatkan kita bahwa puasa bukan sekedar menahan lapar, melainkan proses membentuk karakter.

 

Mulai dari mata, lisan, telinga, tangan, perut, dan hati—semuanya ikut ditempa. Jika puasa hanya berhenti pada jadwal makan-minum, perubahan diri sulit terasa.

 

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi tempat pendidikan sebulan penuh, untuk melatih kendali diri. Lapar dan haus hanyalah pintu masuknya.

 

Tujuan akhirnya adalah lahirnya pribadi yang lebih jujur, lebih bersih dari iri dengki, lebih hemat dalam konsumsi, dan lebih lembut dalam bersikap.

 

Jika setelah Ramadhan kita masih lebih sabar, lebih hati-hati berbicara, dan lebih sederhana dalam hidup, berarti puasa kita tidak sekadar sah, tetapi juga bermakna. Wallahu a’lam. (*)

Baca juga :

Alhamdulillah, Reward Atlet Kabupaten OKU Dibayar Lunas

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News