PALEMBANG — Awal tahun 2026 membawa kabar menggembirakan bagi sektor perkebunan karet di Sumatra Selatan. Harga karet alam mengalami kenaikan signifikan seiring pulihnya pasar global, kondisi yang mulai dirasakan langsung hingga ke tingkat petani.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel, Rudi Arpian, menyebutkan bahwa pergerakan harga karet saat ini berada dalam fase positif.
Dibandingkan tahun 2025 lalu yang masih berkutat di level sekitar US$1,5 per kilogram, harga karet dunia kini telah meningkat ke kisaran US$1,8 per kilogram.
BACA JUGA Sembilan Kepala Dinas dan Enam Kepsek dì OKU Dilantik, Konon Siang Ini
BACA JUGA Ini Dia Daftar Kepala OPD dan Enam Kepsek dì OKU yang Dilantik
“Pergerakan harga memang sedang mengarah naik dan mengikuti tren internasional,” ujar Rudi, Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan dari negara-negara pengimpor. Sementara itu, pasokan karet global belum sepenuhnya pulih, sehingga menciptakan tekanan yang mendorong harga tetap berada di level tinggi.
Permintaan karet, kata Rudi, terutama datang dari sektor industri otomotif. Selain kebutuhan ban kendaraan, perkembangan teknologi kendaraan listrik juga ikut meningkatkan konsumsi karet untuk berbagai komponen pendukung.
“Karet dibutuhkan tidak hanya untuk ban, tetapi juga untuk peredam getaran dan berbagai komponen teknis pada kendaraan listrik,” jelasnya.
BACA JUGA Abusama “berkuda” Tinjau Pembangunan Jalan Lingkar Simpang – Buana Pemaca
Kondisi pasar yang membaik ini turut berdampak pada harga di tingkat petani. Saat ini, harga karet di Sumatra Selatan berada di rentang Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram, dengan fluktuasi mengikuti kualitas dan transaksi mingguan.
“Bagi petani, ini menjadi angin segar setelah sebelumnya harga cukup lama berada di posisi rendah,” kata Rudi.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy, memproyeksikan harga karet sepanjang 2026 masih berpotensi bertahan di kisaran US$1,80 hingga US$2,00 per kilogram.
BACA JUGA Cemburu Buta, Suami Kalap Bantai Istri dengan Pisau
Ia menilai pasokan yang belum longgar dan permintaan yang mulai stabil menjadi faktor utama penopang harga.
“Kita berharap tren positif ini berkelanjutan sehingga bisa menumbuhkan kembali semangat petani karet, khususnya di Sumsel,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Gapkindo Sumsel, produksi karet di Sumatra Selatan selama Januari hingga November 2025 mencapai 738.091 ton. Produksi tertinggi tercatat pada September 2025 dengan volume sebesar 69.258 ton. ***












