Khutbah Jumat

Lima Ciri Haji Mabrur

×

Lima Ciri Haji Mabrur

Sebarkan artikel ini
Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU
Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd.Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU

Lima Ciri Haji Mabrur

Persembahan Ust.Yasin. Pengurus IPARI OKU

Khutbah I

أَلْحَمْدُ للهِ الْمَحْمُودِ عَلَى كُلِّ حَال، أَلْمَوْصُوفِ بِصِفَاتِ الْجَلَالِ وَالْكَمَال، أَلْمَعْرُوفِ بِمَزِيدِ الْإِنْعَامِ وَالْإِفْضَال. أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيكَ لَهُ ذُو الْعَظَمَةِ وَالْجَلَال, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه, وَخَلِيلُهُ الصَّادِقُ الْمَقَال. أَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيرِ صَحْبٍ وَآلٍ, وَسَلِّمْ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَاأَيُّهَا النَّاس، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْۤا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selau dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya Amin.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Saat ini jamaah haji sudah selesai melaksanakan ibadah haji serta ibadah yang lain yang mengiringinya.

Harapannya adalah setelah mendapatkan haji mabrur. Lalu apa itu haji mabrur? Menurut bahasa, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah.

Sedangkan menurut istilah, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang.

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّة
Artinya: “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimanakah kriteria haji mabrur? Berikut beberapa gambaran haji yang mabrur:

Pertama, ikhlas melaksanakan ibadah
Seorang yang berhaji harus berusaha menunjukkan keikhlasan dalam melaksanakan ibadahnya, tanpa dirusak oleh pikiran maupun kegiatan yang merusak keikhlasan.

Tanpa diniatkan dan dorongan keikhlasan yang kuat untuk beribadah haji, maka sangat mungkin akan melakukan kegiatan atau pemikiran yang bisa merusak kemabruran ibadah hajinya.

Kerusakan ibadah haji bisa terjadi lantaran ibadah haji adalah ibadah fisik dan juga ada sebagian yang tidak logis.

Di sisi lain bahwa selama beribadah haji, terkadang mendapatkan ketidaknyamanan, emosi karena tindakan orang, terinjak atau kegiatan lain yang boleh jadi menjadikan seseorang bisa tersulut.

Untuk itu keikhlasan dalam menjalankan ibadah haji sangat dibutuhkan agar lebih mudah secara rasional untuk mendapatkan haji mabrur.

Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ
“Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan.” (QS Al-Bayyinah: 5)

Kedua, menghindari maksiat dan dosa
Di dalam setiap diri manusia ada nafsu yang bercokol dan tidak bisa dihilangkan karena memang itu ketentuan dari Allah.

Nafsu tidak bisa dihilangkan oleh setiap manusia, akan tetapi yang bisa dilakukan adalah mengontrol nafsu agar bisa diatur sesuai dengan kemauan pemiliknya.

Ketika melakukan ibadah haji, mengontrol nafsu, terutama nafsu lawwamah atau nafsu yang jelek menjadi sangat penting mengingat efek atau akibat tak mampu mengontrol nafsu bisa jadi tak sah atau rusak haji dan sangat mungkin tidak akan mendapatkan haji yang mabrur.

Allah berfirman: yang arrtinya:
’’(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.

Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! ” (QS Al-Baqarah: 197)

Ketiga, memberi makan orang lain dan berucap yang baik

Orang yang baik adalah orang banyak memberi manfaat kepada orang lain. Makanan adalah kebutuhan pokok bagi seluruh manusia.

Mengingat makanan adalah kebutuhan pokok sehingga menjadi penting memperoleh dan menikmati makanan sesuai dengan  kebutuhan.

Rasulullah bersabda:Yang Artinya:

’’Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah bersabda, haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga. Lalu sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya? Rasulullah menjawab, memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik.” (HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi)

Keempat, menebar kedamaian

Setiap manusia dalam menjalani hidupnya baik keluarga maupun masyarakat mendambakan kedamaian, tak ada keributan, kerusuhan, percekcokan, apalagi permusuhan yang tak berujung.

Salah satu makna Islam adalah selamat, sehingga semua masyarakat yang beragama Islam mendambakan keselamatan yang juga beriringan dengan kedamaian.

Tak ada kedamaian tanpa keselamatan, tak ada keselamatan tanpa adanya keinginan dari manusianya untuk selamat.

Oleh karena itu, mendorong dan mendukung serta menfasilitasi keselamatan dan kedamaian orang lain menjadi sangat penting bagi kita dan seluruh umat manusia di dunia ini.

Sehingga selalu kebaikan dan kebaikan yang dipikirnya dan diusahakannya ketika ibadah dan tentunya berpengaruh ketika sudah pulang ke kampung halaman karena mendapatkan haji mabrur.

Kelima, tak mengonsumsi harta haram
Setiap manusia membutuhkan harta dan selalu berusaha mencari harta ketika masih hidup di dunia.

Dalam usaha mencari dan mengonsumsi harta sangat penting untuk selalu dalam koridor harta yang halal dan thoyib. Mengonsumi harta yang halal dan thoyib akan berpengaruh kepada perilaku penggonsumsinya.

Dalam rangka mengharap kemabruran dalam ibadah haji, maka seseorang yang berangkat haji akan berusaha memperbaiki diri baik sikap maupun makanan yang dikonsumsi.

Jika dia memiliki kesalahan kepada Allah, maka dia akan beristighfar dan meminta ampun kepadaNya. Jika dia memiliki dosa kepada sesama, maka dia akan meminta maaf.

Rasulullah bersabda:
“Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yang baik.” (HR Muslim: 1015)

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Demikian khutbah yang singkat ini, semoga bisa dipahami dan kita berusaha untuk melakukan amalan ibadah yang baik, sehingga Allah Ridha. Amin.

بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ أوصيكم ونفسي بِتَقْوَى اللّه. اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ  عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News