Khazanah Islam

Memilih Guru Agama yang Tepat Menurut Imam Asy-Syathibi

×

Memilih Guru Agama yang Tepat Menurut Imam Asy-Syathibi

Sebarkan artikel ini
Ust. Ahmad Yasin

Memilih Guru Agama yang Tepat Menurut Imam Asy-Syathibi

Persembahan : Ustadz. Yasin,S.H.I.,M.Pd.

Kemajuan teknologi telah memudahkan banyak aktivitas manusia manusia dalam memenuhi kebutuhannya, di antaranya dalam mencari ilmu.

Fenomena mengaji daring lewat berbagai media sosial telah menjadi tren di kalangan milenial.

Meskipun, sebagian dari kita mungkin prihatin karena tak semua ustadz yang tampil masih belum cakap dalam bidang ilmu agama.

Beberapa dari mereka sempat membuat polemik karena menyampaikan ajaran yang tak tepat.

Kendati ada masalah dalam hal kapasitas dan sanad keilmuan, ironisnya mereka terlanjur dikerubungi para pengikut fanatik.

Padahal, ulama kita dahulu telah mengatakan:
قال عبد الله بن مبارك  الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
Abdullah bin Mubarak mengatakan “Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada kewajiban mengambil sanad, niscaya siapa pun akan mengucapkan apa pun yang ia inginkan (mengenai agama)” (Lihat: Muqaddimah Shahih Muslim, hal. 9).

Sanad keilmuan adalah nilai penting dalam mencari ilmu agama. Oleh karena itu, agama memerintahkan kita untuk lebih selektif dalam memilih seorang guru.

Sebagaimana dalam hadits:
قَالَ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
Muhammad bin Sirin mengatakan “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian (Lihat: Muqaddimah Shahih Muslim, hal. 10).

Syekh Ibrahim bin Musa asy-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat memberikan kita tips dalam mencari guru yang tepat:
من أنفع طرق العلم الموصلة إلى غاية التحقق به أخذه عن أهله المتحققين به على الكمال والتمام

Artinya: “Di antara jalan untuk mencari ilmu yang dapat mengantarkan pelajar ke ujung kepakaran dalam bidangnya adalah mengambil ilmu dari ahli/pakar yang telah membidangi ilmu tersebut secara sempurna dan menyeluruh” (Ibrahim bin Musa asy-Syathibi, al-Muwafaqat [Beirut: Dar Ibnu Affan], 2007, juz 1 hal. 139).

Lantas, bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang itu benar-benar ahli/pakar sehingga layak dijadikan guru yang tepat? Imam asy-Syathibi dalam kitab yang sama menjabarkan dua tanda dan bukti kepakaran seorang guru dalam bidang ilmu.

Pertama, ia telah mengamalkan apa yang telah ia pelajari sehingga ucapan yang keluar darinya sesuai dengan perbuatannya.

Apabila perbuatannya tidak sesuai dengan ucapannya maka ia bukan ahli/pakar yang pantas untuk diambil ilmu darinya serta ia tidak pantas dijadikan panutan dalam ilmu.

Kedua, ia adalah seorang guru yang dahulunya ditempa oleh para pakar dalam bidang keilmuan tersebut.

Ia telah sempurna mengambil ilmu dari guru-gurunya serta ia telah lama hidup bersama (mulazamah) dengan para guru-gurunya.

Sehingga ia pantas mendapatkan pujian dan gelar sebagaimana guru-gurunya.
Menurut Imam asy-Syatibi, begitulah tradisi ulama terdahulu.

Pada mulanya, para sahabat Nabi hidup bersama (mulazamah) dengan Nabi, mereka mengambil manfaat dari segenap perkataan dan perbuatan Nabi, serta mereka juga mengikuti seluruh ketetapan Nabi dalam setiap keadaan.

Dan tradisi para sahabat Nabi diturunkan kepada generasi selanjutnya. Kemudian, para tabi’in juga meneladani tradisi para sahabat bersama Nabi.

Sehingga, para tabi’in mampu sampai ke dalam derajat kesempurnaan dalam ilmu syariat. Dan cukuplah bagi seseorang bukti bahwa tidak ada seseorang yang alim lagi masyhur bermanfaat di antara masyarakat, kecuali mereka memiliki panutan yang masyhur diikuti di zamannya.

Dan sedikit sekali ditemukan golongan atau seseorang yang  melenceng dari sunnah Nabi, kecuali mereka telah menyimpang dari sifat-sifat (guru) yang telah dijelaskan di atas. (Ibrahim bin Musa asy-Syathibi, al-Muwafaqat [Beirut: Dar Ibnu Affan], 2007, juz 1 hal. 139).

Dari penjelasan Imam asy-Syathibi, ada hal yang telah menjadi sebuah tradisi sejak zaman dahulu yang relevan hingga sekarang, yaitu seorang yang alim pasti tercetak dari guru-guru yang alim dan kompeten di bidangnya.

Sebagaimana contoh Gus Baha’ yang terkenal alim yang dididik oleh seorang guru agung bernama KH Maimoen Zubair dan sesamanya.

Oleh karena itu, seandainya kita ingin menjadi seorang ulama di masa mendatang wajib bagi kita untuk mencari guru yang alim nan andal sebagaimana yang dijelaskan ciri-cirinya oleh Imam Ibrahim bin Musa asy-Syathibi.

Sedangkan, bagi kita semua sebagai barisan para penuntut ilmu ketika telah menemukan guru yang tepat maka wajib untuk mempelajari ilmu dengan sabar. Sebagaimana nasihat ulama kita:

  قال الزهري إن هذا العلم إن أخذته بالمكاثرة غلبك ولم تظفر منه بشيء، ولكن خذه مع الأيام والليالي أخذا رفيقا تظفر به.

Az-Zuhri mengatakan “Sesungguhnya ilmu (agama) ini, seandainya engkau mempelajarinya dengan terburu-buru, niscaya engkau akan merasa kelelahan dan engkau tak mampu memahami sedikitpun darinya, akan tetapi pelajarilah ilmu (agama) siang dan malam dengan sabar dan lembut, niscaya engkau akan memahaminya dengan baik”. (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyatul Auliya’, [Beirut: Dar al-Fikr], 1996, juz 3 hal. 364).

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Manan Abdul Ghani mengharapkan nahdliyin untuk tidak memutus silsilah atau sanad dalam belajar dan memperdalam pengetahuan agama Islam.

“Sebab, kita ini belajar agama Islam tentu dari para guru yang jika sanadnya dirunut akan sampai kepada Nabi Muhammad,” jelas Kiai Manan saat acara Silaturahim Ulama Kampung se-Bekasi Raya, di Aula An-Nadwa Islamic School, Kabupaten Bekasi, Rabu (26/12).

Karena itulah, lanjutnya, Umat Islam harus selalu menaruh hormat dan takzim kepada para Guru dan  ulama.

Lebih jauh, ia menjelaskan sejarah masuknya Islam ke Indonesia melalui Samudra Pasai yang dibawa oleh para kekasih Allah.

“Mereka itu mengajarkan agama Islam tentang tiga hal. Yakni akidah, syariah, dan akhlak. Sanad keilmuan para wali Allah itu pun sampai kepada Nabi Muhammad,” kata Kiai Manan.

Sementara menurut Pemikiran Syekh Nawawi mengenai pendidikan Islam berakar kuat pada pandangan dunia tauhid dan bertujuan membentuk insan kamil yang mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, dan moral.

Beliau menggunakan beberapa istilah kunci untuk menjelaskan dimensi-dimensi pendidikan dalam Islam.

Hakikat Pendidikan: Makna dan Relasi Ta’lim, Tarbiyah, Ta’dib
Syekh Nawawi al-Bantani menggunakan tiga istilah utama yang sering diasosiasikan dengan pendidikan dalam Islam, yaitu ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib.

Bagi beliau, ketiga istilah ini secara kolektif menggambarkan hakikat pendidikan Islam sebagai sebuah proses dinamis yang tidak hanya melibatkan transfer pengetahuan, nilai, dan metodologi (transfer of knowledge, value, methodology), tetapi juga transformasi mendalam pada diri peserta didik (transformation).

Ta’lim: Istilah ini seringkali dipahami sebagai pengajaran atau instruksi. Namun, Syekh Nawawi memberikan makna yang lebih luas.

Beliau menafsirkan bahwa ta’lim tidak hanya sebatas penyampaian informasi (aspek kognitif), tetapi juga mencakup pembimbingan menuju keimanan dan pemahaman tentang bagaimana mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan.

Dalam menafsirkan Surat Ar-Rahman ayat 2 (عَلَّمَ الْقُرْآنَ), beliau menjelaskan bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia melalui perantara Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, yang kemudian mengajarkannya kepada umat.

Ini menunjukkan proses transmisi ilmu yang terstruktur. Ta’lim tampaknya dianggap sebagai istilah yang paling luas cakupannya oleh Syekh Nawawi.

Tarbiyah: Istilah ini, yang secara bahasa berarti tumbuh, berkembang, atau memelihara, dalam pandangan Syekh Nawawi lebih ditekankan pada konteks pengasuhan dan pendidikan anak sejak usia dini.

Merujuk pada doa dalam Surat Al-Isra ayat 24 (…رَّبِ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا), beliau mengaitkan tarbiyah dengan peran orang tua dalam mendidik dan mengasihi anak dari kecil hingga dewasa.

Fokusnya adalah pada perkembangan fisik, emosional, dan spiritual anak dalam lingkungan keluarga.

Ta’dib: Istilah ini secara spesifik merujuk pada pembentukan adab, etika, atau akhlak mulia.

Syekh Nawawi, dalam menafsirkan perintah “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6), mengutip pandangan yang memaknai addibûhum (didiklah mereka) sebagai ‘allimûhum mahâsin al-akhlâq (ajarkanlah mereka akhlak yang mulia).

Meskipun beliau terkadang menyamakan ta’dib dengan ta’lim karena keduanya mengarah pada transformasi, penekanan utama ta’dib adalah pada internalisasi nilai-nilai moral dan pembentukan karakter Islami.

Meskipun terdapat nuansa perbedaan dalam penekanan masing-masing istilah, Syekh Nawawi tampaknya tidak membuat pemisahan yang kaku di antara ketiganya.

Beliau melihat ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib sebagai aspek-aspek yang saling terkait dan terintegrasi dalam satu kesatuan proses pendidikan yang holistik.

Fokus utamanya bukanlah pada definisi terminologis yang rigid, melainkan pada hasil akhir pendidikan yang komprehensif: terbentuknya pribadi Muslim yang utuh, yang mengalami transformasi secara intelektual, spiritual, dan etika.

Tujuan akhirnya adalah transformasi, bukan sekadar transfer informasi. Pendekatan terpadu ini menawarkan wawasan bagi pendidikan Islam modern untuk menghindari pemisahan artifisial antara pengembangan intelektual, pertumbuhan spiritual, dan pembinaan karakter.

Syekh Nawawi al-Bantani, adalah bersambung silsilah dari guru penulis setelah syeh Mahfud At-termasi kemudian KH. Hasyim As-A’ri, kemudian KH.Ahmad Djazuli Usman lalu KH.

Khori Ma’ruf yang memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani , merupakan figur ulama Nusantara yang reputasinya melampaui batas geografis Indonesia.

Lahir di Tanara, Banten, sekitar tahun 1813 atau 1815 Masehi dan wafat di Mekkah pada tahun 1897 M , beliau dikenal luas sebagai seorang intelektual dan pendidik yang sangat produktif.

Penguasaannya atas berbagai disiplin ilmu keislaman—mencakup Tafsir, Fiqh, Tauhid, Tasawuf, Hadis, Akhlak, hingga Bahasa Arab—tercermin dalam ratusan karyanya yang monumental.

Kealiman dan pengaruhnya diakui secara internasional, terbukti dengan gelar kehormatan Sayyid Ulama al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz) yang disandangnya, sebuah pengakuan atas kedudukannya sebagai otoritas keilmuan di pusat dunia Islam saat itu.

Pengaruh Syekh Nawawi secara khusus sangat terasa dalam tradisi intelektualisme Islam di Nusantara, terutama melalui institusi pesantren.
Semoga bermanfaat….

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News