Opini

Menjadi Santri Penuh Arti

×

Menjadi Santri Penuh Arti

Sebarkan artikel ini
bagus suparjiono
bagus suparjiono

Menjadi Santri Penuh Arti

Oleh:
Bagus Suparjiyono, S.Pd.,M.Si.

– Pemerhati Anak Ogan Komering Ulu
– Manager Genza Education Baturaja
– Ketua II Dewan Masjid Indonesia OKU

“Ketika kamu mengurus santri maka ketahuilah kamu sedang belajar makna sabar, belajar menjadi pemimpin, belajar disiplin, belajar mengayomi yang lebih muda, belajar menjadi organisatoris pengambil keputusan yang baik, belajar membagi waktu, belajar bagaimana sistem mengambil kebijakan yang baik, serta semua ilmu di masyarakat yang tidak bisa kamu dapatkan hanya dengan teori di kelas.”

Perjuangan para kiai dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan haruslah diteruskan.

Meskipun, perjuangan yang dilakukan santri pada saat ini bukanlah melawan penjajah dengan senjata, melainkan sebuah upaya membentengi diri dari segala gemerlapnya kemajuan dan peradaban agar tetap eksis dan menjadi garda terdepan.

Istilah santri adalah sebuah kata yang menunjukkan pada sebuah pengabdian seorang hamba kepada seseorang guru, sehingga ia dapat belajar agama dengan benar.

Seorang santri akan senantiasa bangga dengan nama yang disematkan kepadanya, karena kata tersebut sangatlah agung dan mengandung nilai-nilai yang sangat mulia.

Santri juga adalah proses memahami ajaran agama melalui proses belajar kitab turats, dan pengabdian kepada kiai yang merupakan figur ulama yang dapat menjadi panutan.

Sedangkan nama kiai tidaklah dapat disematkan kepada sembarang orang, melainkan juga disandarkan kepada seseorang yang memiliki kemampuan agama yang mumpuni

Kemajuan teknologi dan digitalisasi sangat mempengaruhi para generasi masa kini, untuk itu maka jiwa santri haruslah ditanamkan dalam hati dan pikiran agar senantiasa mampu mengimplementasikan diri dan mampu membendung diri dari segala tantangan zaman yang jika tidak dikontrol dengan baik akan merusak karakter dan mental para santri.

Meskipun tidak dipungkiri bahwa kemajuan teknologi dan digitalisasi dapat membantu segala aktivitas manusia dan dapat memudahkan segala kegiatan, namun jika tidak dibarengi dengan jiwa yang kokoh dan kontrol diri yang kuat akan terjadi kesenjangan dan ketidakseimbangan, hingga terjerumus pada perilaku buruk dan lembah kemaksiatan.

Maka dari situlah jiwa santri haruslah tetap terpatri pada setiap generasi, karena generasi hari ini adalah cerminan masa depan bangsa, sedangkan rasa cinta terhadap negara dan tanah air adalah bagian dari iman, maka menjaga dan mendidik generasi untuk cinta terhadap agama dengan nilai-nilai agama yang benar adalah hal yang harus digalakkan.

Peringatan dan penetapan hari santri tanggal 22 oktober tidak saja sebuah apresiasi atas keterlibatan “santri” dalam ikut berjuang meraih kemerdekaan, namun juga sebagai penguatan mental spiritual atas semangat belajar yang terus tumbuh pada regenereasi bangsa ini untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dan lebih mampu beradaptasi dengan globalisas.

Selamat Hari Santri

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News