Pasar Pak Loso Pasar pertama di Kecamatan Lubuk Raja
Pusat Perdagangan, Hilang Ditelan Jaman
Sebagian orang mungkin sudah tidak asing dengan Pasar Pak Loso. Pasar kalangan yang pernah ada di Kecamatan Lubuk Raja, persisnya di Desa Batu Winangun. Namun pasar itu telah lama “raib”.
Untung – Lubuk Raja
Lalulintas kendaraan siang itu cukup ramai. Melenggang santai di bawah sengatan matahari siang, di bulan Desember 2023.
Tidak hanya kendaraan roda empat yang melintas, tapi juga kendaraan roda dua. Tapi didominasi kendaraan roda. Rata-rata kendaraan itu melaju ke arah pasar gotong royong unit II (dua) Batumarta.
Jalan yang mereka lewat itu, mungkin banyak belum tahu, jika di tahun 1970an, adalah lahan pasar kalangan.
Pasar yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat pedagang yang menawarkan barang dagang dan hasil kebun, dan pembeli yang mencari kebutuhan rumah tangga.
Di masa itu, pasar tersebut jadi primadona. Karena, pasar kalangan itu satu-satunya yang dekat dengan masyarakat Kecamatan Lubuk Raja.
Selain pasar yang kini berubah jalan raya itu, warga harus berjalan jauh ke Kota Baturaja. Karena dua pasar besar, ada di tengah kota ini.
Pada era 70 hingga 90 an, pasar kalangan yang paling dikenal yakni pasar Pak Loso. Konon, Pak Loso adalah nama pemilik lahan yang dijadikan pasar.
Untuk memudahkan penyebutan nama pasar, dipakailah nama pemilik lahan pasar sebagai nama pasar.
“Pasar itu ada sebelum pasar gotong royong di unit dua ada, ” ujar Darmadi.
Pasar mingguan itu, hanya aktif dua kali dalam satu pekan. Seingatnya, pasar yang cukup komplit menjajakan barang dagang ini, aktif pada awal pekan dan jelang akhir pekan.
“Cuma Senin dan Kamis aktifnya, ” ujarnya sembari membaca memorinya di tahun itu.
Seluruh pedagang, menempati lapak yang dibuat sendiri. Sebagai peneduh dari terik matahari dan hujan, pedagang memasang terpal yang bisa digunakan bersama-sama.
“Belum ada kios, jadi terpaksa gelar terpal biar pedagang sama barang dagangannya tidak kepanasan atau kehujanan, ” ungkap menyebutkan hasil ingatannya di tahun 70an.
Pasar tersebut mulai beroperasi sejak 1976. Baik pedagang maupun pembeli yang akan ke pasar itu, lebih banyak berjalan kaki.
“Bagi yang punya sepeda, mereka naik sepeda. Motor atau mobil ketika itu masih jadi barang langka, bahkan sepeda pun termasuk kendaraan mewah, ” tuturnya.
Meski pasar tersebut dibangun di lahan warga Batumarta, namun seingatnya tidak ada pedagang dari daerah sekitar. Pedagang justru berasal dari luar Batumarta.
“Pedagangnya dari Kemelak, Sepancar, bahkan ada juga yang dari Martapura. Kalau yang dari Martapura biasanya pakai mobil pickup yang ditutup terpal, naiknya dari bak belakang, ” kenangnya.
Pasar yang beroperasi hanya empat jam yang dimulai dari pukul 06.00 wib hingga 10.00 wib itu, sangat ditunggu warga. Wajar saja jika, pasar itu jadi primadona.
“Pasar cepat tutup, karena pedagang kebanyakan jalan kaki, supaya tidak kesorean sampai rumah, bukanya tidak lama, ” sebutnya.
Pasar Loso mulai melambat eksistensinya di era 80 an. Namun pada era 90 an, pasar tersebut masih beroperasi meski tidak seramai di era 70an.
“Pasar mulai sepi, karena seiring dibukanya pasar kalangan gotong royong, ” katanya.
Kini pasar Pak Loso tinggal nama dan kenangan. Lahan yang dijadikan lapak perdagangan, sudah berubah menjadi jalan poros yang lebarnya 4 meter.
Tidak banyak yang tahu keberadaan pasar ini. Karena sejauh ini, tidak ada jejak yang ditinggalkan. Kebanyakan warga hanya tahu, pasar tersebut pernah ada. (*)












