PENDIDIKAN BUKAN SEKEDAR NILAI AKADEMIK
Oleh:
Bagus Suparjiyono, S.Pd.,M.Si.
-Manager Genza Education Baturaja
-Dosen luar biasa Universitas Baturaja
-Pemerhati Anak Ogan Komering Ulu
Makna sejati dari pendidikan mulai terlupakan. Banyak siswa yang belajar bukan karena ingin memahami, melainkan karena takut gagal.
Banyak orang tua yang merasa bangga saat anaknya meraih nilai tinggi, namun lupa bertanya: “Apakah kamu bahagia belajar itu?”
Padahal, pendidikan sejatinya bukan sekadar alat pengukur kecerdasan intelektual, tetapi sebuah perjalanan untuk mengenali jati diri dan mengasah potensi diri seutuhnya.
Pendidikan bukan hanya tentang akademik. Pendidikan juga termasuk tentang mengembangkan karakter dan etika.
Generasi muda yang mendapatkan pendidikan yang baik cenderung memiliki nilai-nilai moral yang kuat, seperti integritas, rasa tanggung jawab, dan rasa hormat kepada orang lain.
Mereka lebih mungkin untuk menjadi warga negara yang baik dan memimpin dengan contoh.
Selain itu, pentingnya pendidikan juga dapat menjadi alat untuk mempromosikan toleransi dan keragaman.
Di Indonesia, di mana ada berbagai budaya, agama, dan bahasa, pendidikan yang inklusif dapat membantu memperkuat persatuan dan harmoni sosial.
Sebagai pelajar, pendidikan lah medianya. Tak usah berfikir membangun negeri harus menjadi seorang presiden. Kita bisa mengubah negeri ini menjadi lebih baik lagi dengan satu cara yaitu belajar.
Dengan belajar akan membuka segalanya menjadi mudah. Dengan belajar dapat merubah status kehidupan seseorang. Dengan belajar, kau telah menjadi satu orang yang memajukan pendidikan Indonesia.
Ironinya, di zaman modern ini akan sulit kita temui pelajar yang memang benar-benar sebagai pelajar.
Banyak di antara kita, siswa maupun siswi yang datang ke sekolah bukan bertujuan untuk belajar tapi malah bertujuan untuk bertemu pacarnya ataupun sekedar bertemu teman untuk bercerita atau berkeluh kesah tentang orang tuanya atau lainnya.
Sekolah hanya sebagai pemenuhan tuntutan lingkungan. Hanya untuk mencari nilai agar masuk universitas dan mudah mencari pekerjaan walau di tempuh dengan cara yang halal atau tidak.
Lalu salah siapa ini? Padahal, jika mereka dapat melihat kenyataan, banyak pelajar di luar sana yang rela bekerja keras untuk mendapatkan pendidikan di sekolah atau malah sampai rela memendam keinginan untuk sekolah karena tidak ada biaya.
Jika negara ini adil bagi semua pelajar, aku percaya pasti tidak akan ada yang putus sekolah. Jika negara ini tegas, aku yakin pelajar Indonesia akan disiplin dan tidak ada lagi terdengar kasus kekerasan, narkoba, kriminalitas dikalangan pelajar dan pasti tidak akan pernah terjadi korupsi dan tindakan buruk lainnya. Harapanku sebagai pelajar,
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Kita perlu lebih menghargai proses daripada hasil, lebih memperhatikan semangat belajar daripada sekadar angka di rapor.
Kita harus menciptakan ruang belajar yang menginspirasi, inklusif, dan humanis, tempat di mana anak-anak merasa aman untuk bertanya, bereksperimen, bahkan salah.
Karena pada akhirnya, pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak berakhir di bangku sekolah. Ia berlanjut sepanjang hidup.
Dan selama perjalanan itu, yang paling penting bukanlah siapa yang tercepat mencapai garis akhir, tetapi siapa yang paling memahami dirinya sendiri, lalu menggunakan pemahaman itu untuk memberi kontribusi yang berarti bagi dunia. (*)
Baca juga :
Bupati Oku Selatan, Tinjau infrastruktur di Desa Pajar Bulan
Pagi – Siang Panas Bedengkang, Sore – Malam Hujan Mendadak, BMKG Ungkap Pemicunya











