Tragedi Kapal Wisata Pulau Tikus, Tujuh Nama Ditelan Lautan
Sore yang Tak Pernah Diprediksi
Mendung hitam menggantung di langit Bengkulu, Minggu, 11 Mei 2025 sore. Tak ada tanda-tanda badai akan datang secepat itu.
Puluhan wisatawan memadati Pulau Tikus, pulau mungil yang menjadi magnet wisata bahari Kota Bengkulu.
Mereka datang membawa keceriaan, menjelajahi laut, menikmati keindahan bawah air, dan mengabadikan momen di tengah hamparan biru Samudra Hindia.
Pukul 16.00 WIB, satu kapal wisata memulai pelayaran pulang ke Pantai Malabro. Kapal tersebut membawa 98 wisatawan, satu nahkoda, dan lima anak buah kapal.
Tak ada yang menyangka, pelayaran pulang itu menjadi perjalanan terakhir bagi sebagian penumpang. Mereka tidak akan pernah sampai ke dermaga.
Gelombang, Angin, dan Sunyi
Perlahan namun pasti, kapal menjauh dari pulau. Angin datang lebih kencang, tidak seperti biasanya. Langit berubah cepat, seperti tirai hitam yang ditarik mendadak.
Gelombang yang awalnya kecil mulai membesar. Dalam hitungan menit, kapal kehilangan keseimbangan. Mesin mati. Penumpang panik. Kapal oleng bertabrakan dengan riak gelombang samudra hindia .
“Semua orang berteriak, ada yang memeluk pelampung, ada yang menangis,” ujar seorang saksi selamat dengan suara bergetar.
Suasana kepanikan menjadi- jadi, ketika ombak besar menerjang lambung perau, hingga membuat kapal karam tanpa mampu bertahan di permukaan air.












