Dengannya, muncullah kebersamaan. Kemudian lahirlah sikap saling mencintai terhadap sesama.
Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an
: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
Artinya, “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS Ali ‘Imran [3]: 103).
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib, juz 8, halaman 311, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan habl Allah (agama Allah) ini memiliki banyak arti.
Di antaranya ada yang mengartikan dengan taat atas segala perintah dan menjauhi larangan. Ada juga yang mengartikan dengan bertaubat kepada Allah.