Pedagang Es Dawet di Batumarta 25 Tahun Berjuang
Penyegar Sekaligus Obat, Berbahan Alami
Pasar bedug menghiasi suasana petang di bulan ramadhan di kawasan pasar gotong royong. Salah satunya pedagang Es Dawet Cincau Banjarnegara.
________
Untung N, Lubuk Raja
________
Tepi jalan poros Batumarta dua masih ramai, bukan saja pedagang tapi juga pembeli. Pedagang kuliner berjejer di kanan kiri tepi jalan poros di seputaran Pasar Gotong rotong unit dua.
Pemandangan yang lazim terlihat setiap petang di bulan ramadhan. Karena, kawasan pasar tradisional ini, menjadi pusat pasar bedug setiap ramadhan.
Jumat, 14 Maret 2025 suasana itu masih sama seperti hari pertama bulan puasa.
Langit pada petang itu masih cerah merona. Piasan sinar matahari menjelang senja, masih menyorot hangat.
Cuaca yang cukup “langka” sepanjang Maret yang selalu di hiasi mendung hitam di kala petang.
Aneka makanan dan minuman terpajang rapi di atas meja pedagang. Ada juga yang memarkirkan gerobak dagangannya, ikut mencari rezeki di lokasi itu.
Kuliner yang di tawarkan, bukan saja menu buka puasa seperti takjil untuk memecahkan puasa, tapi menu kuliner makanan berat, yang biasa di beli untuk lauk sahur nanti.
25 Tahun Jual Es Dawet
Gerobak Es Dawet, ada di antara jejeran para pedagang. Gerobak itu berwarna hijau. Payung besar beraneka warna, menjadi atap gerobak.
Di bagian depan atas gerobak, plang terbuat dari papan lebar bercorak warna gradasi hijau kuning, mengundang perhatian pengunjung.
Tertulis di plang tersebut merek barang yang di tawarkan ” Es Dawet Cincau Asli Banjar Negara”.
Es Dawet itu, sudah 15 tahun bercengkrama dengan masyarakat di desa itu, selama pasar bedug beroperasi.
Pemiliknya, Mbah Warso, warga setempat yang kesehariannya berprofesi sebagai pedagang es dawet khas pulau Jawa.
Wajahnya sangat familiar bagi masyarakat setempat. Karena selain di bulan ramadhan, Es Dawet itu selalu menyegarkan pengunjung pasar selama 25 tahun.
“Kalau di pasar beduk sudah 15 tahun jualan, dari tahun 2010. Tapi kalau jualannya Es Dawet di pasar ini sudah 25 tahun, ” ujar Mbah Warso ketika berbincang dengan awak media OKU SATU.
Seperempat abad Mbah Warso berjualan Es Dawet. Karena, dari keterampilannya itu, ia menghidupi keluarganya.
Dalam bisnis tersebut, Mbah Warso tidak berani main. Semua bahan yang ia gunakan, menggunakan bahan alami. Tanpa campuran bahan kimia.
Karena keaslian bahan bakunya ini, membuat Es Dawet Ayu Mbah Warso memiliki pelanggannya sendiri.
“Untuk buka puasa, bukan sebatas enak dan seger, tapi juga bisa menjadi obat, ” katanya.
Es Dawet Cincau yang diproduksinya, tidak hanya sebatas menyegarkan tubuh dari dahaga, namun kandungan cincau alami yang diolah sendiri, bisa menjadi penawar panas dalam.
Campuran cincau, cendol, santan dan gula aren sangat manjur membuang dahaga setelah seharian puasa.
Biasanya Es Dawet makin nikmat jika dicampur dengan batu es, sebagai pendingin dawet.
Di pasar itu, ia berniaga hanya bersama istrinya.
“Ada dua tempat. Saya dan istri saya yang jualan, ” tandasnya. (*)
Baca juga :
Dari Pemakaman Angker ke Pusat Bisnis Megah: Transformasi Mengejutkan Pasar Baru Baturaja






