Pempek Pocu Legendaris di OKU Kini Jadi Kenangan
Piyok gorenggggggg……. dua orang anak kecil berjalan kaki. Menyusuri tepian jalan aspal di tengah Kota Baturaja, Kabupaten OKU.
Salah seorang anak membawa keranjang jinjing berisi pempek. Sementara rekannya membawa drigen kecil berisi cuka.
Piyok gorengggg….. Teriak si pembawa keranjang. Pempekkkk…. Sahut rekannya yang membawa drigen berisi cuka. Terus begitu sembari menyusuri tepian jalan. Keduanya akan menghentikan teriakan, jika ada yang hendak belanja.
Keduanya pedagang pempek keliling. Topi menghiasi kepala keduanya. Untuk menghalau terik matahari yang menyengat ubun-ubun.
Langkah kaki kecil mereka mengarah ke perkampungan penduduk di kawasan Kecamatan Baturaja Barat, OKU.
Masyarakat di tahun 80an kala itu, sangat hafal dengan teriakan itu. Teriakan khas penjaja kuliner pempek yang hits di masa itu. Pempek Pocu.
Kuliner yang menjadi favorit. Karena selain menyajikan rasa yang berbeda, juga karena harga yang murah.
Baca juga :
Dari Pemakaman Angker ke Pusat Bisnis Megah: Transformasi Mengejutkan Pasar Baru Baturaja
Transformasi Pasar Gotong Royong Batumarta, Dari Hutan Liar Menjadi Pusat Ekonomi
Jenis Pempek Pocu
Pempek pocu terdiri tiga jenis. Pempek kelasan, isi telur dan gandum. Cuka untuk menikmati kuliner itu memiliki kekhasannya. Asam, manis dengan rasa pedas yang tak main-main.
Teriakan “piyok goreng” yang masih teringat, sampai saat ini belum ada yang tahu artinya. Namun teriakan itu masih teringat kuat.
Pempek pocu, digadang-gadang sebagai kuliner legendaris di Kota Baturaja. Konon pemasarannya tidak hanya di tengah kota. Tapi juga hingga ke pelosok Kabupaten OKU.
Meski pedagang pempek itu identik dengan anak kecil. Khusus untuk pedagang di pelosok, umumnya di jajakan orang dewasa yang berniaga di pasar kalangan (pasar desa).
Produksi Perdana 1983
Pempek pocu mulai di kenal khalayak empat bulan setelah pempek di produksi Pocu pada tahun 1983.
Pocu adalah pemilik usaha kuliner rumahan di kawasan Pasar Tugu Kelurahan Baturaja Lama dengan produk utamanya pempek.
Di lansir dari blog Joni Lodeh, penjaja “angkatan pertamanya” tiga orang putranya. Fahlevi, Ahok dan Asen. Kemudian anak kecil di masa itu yang berjiwa wirausaha, ikut nimbrung.
Usaha pempek maju pesat di kala itu. Pesaing baru bermunculan. Namun pempek pocu tidak goyah. Pelanggan setianya justru bertambah banyak. Pondasinya benar-benar kuat.
Dalam hitungan bulan, Pocu memindahkan unit produksinya di Lubuk Rambai Kelurahan Air Gading.
Lokasinya di atas tebing batu, sebelum simpang Air Gading Kecamatan Baturaja Barat. Produksi pempeknya tidak main-main, seiring meledeknya jumlah pengecer.
Para penjual pempek tertarik gabung, karena bonus yang di tawarkan. Selain pempek yang di lebihkan dua hingga tiga biji, juga ada bonus telur dan mie jika mampu menghabiskan dagangan 100 biji pempek.
Baca juga :
Sempat Jadi Idola, Pasar Tugu Baturaja Kini Tinggal Nama
Pasar Atas Itu Dulunya Terminal Angkutan Umum
Trik Ikat Pengecer
Belum lagi saat hari raya, Pocu akan mengeluarkan banyak anggaran untuk memberikan bingkisan ke pedagangnya. Ini salah satu cara pengusahanya mengikat hubungan emosional.
Reward yang fantasis di masa itu, tentu sangat menggiurkan. Apalagi usaha pempek lainnya tak berani memberikan reward yang tak biasa ini.
Persaingan sangat sehat. Soal citarasa. Dan pempek pocu sangat mampu mempertahankan pelanggannya dengan citarasa yang tak biasa.
Bahkan hingga di era sekarang, anak-anak yang tumbuh di era 80an, masih hafal citarasa itu. Bahkan menjadi perbincangan hangat ketika mengenangnya.
Termasuk kenangan usil yang menjadi daya tarik. Yakni, makan tiga mengaku dua. Dan ini menjadi rahasia umum para penikmat pempek tak tahu jika itu jadi dosa.
Kuliner Tanpa Generasi
Namun sayang, seiring waktu kuliner legendaris ini tidak di produksi. Bahkan tidak ada penerus yang melanjutkannya.
Pengusahanya konon pindah ke Jakarta. Ikut anak-anaknya yang sukses di perantauan.
Pocu memproduksi pempek untuk membiayai hidup anak-anaknya yang masih kecil. Namun justru berkembang dan kini jadi kenangan. (ofa)












