Sumsel

Juli–Agustus Neraka Basah! Sumsel Terancam Dilahap Karhutla dari Segala Arah

×

Juli–Agustus Neraka Basah! Sumsel Terancam Dilahap Karhutla dari Segala Arah

Sebarkan artikel ini

SUMSEL  – Warga Sumatera Selatan harus bersiap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi akan mengganas mulai Juli hingga Agustus 2025. ‘

Kemarau panjang disebut bakal jadi pemicu utama, dan situasi bisa bertambah parah jika tidak diantisipasi sejak dini.

Ferdian Kristanto, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan, mengingatkan bahwa “neraka basah” bisa terjadi kapan saja. ‘

Istilah itu merujuk pada kebakaran besar yang menyerang lahan gambut dan menghasilkan asap pekat meski cuaca terlihat lembap.

BACA JUGA JPO Pasar Martapura Kini Kinclong, Warga: Dulu Bau, Sekarang Bikin Betah!

“Sumsel masuk zona rawan. Musim kemarau di sini bisa memanjang sampai Oktober. Jadi, penanganan karhutla nggak bisa setengah hati,” ujar Ferdian, Rabu (14/5/2025).

Belajar dari tahun 2023, katanya, meski puncak kemarau lewat, nyala api masih muncul di berbagai wilayah.

Oleh karena itu, semua pihak diminta bersiaga sejak awal Mei, karena kondisi tahun ini diperkirakan tak jauh beda.

BACA JUGA Mahasiswa di OKU Dibekuk Polisi, Kuliah Nyambi jadi Kurir Narkoboy

Langkah konkret yang disarankan Ferdian adalah penetapan status siaga darurat karhutla oleh setiap kabupaten dan kota di Sumsel.

Status ini diperlukan agar penanggulangan bisa dimulai lebih cepat, termasuk pengerahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Kalau OMC dilakukan tepat waktu, kita bisa turunkan hujan buatan sebelum lahan benar-benar kering kerontang,” jelasnya.

OMC dinilai efektif karena bisa membasahi area gambut dan hutan yang rentan terbakar. Tapi, itu hanya berhasil jika dilakukan saat masih ada awan hujan.

BACA JUGA Malaikat Maut Jemput Penumpang Avanza di Muba

Pemerintah juga meminta warga ikut serta dalam mencegah kebakaran.

Jangan membakar lahan untuk buka kebun, karena api bisa meluas dengan cepat dan mengancam permukiman.

“Karhutla bukan tugas petugas saja. Masyarakat juga punya peran penting,” tegas Ferdian.

Dengan potensi bencana di depan mata, Sumsel harus bersatu. Jangan sampai “neraka basah” benar-benar melahap dari segala arah.

Kesiapsiagaan jadi kunci agar langit tak kembali kelam oleh asap dan udara tetap bisa kita hirup dengan lega. (tf)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News