Cara Mengendalikan Hawa Nafsu II
Persembahan ustadz Yasin
Pengurus NU dan IPARI
Tiap-tiap umat akan berhadapan dengan saksi mereka, seperti umat Yahudi, umat Nasrani dan umat Islam, masing-masing umat itu akan dihadapkan ke hadapan saksinya, yaitu nabi mereka masing-masing.
Pada waktu itulah dapat diketahui, siapa yang sebenarnya pengikut nabi dan siapa yang hanya pengakuannya saja mengikuti nabi, tapi amal perbuatannya mendurhakai nabi.
Maka siapa yang telah disaksikan oleh nabinya bahwa dia betul-betul telah mengikuti ajaran rasul, maka orang itu termasuk orang yang beruntung.
Bila nabinya berlepas diri dari mereka, karena amal perbuatannya dan kepercayaannya tidak sesuai dengan yang diajarkan rasul, maka mereka termasuk orang yang rugi.
Nabi Muhammad SAW akan menjadi saksi bagi umat Islam nanti dan bagi semua manusia.
Allah berfirman:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
Artinya: Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (al-Baqarah/2:143).
Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad sampai mengucurkan air mata, ketika mendengarkan ayat ini dibacakan seorang sahabat kepadanya, memikirkan bagaimana hebatnya suasana pada hari akhirat, beliau akan melihat dengan jelas pengikut-pengikutnya yang setia dan benar dan yang pura-pura dan palsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi saw:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِقْرَأْ عَلَيَّ! قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَقْرَأُ عَلَيْكَ؟ وَعَلَيْكَ اُنْزِلَ؟ قَالَ: نَعَمْ، اِنِّي اُحِبُّ اَنْ اَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِيْ. فَقَرَأْتُ سُوْرَةَ النِّسَاءِ حَتَّى اَتَيْتُ اِلَى هٰذِهِ اْلاٰيَةِ “فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ” الخ. فَقَالَ: حَسْبُكَ اْلاٰيَةُ فَـاِذًا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ (رواه البخاري ومسلم عن ابن مسعود
Artinya: Dari Ibnu Mas’ud dia berkata, Rasulullah saw telah berkata kepada saya, “Tolong, bacakan kepada saya Al-Qur’an itu.” Lalu saya menjawab, ”Ya Rasulullah, akukah yang akan membacakan kepada engkau, padahal dia diturunkan kepada engkau?”
Rasulullah berkata, “Betul, tapi saya ingin mendengarkannya dibaca oleh orang lain.” Maka aku membaca surah An-Nisa’. Ketika aku sampai membaca ayat ini (ayat 41), maka beliau bersabda, “Sekarang cukuplah sebegitu saja,” dan tiba-tiba air matanya bercucuran.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu Mas’ūd).
Dalam an-Nisā’/4:1 diatas disebutkan “… dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; …” Kata-kata dalam Surah an-Nisā’ ayat pertama ini sering menimbulkan salah pengertian di kalangan awam, terutama di kalangan perempuan, karena ada anggapan bahwa perempuan diciptakan dari rusuk Adam, yang sering dipertanyakan oleh kalangan feminis.
Ayat itu hanya menyebut … wa khalaqa minhā zaujahā, yang diterjemahkan dengan menciptakan pasangannya dari dirinya; lalu ada yang mengatakan bahwa perempuan itu diciptakan dari rusuk Adam, dan pernyataan yang terdapat dalam beberapa hadis ini ada yang mengira dari Al-Qur’an.
Di dalam Al-Qur’an nama Hawa pun tidak ada, yang ada hanya nama Adam. Nama Hawa (Eve) ada dalam Bibel (“Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.” (Kejadian iii. 20), (Hawwa’ dari kata bahasa Ibrani heva, dibaca: hawwah, yang berarti hidup).
Pernyataan bahwa perempuan diciptakan dari rusuk laki-laki itu terdapat dalam Perjanjian Lama, Kitab Kejadian ii. 21 dan 22: “Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika tidur, Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.”
Kemudian sekali lagi Allah memerintahkan kepada manusia untuk bertakwa kepada-Nya dan seringkali mempergunakan nama-Nya dalam berdoa untuk memperoleh kebutuhannya.
Menurut kebiasaan orang Arab Jahiliah bila menanyakan sesuatu atau meminta sesuatu kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah.
Allah juga memerintahkan agar manusia selalu memelihara silaturrahmi antara keluarga dengan membuat kebaikan dan kebajikan yang merupakan salah satu sarana pengikat silaturrahmi.
Ilmu Hayati Manusia (Human Biology) memberikan informasi kepada kita, bahwa manusia dengan kelamin laki-laki mempunyai sex-chromosome (kromosom kelamin) XY, sedang manusia dengan kelamin wanita mempunyai sex-chromosome XX.
Ayat di atas menjelaskan bahwa “manusia diciptakan dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya”.
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa ‘diri yang satu itu’ tentu berjenis kelamin laki-laki, sebab kalimat berikutnya menyatakan, ‘daripadanya diciptakan istrinya’.
Dari sudut pandang Human Biology hal itu sangatlah tepat, sebab sex-chromosome XY (laki-laki) dapat menurunkan kromosom XY atau XX; sedang kromosom XX (wanita) tidak mungkin akan membentuk XY, karena dari mana didapat kromosom Y?
Jadi jelas bahwa laki-laki pada hakikatnya adalah penentu jenis kelamin dari keturunannya. Diri yang satu itu tidak lain adalah Adam.
Kita ambil ujung ayat tersebut berbunyi:
اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
yang Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu Mengawasi kalian(dengan ketat/sangat dekat),” (QS. An-Nisa: 1)
Ketika ayat-ayat seperti ini tertanam di hati, kita malu berbuat dosa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam situasi apa pun.
Orang yang bertakwa akan senantiasa berhati-hati agar tidak memperturutkan nafsu yang diharamkan. Iman dan takwa yang kuat ibarat “rem spiritual” bagi hawa nafsu.
Berpuasa (Latihan Menahan Diri)
Puasa adalah metode efektif yang dianjurkan Rasulullah ﷺ untuk mengendalikan syahwat. Bagi para pemuda yang kesulitan menahan dorongan hawa nafsu (misalnya dorongan seksual) dan belum mampu menikah, Nabi ﷺ bersabda:
Yang Artinya: “Barangsiapa belum mampu (menikah), hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).”Dengan berpuasa, kita dilatih menahan lapar, dahaga, serta keinginan-keinginan jasmani sejak terbit fajar hingga maghrib.
Latihan ini meningkatkan kesabaran dan disiplin diri, sehingga setelah Ramadhan atau puasa sunnah, diharapkan kita lebih mudah mengekang hawa nafsu dalam hal lain.
Puasa juga melemahkan nafsu buruk; perut yang lapar membuat syahwat menurun, dan hati menjadi lembut untuk diisi takwa.
Memperbanyak Zikir (Mengingat Allah)
Zikrullah atau mengingat Allah adalah senjata ampuh penunduk nafsu. Hati yang senantiasa berdzikir akan terasa dekat dengan Allah dan takut bermaksiat.
Ar-Ra’d · Ayat 28
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
Artinya“Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Zikir, baik dengan lisan (misalnya membaca tasbih, tahmid, takbir, istighfar) maupun dengan hati (selalu merasa diawasi Allah), dapat melemahkan bujukan hawa nafsu. Ulama Hasan Al-Bashri berpesan:
“Kekanglah keinginan hawa nafsumu karena ia selalu membujukmu melakukan hal-hal buruk… Tumpas hawa nafsumu dengan zikir, karena dengan zikir ia akan cepat melemah.”
Jadi, saat godaan nafsu datang, segera lafalkan zikir dan ingat kebesaran Allah; insyaAllah dorongan nafsu itu mereda.
Membaca dan Merenungkan Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah petunjuk hidup bagi Muslim.
Sering-seringlah membaca Al-Qur’an dan pahami maknanya. Dengan menyibukkan diri pada tilawah dan tadabbur (merenungkan ayat), hati kita akan dipenuhi cahaya petunjuk sehingga nafsu yang gelap bisa terkendalikan.
Banyak ayat Al-Qur’an yang langsung atau tidak langsung mengingatkan kita untuk menahan hawa nafsu. Allah SWT Berfirman dalam Al Qur’an Surah An Nisa Ayat 135 yang berbunyi :
An-Nisa’ · Ayat 135
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْاۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا ١٣٥
Aritnya: Wahai,,.orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.
Orang-orang beriman diperintahkan agar menjadi orang yang benar-benar menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat.
Karenanya Allah memerintahkan kepada mereka untuk berlaku adil dalam segala hal, seperti keadilan dalam membagi waktu, menegakkan salat secara tetap dan tepat pada waktunya.
Dalam memberikan kesaksian, Allah memerintahkan agar memberikan kesaksian seperti apa adanya, tidak boleh memutarbalikkan kenyataan. Dalam menimbang barang agar berlaku adil, menimbang dengan tepat, tidak menambah dan tidak mengurangi (al-Muṭaffifin/83: 1-4).
Semua perintah itu jika dilakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya akan menjadikan kebiasaan yang meresap di dalam jiwanya.
Keadilan itu harus dilakukan secara menyeluruh di tengah-tengah pergaulan masyarakat, baik yang menjalani itu rakyat biasa ataupun kepala negara, petani atau pedagang, anggota atau kepala rumah tangga.
Jika menjadi saksi, jadilah saksi yang jujur, semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah, tidak memutarbalikkan kenyataan, tidak berat sebelah, meskipun menyangkut dirinya sendiri, ataupun keluarganya. Bersambung….
Baca juga :
Tangis Warga Pecah, Begini Kronologi Kebakaran di Gedung Wani OKU Selatan

