OKU TIMUR – Langkah kaki remaja asal Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, ini akhirnya sampai pada mimpi yang ia ucapkan sejak kecil. Namanya Khatibul Umam Az-Zamzami, usia 18 tahun, dan tahun ini ia resmi menjadi jemaah haji termuda di Sumatera Selatan.
Cerita Umam bukan sekadar tentang keberangkatan ibadah. Ini adalah kisah panjang tentang doa yang ditanam sejak usia belia, lalu tumbuh perlahan hingga akhirnya berbuah di waktu yang tepat.
Semua berawal saat Umam masih berusia sekitar tiga setengah tahun. Di usia ketika anak-anak biasanya meminta mainan atau kendaraan, Umam kecil justru menyampaikan permintaan yang tak biasa kepada orang tuanya: ia ingin pergi haji.
Permintaan polos itu ternyata membekas kuat di hati sang ayah, Kamali. Tanpa ragu, ia langsung mendaftarkan putranya sebagai calon jemaah haji. Keputusan itu menjadi titik awal dari perjalanan panjang yang harus mereka lalui.
BACA JUGA
Detik-Detik Siswi SMP Terseret Arus Sungai Komering, Teman Tak Mampu Menolong
Waktu berjalan. Tahun demi tahun terlewati. Nama Umam tetap berada dalam daftar tunggu. Hingga akhirnya, setelah 14 tahun menanti, kesempatan itu benar-benar datang.
Namun perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Pada jadwal keberangkatan sebelumnya, Umam sempat harus mengalah. Usianya saat itu masih kurang beberapa bulan dari syarat minimal 18 tahun. Aturan tidak bisa dilanggar. Ia pun kembali masuk daftar tunggu.

Bagi sebagian orang, mungkin itu terasa mengecewakan. Tapi tidak bagi Umam dan keluarganya. Mereka memilih bersabar, percaya bahwa waktu terbaik sudah ditentukan.
Kini, penantian itu terbayar lunas. Umam dipastikan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini, bahkan bersama seluruh anggota keluarganya.
BACA JUGA
Dinas Pendidikan OKU Keluarkan Aturan Tegas: Dilarang Pungut Biaya Perpisahan Sekolah
Di tengah kesibukannya sebagai santri di Pesantren Lirboyo, Umam tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia mengaji, belajar, dan memperdalam ilmu agama. Ketika izin untuk berangkat akhirnya diberikan, rasa syukur tak bisa ia sembunyikan.
Ia tidak banyak bicara. Namun satu kalimat singkatnya cukup menggambarkan perasaan yang ia pendam selama ini: bahagia.
Menariknya, sebelum berangkat ke Tanah Suci, teman-teman sesama santri turut menitipkan doa kepada Umam. Ia pun membawa harapan banyak orang dalam perjalanan spiritualnya kali ini.
Kisah Umam menjadi pengingat sederhana: mimpi yang tulus, bahkan yang diucapkan saat masih kecil, bisa menjadi nyata—asal dijaga dengan doa dan kesabaran. ***










