Nestapa Petani Getah Dua Tahun Tanpa Pemupukan
OKU SATU – Produksi getah karet terus mengalami penurunan. Dampak kemarau sebenarnya sudah cukup membuat produksi anjlok. Namun kondisi ini di perparah karena pemupukan tanaman tidak bisa di lakukan.
Pupuk yang dapat menyelamatkan tanaman komoditi itu di musim kemarau, justru tidak mampu di beli warga. Penyebabnya harga pupuk mahal. Tidak sesuai dengan pendapatan dari hasil kebun.
“Pupuk mahal dan langka. Belum lagi obat semprot juga mahal. Sudah dua tahun tidak di pupuk, ” ujar Uut petani di Kecamatan Lubuk Raja, Kamis 14 September 2023.
BACA JUGA Terjebak Operasi Zebra, Ratusan Pengendara di OKU Gigit Jari
BACA JUGA KONI – Dispora OKU Timur Saling Tunjuk, Cabor Gagal Berangkat, Siapa Benar dan Siapa Salah
Pendapatan dari kebun, sambungnya di nilai masih kurang mampu menutupi kebutuhan rumah. Apalagi harga getah saat ini meski naik, namun tidak terlalu tinggi.
“Harga getah karet secara umum naik Rp 800 per kg. Jadi jual Rp 9.350 dari harga Rp 8.550 per kg, ” jelasnya.
Karena dua faktor tersebut, hasil getah turun. Biasanya sekali nimbang bisa di kisaran 80-90 kg, nah dengan kondisi sekarang hanya mampu menghasilkan 40 kg.
“Selain nyadap (karet) saya mencari sampingan kerja serabutan baik itu bangunan apa upahan babat mas, ” ungkapnya menjelaskan upayanya memenuhi kebutuhan harian.
BACA JUGA Truk Batubara Terguling di Batukuning, Lalulintas Kendaraan jadi Kerok
BACA JUGA Minat Berhaji Masyarakat OKU Terjun Bebas, Kemenag Duga Ini Biang Keroknya
Hafiz petani lainnya di Kecamatan Lubuk Raja menambahkan, rusaknya produksi dan harga getah saat kemarau, sangat di rasakan buruh upahan sadap.
“Karena dalam dua minggu, buruh sadap cuma bisa mengantongi Rp 350 ribu, ” jelasnya.
Mereka sangat berharap, harga getah kembali sehat. Atau paling tidak harga 1 kg getah seharga beras 1 kg. (unt)












