Bahtera Bentala Indonesia Buka Diskusi Publik
OKUSATU.id – Persoalan sungai ogan dan sampah menjadi pembahasan yang hangat saat diskusi public yang digelar Bahtera Bentala Indonesia.
Aksi tanya jawab antara narasumber dan tamu undangan, pecah bantaran sungai ogan jembatan ogan III Kelurahan Baturaja Lama.
Dalam diskusi tersebut, empat narasumber dihadirkan. Antara lain : Ms tito (DPRD OKU) , Bertho Darmo (Perumda Tirta Raja), Doni Heridadi (camat Baturaja Timur), Dr Hendra Alfani (akademisi), dan Brigman (kadin LH).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) OKU Brigman mengatakan, diskusi public dengan pembahasan sungai ogan sangat diapresiasi. Karena, kondisi sungai ogan saat ini sudah sangat berbeda.
Baca juga :
Curi 45 Tandan Sawit Bareng, Masuk Penjaranya Sendirian, Kasian…..
Sungai Ogan mengalami penurunan kualitas, jika dibandingkan era 80 – 90an. Kala itu, koleksi ikan di sungai ogan sangat banyak. Kondisi itu sangat berbeda dengan kualitas sungai saat ini.
“Dulu ketika mandi di sungai, pulang bisa bawa ikan satu piring. Tapi sekarang sudah susah, “ katanya.
Kondisi ini, jelas dia, dipengaruhi soal sampah yang dibuang ke sungai oleh oknum masyarakat. Sampah yang dikelola DLH Kabupaten OKU, ungkap Brigman sebanyak 160 ton per hari.
“30 persen sampah ada di sungai. Sementara sampah yang dibawa ke TPA baru 60 ton yang belum dikelola, “ katanya.
Baca juga :
Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi sungai ogan ke depan jika hal tersebut terus dibiarkan tanpa langkah konkrit untuk pencegahan.
“Mungkin bisa bakal sama seperti Ciliwung Jakarta, “ tukasnya.
Brigman juga menyoroti soal pengerukan batu sungai di Desa Keban Agung Kecamatan Semidang Aji. Pihaknya, kata dia, sedang melakukan pendataan aktifitas pertambangan di hulu dan hilir sungai ogan.
“Kami data tapi bukan hanya sirtu (pasir batu), tapi semua usaha kami awasi. Termasuk limbahnya. Bengkel dan tempe muara limbahnya ke sungai,” tegasnya.
Baca juga :
Tiap Hari Lumpuh! Perlintasan Kereta di Baturaja Bikin Pengendara Kesal dan Emosi
Pemerintah Siapkan Regulasi PPPK Paruh Waktu jadi Penuh Waktu
Sementara itu, Dirut Perumda Tirta Raja Bertho Darmo menjelaskan, sampah yang terbuang kesungai sangat berdampak terhadap pompa intake, dan sering nyangkut pada pipa hisap.
“Untuk diketahui, sampah tidak hanya mengapung di permukaan sungai, tapi juga di bawah permukaan air, “ terang Bertho.
Di kesempatan itu, orang nomor di perusahaan air daerah ini mengajak Bahtera Bentala Indonesia untuk bergandengan tangan mengedukasi masyarakat, terkait sampah.
Baca juga :
Doni Heridadi, Camat Baturaja Timur mengaku sudah sering meminta warga agar tidak membuang sampah ke aliran sungai ogan. Karena, aktifitas tersebut sangat merusak kualitas air sungai.
Doni menceritakan, momen ikan mudik di masa kecilnya sangat berkesan. Namun sayang fenomena tersebut, sangat jarang bisa dinikmati untuk masa sekarang.
“Sampah ini jadi PR bersama, agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai, “ ungkapnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten OKU yang juga Pembina Bahtera Bentala Indonesia Kabupaten OKU akan mengawasi AMDAL. Khususnya pada perkebunan maupun pertambangan. Karena, imbas dari kurang ketatnya pengawasan AMDAL, kondisi air sungai jadi keruh.
“Pengawasan AMDAL Perkebunan dan Pertambangan akan diperketat, “ tandasnya. (13)












