OKU RAYA

Peduli Sungai Ogan di Masa Depan, Diskusi Publik Digeber Bahtera Bentala

×

Peduli Sungai Ogan di Masa Depan, Diskusi Publik Digeber Bahtera Bentala

Sebarkan artikel ini
Diskusi publik yang digelar Bahtera Bentala Indonesia mengundang narasumber. Diskusi membahas sungai ogan.

Peduli Sungai Ogan di Masa Depan, Diskusi Publik Digeber Bahtera Bentala Indonesia

 

OKUSATU.id – Gebrakan Bahtera Bentala Indonesia luar biasa. Diskusi Publik Sungai Ogan dengan tema : Sungai Ogan, Dulu, Kini dan Nanti.

 

Kegiatan tersebut mendapat apreasiasi, lantaran aksi yang mereka geber berkaitan dengan hajat hidup masyarakat luas dan masa depan sungai ogan. Sungai besar di Kabupaten OKU.

 

Diskusi public yang digelar di bantaran sungai ogan Jembatan Ogan III Kelurahan Baturaja Lama ini, mengundang nara sumber yang berkompeten.

foto bersama
foto bersama

Narasumber yang diundang antara lain : M Saleh Tito (anggota DPRD Kab OKU sekaligus Pembina Bahtera Bentala Indonesia, Dirut Perumda Tirta Raja OKU Bertho Darmo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Brigman, Camat Baturaja Timur Doni Heridadi serta dari Akademisi Dr Hendra Alfani.

Baca juga :

Rensra Baznas OKU Tahun 2026 Dibedah, Siap Jalankan Program Lebih Terarah.

Kurangi Porsi MBG, Belasan Ribu SPPG Dibekukan Sementara, Ay0 Siapa Lagi yang Menyusul

Acara yang digelar pada Senin 27 April 2026 pukul 13.00 wib ini, berlangsung seru. Karena diwarnai Tanya jawab, antara tamu undangan dengan nara sumber. Sebelumnya, agen lingkungan juga sudah diresmikan sebelum acara inti dimulai.

M Saleh Tito melepas benih ikan di sungai Ogan.
M Saleh Tito melepas benih ikan di sungai Ogan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) OKU Brigman mengapresiasi diskusi public, karena diskusi tersebut membicarakan perkara sungai Ogan.

 

Menurut dia, kondisi sungai ogan saat ini sangat berbeda dengan masa kecilnya. Hal ini berimbas dengan keberadaan ikan di sungai besar tersebut.

 

“Dulu waktu masih kecil bawa biasan (kail) sambil mandi, pulang bawa ikan Sepiring. Sekarang, bawa biasan dan umpan susah dapat ikan, “ ceritanya.

kepala DLH OKU Brigman melepas benih ikan ke sungai ogan.
kepala DLH OKU Brigman melepas benih ikan ke sungai ogan.

Baca juga :

Dorong Bobibos Uji Teknis Lemigas, Ditjen Migas : Untuk Kelayakan Sebelum Dipasarkan

E KTP Hilang Bakal Kena Denda

Sementara itu, M Saleh Tito, Anggota DPRD Kabupaten OKU mengatakan, diskusi public menyoal sungai ogan, bukan bicara hanya aliran air dari hulu ke hilir.

Ketua bahtera Bentala indonesia Yakamora melepas benih ikan ke sungai ogan.
Ketua bahtera Bentala indonesia Yakamora melepas benih ikan ke sungai ogan.

“Tapi lebih dari itu, harus dipikirkan bagaimana sungai tetap menjadi urat nadi dari generasi ke generasi, “ pesannya.

 

Kemudian, acara tersebut ditutup dengan penebaran benih ikan di aliran sungai Ogan oleh M Saleh Tito, Kadin Lingkungan Hidup Brigman serta Ketua Bahtera Bentala Indonesia Yaka Mora.

 

Acara dipandu Awaludin dengan moderator Yuliza Azis. Bahkan sebelum diskusi dimulai, Yuliza Azis membacakan narasi. (13)

 

Narasi Diskusi Publik Sungai ogan

 

SUNGAI OGAN DULU KINI DAN NANTI

 

Nadi yang Terus Mengalir.

​Sungai Ogan bukan sekadar hamparan air yang membelah Bumi Sebimbing Sekundang Kabupaten Ogan Komering Ulu. Ia adalah saksi bisu perjalanan peradaban budaya, pembawa kehidupan, perubahan alam dan cermin bagi perilaku manusia yang tinggal di sepanjang alirannya.

 

​Dulu,

​Pada masanya, Sungai Ogan adalah jantung kehidupan yang berdenyut kencang. Airnya jernih mengalir tenang diantara hutan-hutan yang masih lebat memantulkan bayangan pepohonan rimbun yang menaungi tepiannya.

 

Sungai ini menjadi urat nadi utama bagi masyarakat; tempat mencari ikan yang melimpah, jalur transportasi komoditas baik lokal maupun sampai ke hilirnya sungai Musi, Perahu-perahu kecil menjadi alat transportasi utama, menghubungkan kampung-kampung di sepanjang aliran. Sungai Ogan juga menjadi ruang sosial tempat anak-anak bermain, tempat orang tua berbagi cerita, dan tempat tradisi tumbuh dengan alami.

 

Saat itu, alam dan manusia berada dalam harmoni yang tenang, sungai memberikan segalanya dan masyarakat menjaga ritmenya dengan kearifan lokal yang turun-temurun.

 

​Kini,

​wajah Sungai Ogan mulai berubah. Modernisasi membawa tantangan yang tidak mudah. Kolaborasi air sungai dan pepohonan rimbun di sekitarnya yang dulu harmoni kini seakan dipaksa harus berpisah.

 

Pendangkalan akibat perubahan tata guna lahan di hulu mempengaruhi kualitas air dan ekosistemnya, limbah rumah tangga yang perlahan membebani badan air, serta intensitas cuaca yang tak menentu membuat sungai ini seolah “kelelahan”.

 

Air yang dulu selalu jernih kini tak lagi demikian dan ikan yang dulu mudah didapat kini mulai berkurang.

 

Sungai Ogan kini sedang diuji; apakah kita akan membiarkannya perlahan kehilangan napasnya, ataukah kita mulai sadar bahwa kesehatannya adalah cerminan kualitas hidup kita sendiri?

 

​Nanti.

​Masa depan Sungai Ogan bergantung pada pilihan kita, berada di tangan generasi hari ini. Sungai ini bisa kembali menjadi sumber kehidupan yang bersih dan lestari jika ada kesadaran kolektif untuk menjaganya.

 

Edukasi lingkungan, pengelolaan limbah yang lebih baik, serta keterlibatan masyarakat dan pemerintah akan menjadi kunci.

 

Sungai Ogan tidak hanya tentang air yang mengalir, tetapi tentang amanah dari Tuhan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

 

Harapannya, Sungai Ogan akan dapat kembali menjadi sahabat yang ramah.

Sungai Ogan  yang terintegrasi dengan ekosistem hijau di mana sempadan sungai kembali rimbun oleh vegetasi, limbah dikelola dengan tanggung jawab, dan masyarakat kembali menatap sungai bukan sebagai tempat pembuangan, melainkan sebagai aset kebanggaan.

 

​Sungai tidak pernah lupa dari mana ia berasal, namun kita sering lupa ke mana ia akan membawa kita. Menjaga Sungai Ogan adalah cara kita memastikan bahwa anak cucu nanti masih bisa mendengar suara gemericik air yang jernih, bukan hanya cerita tentang kejernihan di masa lalu.

 

Karena pada akhirnya, Sungai Ogan adalah cerita tentang hubungan manusia dengan sang pencipta NYA, tentang bagaimana kita merawatnya, dan bagaimana ia akan merawat kita kembali.

 

Baturaja, 27 April 2026

Bahtera Bentala Indonesia

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News