Khazanah Islam

Adakah Dalil Dzikir Setelah Sholat

×

Adakah Dalil Dzikir Setelah Sholat

Sebarkan artikel ini
Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU
Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd.Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU

Adakah Dalil Dzikir Setelah Sholat

Persembahan Ustadz Yasin

Hadis di bawah ini menerangkan salah satu dari tata cara shalat Khauf. Cara yang tertera dalam hadis ini dilakukan apabila musuh berada di arah kiblat, di mana Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- membagi pasukan menjadi dua kelompok.

Satu di saf pertama dan satu di saf kedua. Kemudian beliau shalat bersama mereka. Beliau bertakbir bersama mereka semua, mereka membaca bersama-sama, rukuk bersama-sama dan bangkit dari rukuk bersama-sama pula.

Kemudian beliau sujud dan ikut sujud bersama beliau saf yang dekat beliau. Berikutnya apabila beliau telah berdiri untuk rakaat kedua, saf belakang yang menjaga musuh turun sujud. Hadis ini juga merupakan penjabaran dari QS An-nisa Ayat 102.

Apabila mereka telah berdiri, saf belakang maju dan saf depan mundur demi menjaga keadilan, agar saf pertama tidak tetap berada di tempatnya di sepanjang shalat.

Di rakaat kedua, beliau melakukan seperti yang dilakukan di rakaat pertama. Kemudian beliau bertasyahud bersama mereka semua dan salam bersama mereka semua juga.

Cara yang telah dijelaskan dengan detail dalam hadis ini terkait shalat Khauf yang cocok dipraktikkan dalam kondisi yang dialami Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat pada waktu itu, mengingat posisi musuh ada di arah kiblat dan mereka bisa melihatnya di saat berdiri dan rukuk.

Dan mereka tidak marasakan ancaman pasukan penyergap di belakang mereka.

عن جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما قال: «شَهِدْتُ مع رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الخوف فَصَفَفْنَا صَفَّيْنِ خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم والعدو بيننا وبين القبلة، وكَبَّرَ النبي صلى الله عليه وسلم وكَبَّرنا جميعا، ثم ركع ورَكَعْنا جميعا، ثم رفع رأسه من الركوع ورفعنا جميعا، ثم انحدر بالسجود والصف الذي يليه، وقام الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ في نَحْرِ الْعَدُوِّ، فلما قضى النبي صلى الله عليه وسلم السجود، وقام الصفّ الذي يليه انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بالسجود، وقاموا، تَقَدَّمَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ، وَتَأَخَّرَ الصَّفُّ الْمُقَدَّمُ، ثم ركع النبي صلى الله عليه وسلم وركعنا جميعا، ثم رفع رأسه من الركوع ورفعنا جميعا، ثم انحدر بالسجود، والصفّ الذي يليه -الذي كان مُؤَخَّرا في الركعة الأولى- فقام الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ فِي نَحْرِ الْعَدُوِّ، فلما قضى النبي صلى الله عليه وسلم السجود والصف الذي يليه: انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بالسجود، فسجدوا ثم سلَّم صلى الله عليه وسلم وسَلَّمْنا جميعا، قال جابر: كما يصنع حَرَسُكُمْ هؤلاء بأُمرائهم». وذكر البخاري طرفا منه: «وأنه صلى صلاة الخوف مع النبي صلى الله عليه وسلم في الغزوة السابعة، غزوة ذات الرِّقَاعِ»

Artinya: Dari Jābir bin Abdillah Al-Anṣāri -raḍiyallāhu ‘anhumā- ia berkata, “Aku menghadiri shalat Khauf bersama Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-. Kami berbaris dua saf di belakang Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, sementara musuh ada di antara kami dan kiblat. Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bertakbir dan kami semua bertakbir. Kemudian beliau rukuk, dan kami semua rukuk.

Selanjutnya beliau mengangkat kepala dari rukuk dan kami semua pun mengangkat kepala. Kemudian beliau turun sujud bersama saf yang dekat beliau, sementara saf yang dibelakang tetap menghadap arah musuh.

Ketika Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menyelesaikan sujud dan saf yang dekat beliau telah berdiri, maka saf yang dibelakang turun sujud dan lalu berdiri. Saf yang belakang pun maju sedang saf yang depan mundur.

Kemudian Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- rukuk dan kami semua rukuk. Kemudian beliau mengangkat kepala dari rukuk dan kami semua juga mengangkat kepala dari rukuk.

Berikutnya beliau turun sujud bersama saf yang dekat beliau -yang merupakan saf belakang di rakaat pertama-, sedang saf belakang tetap berdiri menghadap arah musuh.

Manakala Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- selesai sujud bersama saf yang dekat beliau, maka saf yang belakang turun sujud. Mereka sujud.

Kemudian Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- salam dan kami semua salam.” Jābir mengungkapkan, “Sebagaimana dilakukan para pengawal kalian terhadap para pemimpin mereka.” Bukhari menyebutkan sebagian hadis ini, “Bahwa ia (Jābir) melakukan shalat Khauf bersama Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- saat perang ketujuh, yakni perang Żāt ar-Riqā’.”

Ayat yang lalu menggambarkan pelaksanaan shalat khauf dengan tata cara tersendiri dalam suasana perang.

Pada ayat ini Allah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan zikir sesuai dengan kondisi mereka, berdiri, duduk, atau berbaring setelah selesai melakukan shalat.

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat yang dilakukan dalam keadaan takut tersebut, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya sesuai dengan kondisi dan kemampuan kamu, ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring, dan semoga dengan memperbanyak zikir itu kamu mendapat pertolongan dari Allah.

Kemudian, apabila kamu telah merasa aman dari suasana menakutkan yang kamu alami yang menyebabkan kamu melaksanakannya dengan cara yang disebutkan di atas, atau sudah kembali ke tempat asal kamu dari medan perang.

Maka laksanakanlah shalat itu sebagaimana biasa sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan syariat, terpenuhi rukun dan syaratnya serta sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Sungguh, shalat yang kamu lakukan itu adalah kewajiban yang ditentukan batas-batas waktunya atas orang-orang yang beriman.

Karena itu, setiap shalat dalam kondisi normal itu harus dilakukan pada waktu yang ditentukan untuknya, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan.
An-Nisa’ · Ayat 103

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ۝١٠٣

Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan shalat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring.

Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah shalat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.

Selanjutnya diperintahkan apabila shalat khauf itu selesai dikerjakan dengan cara yang telah diterangkan itu, maka hendaklah pasukan Islam itu mengingat Allah terus-menerus dalam segala keadaan.

Lebih lagi mereka harus menyebut nama Allah pada saat mereka berada dalam ancaman musuh. Allah akan menolong mereka selama mereka menolong agama Allah.

Hendaklah mereka mengucapkan tahmid dan takbir ketika berdiri di medan pertempuran, atau ketika duduk memanah musuh atau ketika berbaring karena luka-luka.

Segala penderitaan lahir dan batin akan lenyap, jika jiwa sudah diisi penuh dengan zikir kepada Allah, oleh karenanya kaum Muslimin harus terus ingat dan berzikir kepada Allah baik dalam keadaan perang ataupun damai.

Orang beriman setiap saat berada di dalam perjuangan. Pada suatu saat dia berperang dengan musuh pada saat yang lain dia bertempur melawan hawa nafsunya.

Demikianlah berzikir mengingat Allah diperintahkan setiap saat karena dia mendidik jiwa, membersihkan rohani dan menanamkan kebesaran Allah ke dalam hati.

Bila peperangan sudah usai, ketakutan sudah lenyap dan hati sudah tenteram hendaklah dilakukan shalat yang sempurna rukun dan syaratnya.

Karena shalat adalah suatu kewajiban bagi orang mukmin dan mereka wajib memelihara waktunya yang sudah ditetapkan.

Paling kurang lima kali dalam sehari semalam umat Islam melakukan shalat agar dia selalu ingat kepada Allah, sehingga meniadakan kemungkinan terjerumus ke dalam kejahatan dan kesesatan.

Bagi orang yang ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, waktu lima kali itu dipandang sedikit, maka dia menambah lagi dengan shalat-shalat sunah pada waktu-waktu yang telah ditentukan dalam agama.

Di ayat seratus tiga ini juga menerangkan kesunah berdzikir setelah sholat. Terutama pada penggalan ayat:
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ

Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan shalat, berzikirlah kepada Allah
Usai mengerjakan shalat sebaiknya jangan langsung beranjak dari tempat shalat.

Biasakan diri untuk dzikir sejenak dan berdo’a untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat.

Sebab dzikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan saat selesai shalat. Ia termasuk ibadah yang mudah dan ringan dilakukan, namun ganjaran yang diberikan sangatlah besar.

Kendati mudah dilakukan, ada banyak godaan yang harus disingkirkan agar tetap istiqamah dalam berdzikir.
Di antara godaan yang dimaksud adalah malas.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memasukkan bahasan khusus tentang do’a dan dzikir. Menurutnya, salah satu dzikir yang sangat dianjurkan ialah membaca subhânallâh, alhamdulillâh, dan allâhu akbar sebanyak 33 kali.

Kemudian ditutup dengan melafalkan lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai‘in qadîr satu kali.

Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah yang berbunyi:

قال صلى الله عليه وسلم من سبح دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين وحمد ثلاثا وثلاثين وكبر ثلاثا وثلاثين وختم المائة بلا إله إلا الله لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير غفرت ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر
Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah shalat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahulhamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,’” (HR. Malik).

Dengan demikian, budayakan setelah shalat membaca semua dzikir di atas. Berdasarkan hadits yang dikutip di atas, orang yang terbiasa melakukan ibadah ini, dosanya akan diampuni Allah Yang Maha Pengampun meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Wallahu a‘lam. (*)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News