OKU RAYAOpiniSumsel

Beberapa Ragam Dinamika Kelompok

×

Beberapa Ragam Dinamika Kelompok

Sebarkan artikel ini
INTI BUDAYA LITERASI
Persembahan Ust. Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. DOSEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNBARA, PENGURUS NU DAN PENYULUH AGAMA ISLAM OKU

Beberapa Ragam Dinamika Kelompok

oleh : Ahmad Yasin

Kita semua sepakat dengan sambutan bapak Dr H Saefudin S. Ag, M. Si, Ketua Balai Diklat Keagamaan Provinsi Sumatera Selatan.

Beliau menyampaikan seindah apapun music bung Haji Rhoma Irama menurut kita, tetep perlu menghargai penikmat music yang lain, baik dari kalangan sealiran dangdut ataupun yang lainya.(18 september 2023).

Artinya sedemikian detilnya memaknai kalimat moderasi. Saya akan memulai tulisan ini dengan di skursus seorang atheis Will Durant,

“Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah di bunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia di bunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.”

Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya
seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “di manfaatkan” dan “bermanfaat”.
Agama di manfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar di fungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri.

Sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Namun, kedua posisi itu tidak bisa di elakan dalam situasi dan dinamika social yang terus berkembang.

Memang, agama tidak berubah, tetapi agama di anut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individu dalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, di berbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi di semua lapisan pemeluk agama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”.

Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila di tatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri.

Ketika Nabi Muhammad SAW Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”.

Artinya, Nabi Muhammad SAW ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban
masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

Dengan demikian, secara
alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun).

Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa di pisahkan,
berdampingan dan bersamaan.

Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama

Dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.

Misalnya di katakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia.

Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia.

(Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA,
dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya
berhenti pada ajaran-ajaran kaku.

Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah.

Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak
berimbang.

Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa di kontrol apalagi di batasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan di lakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur.

Tidak bisa di pungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir di alektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya
di miliki oleh satu golongan.

Melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan di skursus tertentu.

Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita.

Ini menjadikan kita  berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng.

Alasan seperti Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad
dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya.

Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis.

Tidak hanya umat Islam,
melainkan semua umat dari berbagai agama.” Kita bisa lihat juga potret yang
berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional.

Dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini di dengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional
(Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt).

Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah di cetuskan oleh
Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006) Hal tersebut

Adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat.

Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai
ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah.

Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu. Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya
satu kiblat pengetahuan.

Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan.

Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan
dengan iman kita.

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan
Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang di maksud adalah di mana Islam mampu mewarnai
perubahan dunia.

Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama,
melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk
merespon dinamika sosial.

Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan
Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.

Lain lagi dengan Munawir Syadzali
lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang
harus di kedepankan.

(Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual.

“Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan
di akomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-
masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal
sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama
khususnya sejarah yang berkembang.

Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide.

Respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika  sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda.

Namun, tetap di landasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran
besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada
realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi
motivasi buat kitas semua,

“Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin
keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke
derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada
langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang
menghendaki mundur.”

Penulis adalah pengurus NU, Dosen Agama islam UNBARA dan Penyuluh Agama
Islam Kab.OKU dan aktif dalam seminar- seminar LKLB ( Literasi Keagamaan Lintas Budaya)

 

Baca juga ;

Pemakaman Jadi Komplek Pertokoan Pasar Baru

Bahasa Palembang, Bahasa Paling Sederhana, Dak Cayo Ceklah Dewek

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News