OKU

Bunda Literasi OKU, Ada Pesan dari Bupati OKU

×

Bunda Literasi OKU, Ada Pesan dari Bupati OKU

Sebarkan artikel ini
Hadiri Festival Literasi, Bupati OKU Ingatkan Pentingnya Literasi Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup

Bupati OKU: Literasi Bukan Sekadar Membaca, Tapi Jalan Menuju Sejahtera

OKU SATU.ID – Pagi itu, aula besar Gedung Serbaguna Asrama Haji Palembang dipenuhi semangat.

Ratusan peserta duduk berjejer rapi, sebagian membawa buku, sebagian lagi menenteng ponsel untuk mendokumentasikan momen penting: pembukaan Festival Literasi Sumatera Selatan 2025.

 

Di barisan depan, Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) H. Teddy Meilwansyah S.STP., M.M., M.Pd tampak hadir bersama para pegiat literasi dari seluruh penjuru Sumsel. Ia datang bukan sekadar menghadiri acara, tapi membawa pesan yang menggugah: “Literasi bukan sekadar membaca, tapi jalan menuju hidup yang sejahtera.”

 

Gubernur Herman Deru: Literasi Harus Menjawab Tantangan Zaman

 

Festival ini resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi harus hidup di tengah denyut zaman digital.

“Literasi itu bukan hanya bisa membaca huruf, tapi membaca kehidupan. Masyarakat yang literat akan tahu arah, bisa menganalisis, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi,” kata Herman Deru, suaranya menggema di ruangan.

 

Menurutnya, literasi yang kuat akan melahirkan kesejahteraan lahir dan batin, karena dari pengetahuan yang benar, tumbuh keputusan yang tepat. Ia juga menegaskan komitmen Pemprov Sumsel untuk memperluas pembinaan perpustakaan dan penguatan budaya baca di daerah-daerah.

 

“Kami ingin masyarakat Sumsel cerdas, mandiri, dan sejahtera lewat literasi,” tambahnya.

 

Teddy Meilwansyah: Literasi Adalah Cermin Kemajuan OKU

 

Dalam sesi berikutnya, Bupati Teddy Meilwansyah tampil memberi pandangan yang menohok.

Ia menyebut, kemajuan suatu daerah tak bisa dilepaskan dari sejauh mana warganya mampu memahami informasi dan memanfaatkannya untuk kebaikan bersama.

 

“Kita harus punya semangat yang sama untuk menumbuhkan literasi di OKU. Literasi itu bukan gaya hidup elitis, tapi kebutuhan sehari-hari untuk hidup cerdas dan mandiri,” tegasnya.

 

Bagi Teddy, literasi bukan lagi kegiatan membaca buku di ruang sunyi, melainkan cara berpikir, cara berbicara, dan cara mengambil keputusan di tengah derasnya arus informasi.

 

 

Bunda Literasi OKU Dikukuhkan, Semangat Baru untuk Generasi Muda

Momen berlanjut dengan pengukuhan Zwesti Karenia Teddy sebagai Bunda Literasi Kabupaten OKU oleh Duta Literasi Sumsel, Tenny Leriva.

Sorak tepuk tangan memenuhi ruangan ketika nama Zwesti diumumkan kembali dipercaya untuk memimpin gerakan literasi di OKU.

 

Bupati Teddy berharap, Bunda Literasi bisa menjadi motor penggerak perubahan, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang kini lebih banyak bersentuhan dengan layar gawai daripada halaman buku.

 

“Pemerintah daerah siap mendukung semua langkah Duta Literasi. Kami ingin anak-anak OKU mencintai buku seperti mereka mencintai permainan digital,” ujarnya penuh optimisme.

 

Festival Literasi Sumsel: Dari Huruf ke Harapan

 

Festival Literasi Sumsel 2025 tak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang untuk menanamkan keyakinan bahwa literasi adalah napas kemajuan.

Di tengah gempuran media sosial dan arus informasi cepat, kemampuan membaca dan menulis bukan lagi sekadar keterampilan, melainkan benteng agar masyarakat tak mudah tersesat oleh kabar palsu dan opini sesat.

 

Dari Palembang, gema literasi ini akan bergema hingga pelosok OKU — membawa pesan bahwa setiap halaman yang dibaca adalah langkah menuju masa depan yang lebih cerah. (*)

 

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News