Lebih Efektif Dakwah bil Hal
Persembahan Ust.Yasin
Khutbah I
اْألَنْبِيَاءِوَالْمُرْسَلِْيَْ، نَبِيِّنَا ُمَُمَّدٍصَلَّى هللاُعَلَيْوِوَسَلَّمَوَعَلَى ا
ألَوَمِحْدَهَُلَشَرِيْكَلَوُالْمَلِكُاْلَْقُّاْملُبِْيْ. وَأَشَُْدُأَنَّسَيِّدََنَُمَُ مَّادا عَبْدُهُِبِِحْسَانٍإِىلَي َوْمِالدِّيْنِ،
قُلوَالْإِوََلَّعْدِاْهللا
َلَدِإِه
أَوَرَشَُْسُوْدُلُوُأَنْصا
ْيْ.
ضَلَّعَنْسَبِيلِوِوَىُوَأَعْلَمُِبِلْمُُْتَدِينَادْعُإِهىلَسَبِيلِرَبِّكَِبِْلِْكْمَةِوَالْمَوْعِظَةِاْلَْسَنَةِوَجَادِْلُْمِْبِلَِّتِىِيَأَحْسَنُإِنَّرَبَّكَىُوَأَعْلَمُِبَِنْأَمَّا ب َعْدُف َيَا أَي َُُّا اْلَْاضِرُوْنَاَِ َّقُوا هللاَحَقََّ ُقَاَِوِوََلََتَُوَُْنَّإَِلَّوَأَن ْتُمْمُسْلِمُوْنَ. ف َقَالَهللاَُ َعَاىلَ:
Ma‟asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Menjadi keniscayaan bagi kita untuk senantiasa memanjatkan rasa
syukur kepada Allah swt yang telah menganugerahkan kehidupan di dunia
dengan segala fasilitas yang bisa kita nikmati.
Shalawat dan salam kita
abadikan kepada nabi yang telah sukses menciptakan tatanan peradaban
yang penuh santun dan kesopanan, yaitu Nabi Muhammad. Semoga kita
menjadi umatnya yang patuh pada sabda-sabdanya, dan kelak
mendapatkan syafa’at-nya. Amin ya rabbal „alamin.
Ma‟asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Manusia sebagai makhluk sosial, hidup, berproses, berinteraksi dan
berkomunikasi dalam sebuah lingkungan. Dimana kemungkinannya ada
dua, yaitu lingkungan baik dan lingkungan buruk. Baik tidaknya
lingkungan berimplikasi secara signifikan terhadap baik tidaknya tindakan
dan perbuatan kita semua. Jika hidup dalam lingkungan yang sudah
terbangun solidaritas tinggi, maka kita akan tergerak untuk mengikuti tindak
langkahnya: menjadi unit masyarakat yang cinta gotong royong dan guyub
rukun.
Begitu juga sebaliknya: jika kita berada dalam lingkungan yang
individualis, maka kita akan tunjukkan sikap yang sama: menjadi manusia
yang hidup sendiri-sendiri dan bercerai berai.
amaah sekalian. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Qadlayal
وَالضِّيَاعِوَالتَّشَتُّتِوَالْجِيْرَانِبَلْوَالْحَيَاةِكُلِّهَا مِنْكُلِّأَلْوَانِالسُّوْءِوَالشَّرِّوَالْفَسَادِوَالنَّخَلُّفََِف تَكُوْنُسَلِيْمَةُالْبِيْئَةِضَرْوْرَةًحَتْمِيَّةًلِحِمَايَةِالنَّفْسِوَاْلَْهْلِوَاْلَوْالدِ:Fiqhi Wal Fikrul Mu‟ashir menjelaskan
Artinya: “Maka, lingkungan yang baik merupakan kebutuhan mutlak
untuk melindungi diri sendiri, keluarga, anak, tetangga, bahkan seluruh
kehidupan dari segala bentuk keburukan, kejahatan, kerusakan,
keterbelakangan, kerugian, dan perpecahan”.
Ma‟asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Mendengar penjelasan di atas, maka sudah semestinya menjadi
kesepakatan bersama untuk membangun dan membentuk lingkungan yang
baik agar kita semua menjadi pribadi yang baik. Bagaimana caranya? Di
antara teknik yang paling efektif sepanjang masa adalah dengan
memperbanyak dakwah bil hal. Dakwah bil hal adalah metode dakwah
yang mengedepankan tindakan dan perilaku sebagai contoh nyata dalam
menyebarkan ajaran kebaikan. Artinya, tindakan sehari-hari seseorang
yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan mampu menginspirasi orang lain
tanpa perlu banyak bicara. Tidak hanya banyak berkata-kata, tapi
tunjukkan kebaikan nyata dengan keteladanan.
Tidaklah sesuatu yang kita perintahkan daripada kebaikan, tentunya
sudah kita kerjakan. Tidaklah nasihat yang disampaikan kepada orangorang, kecuali semuanya itu telah diamalkan oleh kita sendiri.
Jamaah sekalian!, dakwah bil hal dan memberikan keteladanan
secara langsung dinilai lebih efektif daripada dakwah bil lisan dalam
membentuk lingkungan yang bermoral dan bertatanan Islam. Syekh
وَطِبَاعُالنَّاسِاىلَاْملُسَاعَدَةِِفِاألَعْمَالِأَمْيَلُاِلَي َُْا مِنَالْمُتَاب َعَةِِفِاألق ْوَالِ:Nawawi dalam kitab Maraqil Ubudiyah mengemukakan
Artinya: “Sifat manusia cenderung lebih suka membantu dalam
perbuatan daripada mengikuti dalam perkataan.”
Perkataan ini mengingatkan kita bahwa manusia biasanya lebih
tergerak untuk ikut serta dalam tindakan nyata daripada hanya mendengar
kata-kata. Maksudnya, orang cenderung lebih terinspirasi dan mudah
meniru jika melihat contoh langsung melalui perbuatan atau aksi yang
dilakukan seseorang, bukan sekadar mendengar nasihat atau
ucapan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat bahwa tindakan
nyata seperti membantu orang lain atau berbuat baik lebih berdampak dan
bisa memotivasi orang untuk melakukan hal yang sama, dibandingkan
hanya dengan kata-kata yang mungkin terdengar baik tapi tidak diikuti
لِسَانُاْْلَالِأَنْطَقُمِنْلسانِالْمَقَالِ:dengan tindakan nyata. Syekh Nawawi juga mengatakan
Artinya: “Perbuatan lebih mengena daripada sekedar ucapan.”
Ma‟asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kembali ke sejarah awal keberhasilan nabi, sahabat dan ulama
Dahulu dalam misi dakwahnya. Mereka menyelaraskan dakwah bil lisan
dan dakwah bil hal. Nabi Muhammad saw mengubah tradisi di lingkungan
jahiliyah yang buruk menjadi lingkungan yang baik secara perlahan.
Rasulullah melakukan demikian antara lain karena perintah Allah agar
beliau menyempurnakan akhlak. Sayyidina Abu Bakar pun demikian.
Ketika menyeru masyarakat untuk berlaku jujur dengan mengatakan
ة
اَلصِّدْقُأَمَانَ
(kejujuran adalah sebuah amanah),
maka sedari awal beliau sendiri memang sosok yang sangat jujur,
bahkan mendapat julukan “Ash-Shiddiq”. Begitu juga para ulama Dahulu,
tidak hanya menganjurkan umat untuk menginvestasikan hartanya di jalan
Allah, tapi sekaligus dibuktikan dengan tindakan nyata. Dalam kitab AlMaushu‟ah Al-Fiqhiyyah dijelaskan bahwa di antara cara dakwah nabi dan
ulama-Ulama zaman Dahulu adalah dengan memberi makanan kepada
orang miskin, memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkan,
menyantuni anak Yatim dan membantu orang-orang yang sangat
membutuhkan bantuan, mendirikan tempat pembelajaran untuk
mengadakan kegiatan pendidikan, hingga mengajarkan Al-Qur‟an dan
hadits kepada mereka semua.
Ma‟asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Menjadi pesan moral kepada kita semua, khususnya kepada khatib
sendiri untuk tidak hanya pandai bersilat lidah, tapi juga menjunjung tinggi
nilai-nilai keteladanan dan kerja nyata agar mampu membangun
lingkungan yang baik. Abdullah Alawi al-Hadhrami dalam kitab AnNashaihud Diniyah wal Washayal Imaniyah pernah menjelaskan:
إذا َلَْي َن ْتَفِعِاْلعَاَلُبِعِلْمِوِِف ن َفْسِوِفَكَيْفَبِوِغَي ْرُهُ؟
Artinya, “Kalau ilmunya tidak bermanfaat kepada dirinya, bagaimana
mungkin bisa bermanfaat kepada orang lain?”
Lebih jelasnya, jika dia hanya mengingatkan orang lain untuk berbuat
baik, sementara dirinya berprilaku buruk, maka sulit kemungkinannya
mereka menjadi baik, atau bahkan ajakan baiknya tidak akan memperoleh
hasil apa pun. Karena itu, sudah seharusnya disadari bahwa faktor
determinan dari krisis moral yang melanda lingkungan Indonesia bahkan
dunia adalah karena krisis dakwah bil hal. Lebih banyak seorang da‟i yang
menyerukan kebaikan daripada yang memberi contoh kebenaran.
Sayyidina Umar bin Khattab ra pernah berkata:
ما؟
ا
قَالَعَلِيْمُاللِّسَانِجَاىِلُالْقَلْبِوَالْعَمَلِإِنَّأَخْوَفَمَا أَخَافُعَلَى ىَذِهِاألُْمَّةِالْمُنَافِقُالْعَلِيمُقَالُوْا وَكَيْفَيَكُونُمُنَافِاقا عَلِي
Artinya, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini
adalah orang pintar yang munafik. Para sahabat bertanya: ‘Bagaimana bisa
seseorang itu menjadi munafik yang pintar?’ Sayyidina Umar ra menjawab, ‘Yaitu
orang yang pandai berbicara tapi hati dan perilakunya bodoh’.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Penjelasan khatib tadi terinspirasi dari pandangan Imam Syaukani ketika
وَأمَّا بِنِعْمَةِرَبِّكَفَحَدِّثْ:menafsirkan surat Adh-Dhuha ayat 11
فَلْيُبَالِغْفِيْاِظْهَارِهَا بِكُلِّمُمْكِنٍمَالَمْيَصْحَبْذلِكَاْلْظْهَارَرِيَا ء أَوْعُجُ ب أَوْمُكَاثِرَة لِلْغَيْرِ:Beliau menjelaskan ayat tersebut seperti ini
Artinya, “Maka tampakkanlah kenikmatan yang didapat dengan terangterangan, selama tidak disertai dengan riya’, ujub dan membanggakan diri kepada
هَلَّْيَتِوَالذِّكْرِاْلَْكِيْمِ .“orang lain
نِالْعَظِيْمِوَن َفَعَِنِوَاَِّيَّكُمِْبَِا فِيْوِمِنَا
الْمُسْلِمِْيَْوَالْمُسْلِمَاتِف َيَا ف َوْزَالْمُسْت َغْفِرِيْنَوََّيََنََاةَالتَّائِبِْيَْوََ َقَبَّلَمِِنِّْوَمِنْكُمََِْلَوَََوُاِنَّوُىُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. وَأَسْت َغْفِرُهللاَالْعَظِيْمَِلِْوَلَكُمْوَلِسَائِرِِبَرَكَهللاُِلِْوَلَكُمِْفِالْقُارْه
Khutbah II
وَأَشَُْدُأَنَْلَاِلَوَإَِلَّهللاُوَهللاَُحَْدُهللِعَلىَإِحْسَانِوِوَالشُّكْرُلَوُ هلِوِوَأَصْحَابِوِوَالتَّابِعِْيَْوَمَنََْبِعَُُمْاَْلَْمْدُهِلِلِّرَبِّالْعَالَمِْيَْ، وَبِوِنَسْتَعِْيُْعَلَى أُمُوْرِالدُّن ْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصََّلَةُوَالسََّلَمُعَلَى أَشْرَفِ
ا
ا أَمَّا ب َعْدُفَياَاَي َُُّا النَّاسُاَِ َّقُواهللاَفِيْمَا أَمَرَسَيِّدَِنَُمَُمَّدٍوَعَلَى اَلِوِلِّعَلَى وَحْدَهَُلَشَرِيْكَلَوُوَأَشَُْدُأنَّسَيِّدََنَُمَُمَّد
ا
اكِثي ْر
ا
عاَىلَدْسِوِ. وَقَالَََوَان ْت َُُوْا عَمَّا ن ََُى وَاعْلَمُوْا أَنَّهللاَأَمَرَكُمِْبَِمْرٍبَدَأَفِيْوِبِن َفْسِوِوَثَ َّنَِّبَِآلئِكَتِوِبِقُوَأَصْحَابِوِوَسَلِّمََْسْلِيْم
ا
اَللّهُُمَّادْفَعْعَنَّا .وَاخْذُلْمَنْخَذَلَاْملُسْلِمِْيَْوَدَمِّرْأَعْدَاءَالدِّيْنِوَاعْلِكَلِمَاَِكَإِىلَي َوْمَالدِّيْنِالشِّرْكَوَاْملُشْرِكِْيَْوَانْصُرْعِبَادَكَاْملُوَحِّدِيَّةَوَانْصُرْمَنْنَصَرَالدِّيْنَاْإلِسَْلَمَوَاْملُسْلِمِْيَْوَأَذِلَّاَللّهُُمَّأَعِزَّ .اَللّهُُمَّاغْفِرْلِلْمُؤْمِنِْيَْوَاْملُؤْمِنَاتِوَاْملُسْلِمِْيَْوَاْملُسْلِمَاتِاََلَحْيآءِمِن ُُْمْوَاَْلَمْوَاتِنِوَارْضَعَنَّا مَعَُُمْبِرََحَْتِكََّيَأَرْحَمَالرَّاَحِِْيَْوَالتَّابِعِْيَْوََتَبِعِي التَّابِعِْيَْْلَُمِْبِِحْسَانٍاِىلَي َوْمِالدِّيْاللّهُُمَّعَنِاْخلُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَأَِبِبَكْرٍوَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْبَقِيَّةِالصَّحَابَةِاْملُقَرَّبِْيَْوَارْضَنْبِيآئِكَوَرُسُلِكَوَمَآلئِكَةِعَلَى سَيِّدَِنَُمَُمَّدٍصَلَّى هللاُعَلَيْوِوَسَلِّمْوَعَلَى آلِسَيِّدَِنَُمَُمَّدٍوَعَلَى اَاَللّهُُمَّصَلِّا إِنَّهللاَوَمَآلئِكَتَوُيُصَلُّوْنَعَلىَالنَِّبِآياَي َُُّا الَّذِيْنَآمَن ُوْا صَلُّوْا عَلَيْوِوَسَلِّمُوْاََسْلِيْم
ا وَسِيَّا وَِبَءَوَالزََّلَزِلَوَاْملِحَنَوَسُوْءَاْلفِت ْنَةِوَاْملِحَنَمَا ظََُرَمِن َُْا وَمَا بَطَنَعَنْب َلَدَِنَاِنْدُونِيْاْلبََلَءَوَاْل
ا َّيَرَبَّاْلعَالَمِْيَْ. رَب َّنَا آَِناَِفِالدُّن ْيَا حَسَنَة
ا وَسَائِرِاْلب ُلْدَانِاْملُسْلِمِْيَْعآمَّة
ا وَقِنَا عَذَابَالنَّارِ. رَب َّنَا ظَلَمْنَا اَن ْفُسَنَا وَإنَْلََْ َغْفِرْلَنَا وََ َرَْحَْنَا لَنَكُوْنَنَّمِنَِفِاْآلخِرَةِخآصَّة
اْخلَاسِرِيْنَحَسَنَة
أَكْب َرْكُمْوَلَذِكْرُهللاِوَاْلب َغْي يَعِظُكُمْلَعَلَّكُمََْذَكَّرُوْنَوَاذْكُرُوا هللاَاْلعَظِيْمَيَذْكُرْكُمْوَاشْكُرُوْهُعَلىَنِعَمِوِيَزِدْعَنِاْلفَحْشآءِوَاْ







