Literasi sebagai Cahaya Kebangsaan
Membentuk Karakter dan Identitas di Tengah Arus Global
Oleh : Mariatul Iftiyah
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga karakter dan identitas kebangsaan.
Sebagai negara yang kaya akan suku, budaya, bahasa, dan agama, Indonesia membutuhkan fondasi yang kuat agar persatuan dan kesatuan tetap terjaga. Salah satu fondasi penting tersebut adalah literasi.
Selama ini, banyak orang memahami literasi hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, makna literasi jauh lebih luas.
Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengenal budaya, memahami sejarah, menggunakan teknologi secara bijak, hingga memiliki kesadaran terhadap media dan lingkungan sosial.
Sayangnya, budaya literasi di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan. Rendahnya minat baca masyarakat, kurangnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas, serta derasnya pengaruh budaya luar tanpa filter menjadi tantangan yang nyata.
Akibatnya, banyak generasi muda yang mulai kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur bangsa seperti gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air.
Literasi dan Karakter Bangsa
Literasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan pembentukan karakter bangsa.
Seseorang yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memahami perbedaan, menghargai budaya, serta berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang diterimanya.
Di era digital saat ini, masyarakat dibanjiri informasi setiap hari melalui media sosial dan internet. Namun, tidak semua informasi tersebut benar.
Hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda sering kali menyebar dengan cepat. Rendahnya literasi media membuat sebagian masyarakat mudah percaya dan terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Karena itu, literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan memilah informasi dan memahami dampaknya.
Literasi yang kuat akan membantu masyarakat menjadi lebih bijak dalam menggunakan teknologi serta tidak mudah terprovokasi.
Selain itu, literasi budaya dan sejarah juga sangat penting untuk memperkuat identitas nasional. Pemahaman terhadap sejarah bangsa dapat menumbuhkan rasa bangga sebagai warga negara Indonesia.
Sementara itu, literasi budaya membantu masyarakat menghargai keberagaman dan menjaga warisan budaya yang dimiliki bangsa ini.
Tantangan Literasi di Indonesia
Meningkatkan literasi masyarakat Indonesia bukanlah hal mudah. Masih banyak daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap buku dan fasilitas pendidikan.
Perpustakaan dan taman baca belum merata, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru. Anak-anak dan remaja kini lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dibanding membaca buku.
Konten hiburan yang cepat dan instan sering kali lebih menarik dibanding aktivitas membaca yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi.
Kurangnya pembiasaan membaca sejak usia dini juga menjadi penyebab rendahnya budaya literasi di masyarakat.
Padahal, kebiasaan membaca harus dibangun mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat.
Literasi sebagai Jembatan Menuju Masyarakat Berbudaya
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya budaya. Dari Sabang sampai Merauke, terdapat ribuan tradisi, bahasa daerah, kesenian, dan adat istiadat yang menjadi identitas bangsa. Namun, tanpa adanya literasi budaya yang kuat, kekayaan tersebut bisa perlahan memudar.
Literasi budaya membantu masyarakat memahami dan menghargai warisan budaya bangsa sendiri.
Dengan literasi budaya, generasi muda tidak hanya mengenal budaya asing, tetapi juga bangga terhadap budaya lokal.
Selain itu, literasi juga berperan dalam membentuk masyarakat yang lebih toleran dan terbuka terhadap perbedaan.
Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, sikap saling menghormati sangat penting untuk menjaga persatuan bangsa.
Peran Teknologi dalam Literasi
Teknologi sebenarnya dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan literasi jika digunakan secara bijak.
Internet memberikan akses luas terhadap informasi dan sumber belajar yang sebelumnya sulit dijangkau.
Pembelajaran digital, perpustakaan online, buku elektronik, hingga platform edukasi dapat membantu masyarakat memperoleh pengetahuan dengan lebih mudah.
Guru dan peserta didik juga dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif.
Namun demikian, penggunaan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Tanpa literasi digital yang baik, teknologi justru dapat membawa dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, cyberbullying, hingga lunturnya nilai budaya lokal.
Membangun Budaya Literasi Bersama
Membangun budaya literasi bukan hanya tugas pemerintah atau sekolah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung budaya literasi.
Sementara masyarakat dapat membangun komunitas baca, taman literasi, dan kegiatan edukatif lainnya.
Pemerintah juga perlu memperluas akses terhadap bahan bacaan berkualitas, meningkatkan fasilitas perpustakaan, serta memperkuat program literasi digital di berbagai daerah.
Di era globalisasi ini, literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Bangsa yang memiliki budaya literasi yang kuat akan lebih siap menghadapi perubahan zaman, menjaga identitas nasional, dan membangun generasi yang cerdas, kritis, serta berkarakter.
Dengan memperkuat literasi, Indonesia tidak hanya membangun masyarakat yang pintar membaca, tetapi juga masyarakat yang mampu berpikir, menghargai budaya, serta menjaga persatuan bangsa di tengah perubahan dunia yang semakin cepat. (*)







