Pancasila dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Memperkukuh Masyarakat yang Inklusif dan Kohesif
Persembahan Ust. Yasin,S.H.I.,M.Pd.
PAI Kab.OKU
Sehari setelah pengumuman peserta PAI AWARD Propinsi Sumatra selatan dalam perjalanan pulang tangan ini masih berlanjut di depan leptop, karna harus mengisi formulir pendaftaran zoom seminar internasiona bersama para nara sumber yang telah tertera dalam form pendaftran, yakni, prof. Dr.Ahmad Muzakki Ph.D. Rector UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr.Chris Seiple dari Amerika, Nadine Maenza dari Israel dan empat nara sumber tokoh perdamaian dunia lainnya.
Apa yang akan mereka kupas tuntas dalam seminar internasional tersebut? Jawabannya adalah : Pancasila dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Memperkukuh Masyarakat yang Inklusif dan Kohesif, mari kita simak ulasan sekilas di bawah ini beberapa rasionalitas yang melatar belakangi diantaranya mari simak uraian sekelumit di bawah ini.
Kemajuan dan getar dunia saat ini ditandai dengan meningkatnya polarisasi sosial dan politik.
Tatangan dunia yang berlabuh pada nilai-nilai bersama yang diungkapkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sedang melemah.
Dunia kita menghadapi krisis nilai yang dibuktikan dengan maraknya korupsi, sikap tidak bertenggang rasa, intoleransi dan kefanatikan buta, serta normalisasi terhadap kekerasan.” -Mengimajinasikan Kembali Masa Depan Kita Bersama (2021), sebuah laporan dari Komisi Internasional untuk Masa Depan Pendidikan, UNESCO.
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, ras, etnis, bahasa daerah, dan mengakui enam agama besar serta terdapat ratusan kepercayaan lokal.
Kondisi keragaman ini merupakan suatu keunikan yang dirajut dan dipertahankan melalui Pancasila.
Nilai- nilai Pancasila memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia menjelaskan bahwa, contoh nilai penting dari Pancasila yang perlu diimplementasikan dalam menjaga inklusivitas kemajemukan masyarakat Indonesia adalah senantiasa untuk bersikap toleran kepada orang yang memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda. Bangga dan mencintai keberagaman yang ada di Indonesia, mulai dari bahasa dan budaya, dan mendorong persatuan dan kesatuan Indonesia.
BPIP juga menegaskan bahwa Pancasila harus dijadikan sebagai pendekatan ke setiap sektor dalam kehidupan masyarakat.
Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Lahir Pancasila, penting untuk lebih memahami bagaimana Pancasila bisa diterapkan dalam dunia pendidikan untuk memperkukuh persatuan sosial yang terancam oleh politik identitas, ketakutan akan perbedaan (xenophobia), penyebaran kebencian, dan berbagai ajaran yang tidak toleran dan ekstremis.
Tantangan meningkatnya kohesi sosial ini bukan hanya terjadi di satu negara saja, sehingga penting juga untuk mempertimbangkan perspektif global dalam mengerti pendidikan Pancasila.
Nilai-nilai Pancasila perlu dipraktikkan dari lingkungan sosial terdekat untuk memperkuat akar Pancasila itu sendiri.
Keselarasan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam berbagai sektor menjadi jalan yang memperkokoh masyarakat yang inklusif dan kohesif.
Dalam diskursus ini, Literasi Keagamaan Lintas Budaya adalah sebuah pendekatan pendidikan literasi keagamaan yang kreatif dan efektif dalam menerjemahkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dengan penekanan pada nilai inklusif dan kohesif akan keberagaman masyarakat Indonesia.
Sejak Oktober 2021, Institut Leimena telah menyelenggarakan Program Internasional Bersertifikat: Pengenalan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bagi guru dan pendidik agama (Penyuluh Agama Islam).
Program ini berfokus pada hubungan dan kerjasama lintas agama yang positif dan selaras dengan prinsip keharmonisan sosial dari Pancasila.
Hingga saat ini, terdapat lebih dari 7.700 guru dan pendidik (termasuk Penyuluh Agama) dari 38 provinsi yang telah lulus program pelatihan ini. (*)









