OKU RAYASumsel

Peran Pemuda di Era Digital dalam Memperkuat Kerja Sama Lintas Agama dan Budaya di Dunia yang Terpolarisasi

×

Peran Pemuda di Era Digital dalam Memperkuat Kerja Sama Lintas Agama dan Budaya di Dunia yang Terpolarisasi

Sebarkan artikel ini
Ust.Ahmad Yasin,S.H.I.,M.Pd. Dosen Pendidikan Agama Islam UNBARA, Penyuluh Agama Islam dan Pengurus NU Kab. OKU

Peran Pemuda di Era Digital dalam Memperkuat Kerja Sama Lintas Agama dan Budaya di Dunia yang Terpolarisasi

Sumpah pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang masih dijajah dan terpecah belah oleh perbedaan suku, ras, agama dan bahasa, para pemuda di tahun 1928 telah bersumpah untuk bertumpah darah yang satu – tanah air Indonesia; berbangsa yang satu – bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan – bahasa Indonesia.

Kongres Pemuda 1928 ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi lintas agama dan budaya. Para pemimpin dari berbagai organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, dan lainnya berkumpul merumuskan ikrar bersama yang kemudian membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaan di tahun 1945.

Kemerdekaan Indonesia tercapai berkat kerjasama para pendiri bangsa yang berasal dari latar belakang berbeda untuk mencapai tujuan bersama tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing atau berusaha mendominasi yang lain.

Dalam era digital yang semakin terhubung dengan teknologi dan informasi, peran pemuda sebagai agen perubahan semakin vital.

Pemuda memiliki potensi besar dalam mempengaruhi narasi sosial melalui media digital, termasuk dalam mempromosikan toleransi beragama dan budaya.

Namun, polarisasi yang semakin tinggi di masyarakat membuatnya rentan terhadap pengaruh negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme yang disebarkan melalui dunia maya, yang berpotensi memecah-belah keberagaman.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah pendekatan untuk mengimplikasikan peran pemuda dalam memperkuat kohesi sosial di era digital dan dunia yang terpolarisasi.

Literasi keagamaan lintas budaya adalah sebuah pendekatan kreatif dalam menciptakan masyarakat yang toleran dan inklusif.

Dengan mendalami pemahaman tentang agama dan budaya lain, pemuda dapat mengembangkan apresiasi yang mendalam terhadap keberagaman dan membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang lain.

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Webinar Internasional seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini menjadi sebuah momentum untuk mengajak kembali pemuda dan seluruh masyarakat untuk bersatu dalam keberagaman.

Webinar ini akan mendiskusikan peran pemuda dalam memperkukuh toleransi antar agama dan budaya di era digital dari berbagai perspektif global.

Prof. Dr. Abdul Mu’ti, akan merefleksikan nilai-nilai Sumpah Pemuda. Dr. Farid F. Saenong, M.A., akan menjelaskan tentang pendekatan literasi keagamaan lintas budaya yang sejalan dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda serta menyoroti peran penting pemuda dalam memperkuat kohesi sosial di era digital.

Riandy Prawita, akan memaparkan pentingnya peran kaum muda dalam membangun kolaborasi antara orang yang berbeda agama, suku, ras, dan budaya.

Septiaji Eko Nugroho, S.T., M.Sc., akan berbagi pengalaman tentang strategi membangun narasi positif dan menangkal hoaks serta ujaran kebencian berbasis agama melalui media sosial.

Desca Lidya Natalia, akan menjelaskan pentingnya memilih sumber informasi yang kredibel dan keterampilan memahami berita yang mengandung mis informasi, disinformasi serta half-truth information sebagai upaya pencegahan hoaks dalam arus digital.

Dr. Chris Seiple, akan menjelaskan tentang pendekatan literasi keagamaan lintas budaya yang sejalan dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda serta menyoroti peran penting pemuda dalam memperkuat kohesi sosial di era digital. (Yas)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News