Peran Kaum Muda Dibahas dalam Webbinar Internasional
OKU SATU – Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.
Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang masih dijajah dan terpecah belah oleh perbedaan suku, ras, agama dan bahasa.
Para pemuda di tahun 1928 telah bersumpah untuk bertumpah darah yang satu – tanah air Indonesia; berbangsa yang satu – bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan – bahasa Indonesia.
Semangat dan nilai-nilai dari Sumpah Pemuda ini telah membawa bangsa Indonesia untuk sampai kepada pintu gerbang kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.
Kemerdekaan Indonesia tercapai berkat kompetensi para pendiri bangsa dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.
Mereka bekerjasama mencapai tujuan bersama tanpa harus mengorbankan iman kepercayaannya masing-masing atau berusaha mendominasi yang lain.
Literasi Keagamaan Lintas Budaya adalah sebuah pendekatan baru yang kreatif dalam memetakan kompetensi mendasar ini.
Sehingga kita dapat mengembangkannya dalam diri kita untuk mampu bekerjasama dalam konteks multi-agama tanpa kehilangan identitas agama atau kepercayaan kita masing-masing.
Webbinar internasional akan fokus pada peran kaum muda dalam memperkuat kohesi sosial terutama di antara orang-orang yang berbeda agama atau kepercayaan.
Bagaimana kita dapat membangun cara pandang bahwa sekalipun kita hidup di masyarakat multireligius, kita dapat tetap bekerjasama untuk kemanusiaan tanpa harus merasa agama kita terancam?
Peran pemuda seperti apa saja yang dapat dilakukan dalam melakukan literasi keagamaan lintas budaya dan akan dibahas berbagai pertanyaan ini, serta menelusurinya dari berbagai perspektif dengan tambahan beberapa pengalaman anak-anak muda dari dalam negeri dan internasional.
Beberapa narasumber hebat hadir di webbinar. Di antaranya :
Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., akan memaparkan pentingnya nilai-nilai dan semangat Sumpah Pemuda untuk terus dipelihara di tengah menguatnya polarisasi berbasis suku, ras, dan agama baik di Indonesia maupun global.
Dr. Renee Hattar, akan menyampaikan perspektifnya tentang bagaimana kaum muda dapat memainkan peran unik dalam membangun rasa saling menghormati dan kolaborasi antara orang-orang yang berbeda agama atau kepercayaan, alih-alih terlibat dalam dunia yang semakin terpolarisasi.
Dr. Tarmizi Tahir, S.H.I., merefleksikan nilai-nilai Sumpah Pemuda serta menjelaskan peran penting pemuda dalam memperkuat kohesi sosial terutama dalam konteks pendidikan pesantren.
Dr. Chris Seiple, menjelaskan pendekatan literasi keagamaan lintas budaya sebagai alternatif untuk menguatkan kohesi sosial dan kompetensi mendasar untuk bekerjasama dalam konteks masyarakat plural.
Danny Prasetyo, M.Si., merefleksikan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam konteks Indonesia masa kini dan global serta menjelaskan peran penting pemuda dalam memperkuat kohesi sosial. (*)
Baca juga :
Calon Pengantin Wajib di-Training, Mulai 2024
Air Tanah Digunakan, Izin Wajib Diterbitkan, Termasuk Pertanian Rakyat










