BATURAJA – Suasana tenang di bantaran Sungai Ogan mendadak berubah jadi penuh kecemasan. Di Kelurahan Baturaja Lama, Kecamatan Baturaja Timur, tanah di tepian sungai mulai menunjukkan tanda-tanda rapuh.
Sedikitnya 11 rumah kini berdiri di atas ancaman yang nyata—longsor yang bisa datang kapan saja.
Kondisi ini pertama kali terungkap setelah warga melaporkan retakan tanah yang makin melebar.
Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU yang turun langsung ke lokasi untuk memastikan situasi sebenarnya.
BACA JUGA
Kepala BPBD OKU, Januar Effendi, menjelaskan bahwa kerusakan tebing sungai dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung cukup lama.
Air yang terus menggerus tepi sungai menyebabkan abrasi hingga akhirnya memicu longsoran di daerah aliran sungai.
Yang membuat situasi semakin mencekam, jarak antara titik longsor dengan permukiman warga kini hanya sekitar 25 meter.
Angka ini bukan sekadar jarak, melainkan batas tipis antara aman dan bencana.
BACA JUGA
WOW! OKU Gelontorkan Puluhan Miliar untuk Proyek 2026, Ini Daftar Lengkapnya!
Meski demikian, sebanyak 11 kepala keluarga dengan total 44 jiwa masih memilih bertahan.
Mereka belum meninggalkan rumah, meski risiko longsor susulan terus mengintai, terutama saat hujan kembali turun deras.
Di sisi lain, BPBD OKU terus memperketat pemantauan di lokasi rawan. Pergerakan tanah dan aliran sungai diawasi secara intensif, sementara warga diminta untuk tetap siaga dan segera mengungsi jika muncul tanda-tanda bahaya.
Di bantaran Sungai Ogan, ketenangan kini terasa semu. Setiap retakan tanah membawa pesan yang sama: bahaya bisa datang tanpa aba-aba. ***









