Scroll untuk baca
Pertanian

Harga Jagung Turun, Banten Tertinggi, Sumsel Tempati Posisi Keenam

×

Harga Jagung Turun, Banten Tertinggi, Sumsel Tempati Posisi Keenam

Sebarkan artikel ini
Harga Jagung Turun, Banten Tertinggi, Sumsel Tempati Posisi Keenam
Hamparan jagung yang tumbuh subur di lahan petani OKU, Sumsel. Meski harga jagung nasional sedang turun, semangat petani tak ikut merosot. Sumsel menempati posisi keenam harga jagung tertinggi nasional, tetap jadi harapan di tengah tantangan (foto okusatu.id)

eHarga Jagung Turun, Banten Tertinggi, Sumsel Tempati Posisi Keenam

OKUSATU.IDHarga jagung di berbagai wilayah Indonesia mengalami penurunan pada awal Mei 2025.

Berdasarkan laporan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Sabtu, 3 Mei 2025, harga ceran jagung secara nasional tercatat di angka Rp6.070 per kilogram.

Harga tersebut turun Rp126 atau 2,03 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam sepekan, penurunan mencapai Rp104 atau 1,68 persen, dan jika dibandingkan sebulan lalu, harga berkurang Rp94 atau sekitar 1,52 persen.

BACA JUGA Harga Kopi Robusta Tembus Rp95.000 per Kilogram

Jika menengok tren tiga bulan terakhir, rata-rata harga jagung nasional turun Rp383 atau 5,94 persen.

Selama periode Februari hingga Mei 2025, harga terendah terjadi pada 18 April di angka Rp6.050/kg, sementara harga tertinggi tercatat pada 6 Februari, yakni Rp6.585/kg.

Banten Paling Tinggi, Sumsel di Urutan Enam

Meski harga jagung menurun secara nasional, sebagian wilayah mencatatkan harga yang lebih tinggi.

Banten memimpin dengan harga jaguang tertinggi, yaitu Rp7.500/kg, disusul Aceh di posisi kedua dengan Rp7.000/kg.

Berikut daftar lengkap 9 provinsi dengan harge jagung tertinggi:

Banten – Rp7.500/kg

Aceh – Rp7.000/kg

Jambi – Rp6.833/kg

Sumatera Selatan – Rp6.250/kg

BACA JUGA Listrik di Batumarta Padam, Daerah Ini Segera Cari Genset

Sumatera Barat – Rp6.011/kg

Lampung – Rp6.000/kg

Bali – Rp5.833/kg

Jawa Timur – Rp5.627/kg

Jawa Tengah – Rp5.481/kg

Imbas Turunnya Harga Jagung

Penurunan hargae jagung berdampak langsung pada keseimbangan ekonomi petani, terutama bagi mereka yang menggantungkan penghasilan utama dari hasil panen jagung.

Di sisi lain, pelaku industri pakan ternak bisa memperoleh bahan baku dengan harga lebih murah.

Namun, kondisi ini menantang petani, karena biaya operasional dan produksi tidak ikut turun.

BACA JUGA CPNS Jalur Umum Asal OKU Bawa Pulang SK, Segini Jumlahnya

Pemerintah dan pihak industri perlu melakukan pemantauan harga secara berkala agar tidak merugikan salah satu pihak, terutama produsen kecil.

Fluktuasi hargae jagung bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti peningkatan pasokan, menurunnya permintaan, atau perubahan kebijakan distribusi.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk merancang strategi kebijakan harga dan menjalin koordinasi dengan pelaku pasar, agar harga jagung tetap stabil dan petani tidak mengalami kerugian berkepanjangan.(***)

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News