EkonomiSumsel

Padi Apung Sumsel: Panen Dua Kali, Tarik Investasi!

×

Padi Apung Sumsel: Panen Dua Kali, Tarik Investasi!

Sebarkan artikel ini
doc antara

PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong inovasi di sektor pangan. Tahun 2025, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel mulai mengembangkan padi apung sebagai solusi menghadapi krisis iklim dan lahan rawa.

Petani akan menanam 61 varietas padi unggul di kawasan Jakabaring Sport City (JSC), Palembang. Lahan seluas 9.000 meter persegi kini disiapkan khusus untuk uji coba padi apung yang tahan genangan dan cuaca ekstrem.

Wahyu Anita Sari, Kepala Seksi Pelayanan Mutu Teknis Benih Dinas Pertanian Sumsel, menegaskan bahwa pengembangan ini melanjutkan uji coba tahun lalu yang menanam 16 varietas padi apung.

BACA JUGA Retret Sumsel Bidik Anak Jalanan, 14 Hari Pembinaan

“Pada 2024, kami sudah melihat hasil yang menggembirakan. Tapi kami juga harus menghadapi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) saat jelang panen,” ungkap Wahyu seperti di kutip dari antara

Target: Panen Dua Kali, Atasi Rintangan Biaya dan Hama

Dinas Pertanian Sumsel kini mengerahkan tim teknis untuk mengatasi kendala tahun lalu. Mereka memperkuat sistem pengendalian hama dan memilih varietas yang lebih adaptif terhadap lingkungan rawa.

“Kami tidak berhenti di evaluasi. Tahun ini kami tanam lebih banyak varietas, dan akan kami tampilkan semua dalam event Gebyar Perbenihan 2025 di bulan September,” kata Wahyu.

Pameran benih terbesar di Sumatera Selatan itu diharapkan menarik perhatian investor dan membuka peluang kerja sama sektor swasta.

BACA JUGA Oknum Kades di OKU Selatan Tusuk Oknum Wartawan Online Usai Dimintai Uang

“Siapa pun yang tertarik bisa langsung melihat hasil uji coba kami. Harapannya, metode padi apung bisa menjadi ladang investasi baru di Sumsel,” ujarnya.

Padi Apung Butuh Modal Besar, tapi Hasil Panen Lebih Menguntungkan

Budidaya padi apung memang menantang dari segi biaya. Wahyu menyebut, sistem tanam ini membutuhkan anggaran dua hingga tiga kali lebih besar dibanding padi konvensional.

Namun ia memastikan, hasil panennya sepadan. “Lahan rawa biasanya cuma panen sekali. Dengan padi apung, petani bisa panen dua kali. Artinya produksi bisa meningkat signifikan,” katanya.

BACA JUGA Remaja 16 Tahun dì OKU Timur Nyemplung dì Saluran Irigasi, Korbannya Innalillahi

Padi Apung Jadi Senjata Hadapi Krisis Iklim dan Lahan Rawan

Sumsel melihat padi apung sebagai jawaban atas ancaman global seperti perubahan iklim, banjir, dan penyempitan lahan produktif. Teknologi ini juga mendukung strategi nasional untuk menjaga ketahanan pangan.

Pemerintah daerah kini mengajak petani, swasta, hingga lembaga riset untuk bergabung dalam pengembangan sistem ini.

“Kalau semua pihak turun tangan, saya yakin padi apung bisa menjadi masa depan pertanian Sumsel. Kita tidak hanya bicara panen, tapi juga bicara soal menyelamatkan lingkungan,” tutup Wahyu dengan penuh semangat.

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News