Opini

KARTINI KINI untuk MASA DEPAN

×

KARTINI KINI untuk MASA DEPAN

Sebarkan artikel ini

KARTINI KINI untuk MASA DEPAN

 

Oleh:

Bagus Suparjiyono, S.Pd.,M.Si.

Manager Genza Education Baturaja

Ketua HISPPI Ogan Komering Ulu

Pemerhati Anak Ogan Komering Ulu

 

 

“Habis gelap terbitlah terang. Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Semua akan berlalu, sejauh apapun malam, pagi pasti menjelma. Dan kelak, perempuan akan menjadi ibu bagi manusia yang baru; yang lebih mulia, lebih luhur dan lebih bijaksana.”

 

R.A.Kartini”Perempuan adalah tiang peradaban; dari pangkuannya lahir generasi yang mencipta masa depan.”

 

Adapun, penetapan Hari Kartini sebagai hari besar nasional dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

 

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, pemerintah secara resmi menetapkan:

Penetapan ini tidak hanya untuk mengenang jasa Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita, tetapi juga sebagai dorongan moral bagi perempuan Indonesia untuk terus maju dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

 

Lebih dari sekadar perayaan simbolik, Hari Kartini menjadi momen refleksi atas perjuangan perempuan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan—baik dalam hal akses pendidikan, ekonomi, hingga tantangan kehidupan.

 

R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga bangsawan Jawa. Meskipun terlahir dalam keluarga priyayi, Kartini mengalami berbagai pembatasan yang berlaku bagi perempuan kala itu, seperti tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan tinggi.

 

Namun, melalui korespondensinya dengan teman-teman dari Belanda, Kartini menyuarakan gagasannya tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan dan keadilan sosial.

 

Kumpulan surat-surat Kartini kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang menjadi inspirasi perjuangan kaum perempuan di Indonesia hingga saat ini.

Kartini banyak menulis tentang perempuan dan peradaban, terutama dalam surat-suratnya.

Salah satu kutipan paling terkenal yang mencerminkan gagasan “perempuan adalah pembawa peradaban” berbunyi:

Kartini masa depan adalah sosok perempuan cerdas, berdaya, dan mandiri yang menguasai teknologi, berpendidikan tinggi, serta menjadi agen perubahan aktif di era digital.

Mereka adalah perempuan yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga mengambil langkah nyata, kolaboratif, dan membawa kekuatan gagasan untuk memajukan bangsa

Hari Kartini bukan sekadar seremonial, peringatan ini menjadi momen reflektif akan perjuangan panjang Raden Ajeng Kartini dalam membela hak-hak perempuan, terutama dalam akses terhadap pendidikan dan kebebasan berpikir.

 

Di tengah dunia yang terus berubah, semangat Kartini tidaklah pernah benar-benar pergi—ia hadir dalam suara-suara perempuan muda yang terus berjuang lewat “Kartini menunjukkan bahwa perempuan punya hak untuk jadi utuh—untuk memimpin, memilih, dan mengambil ruang tanpa harus merasa bersalah.”

 

Ia memaknai emansipasi bukan hanya soal kesetaraan posisi, tetapi tentang meruntuhkan batas tak kasat mata: ekspektasi sosial, standar gender, dan stigma yang sering membungkam potensi perempuan.

 

“Dunia ini terlalu singkat untuk terus saling dibandingkan. Yang kita butuhkan adalah kerja sama, bukan kompetisi antar gender.”

 

Tiga suara, tiga perspektif, satu semangat yang sama: bahwa perempuan hari ini punya tempat, punya mimpi, dan punya kekuatan untuk berdaya. Kartini bukan hanya sosok sejarah—tapi juga refleksi dari langkah-langkah kecil yang kita ambil hari ini.

 

Dalam ruang kelas, komunitas, keluarga, bahkan dalam percakapan sehari-hari, perjuangan itu hidup dan bernapas. (*)

Baca juga :

Ketentuan Baca Fatehah dalam Sholat

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News