OKU RAYAOpini

Kurikulum adalah Proses

×

Kurikulum adalah Proses

Sebarkan artikel ini

Kurikulum adalah Proses

Oleh:
Bagus Suparjiyono, S.Pd.,M.Si.
Pemerhati Anak Ogan Komering Ulu
Manager Genza Education Baturaja
Dosen luar biasa Universitas Baturaja

Proses pembelajaran yang di laksanakan di sebuah Lembaga Pendidikan membutuhkan kurikulum.

Ketika terjadi perubahan pada kurikulum, dibutuhkan sebuah proses yang melibatkan seluruh stake holder, bermula dari munculnya kesadaran bahwa perubahan itu selalu terjadi dalam siklus kehidupan bermasyarakat.

Jenis penelitian ini adalah studi literatur.

Data diambil dari bahan-bahan materi
yang bersumber dari buku, jurnal dan sumber lainnya yang terkait dengan pendidikan terutama bidang kurikulum.

Adapun teknik analisis yang digunakan yaitu content analysis.

Hasil kajian menunjukan bahwa sistem pendidikan Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan kurikulum.

Perubahan kurikulum dapat membawa dampak positif dan negatif bagi kualitas sebuah pendidikan.

Berkembangnya industri dan produksi atau teknologi.

Pesatnya kemajuan di bidang teknologi harus disikapi dengan cepat, karena kalau tidak demikian output dari lembaga pendidikan akan menjadi terabaikan yang akan hidup di dunianya tanpa eksistensi.

Kurikulum harus mampu menciptakan manusia-manusia yang siap pakai di segala bidang yang diminatinya.

Bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang baru, yang bukan hanya mampu mengikuti akan tetapi mampu menghasilkan produk unggulan yang mampu bersaing.

Orientasi politik dan praktek kenegaraan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan termasuk kurikulum itu tidak dapat terlepas dari kegiatan perpolitikan suatu bangsa.

Oleh karena itulah orientasi politik negara harus diarahkan pada pemantapan demokrasi yang sejati.

Sehingga sistem pendidikan akan berjalan dengan baik tanpa di bayangi ketakutan terhadap kekuasaan atau penguasa.

Dampak negatif dari perubahan kurikulum Top of Form

1. Tidak tercapainya target pendidikan di awal penerapan

Hal ini biasanya disebabkan karena guru sebagai pendidik belum mampu menerapkan kurikulum baru secara menyeluruh.

Guru harus benar-benar memahami kurikulum baru beserta komponen-komponennya jika ingin menerapkannya dengan hasil yang diharapkan.

Sebaik apapun kurikulum baru yang dikembangkan, jika ujung tombaknya yaitu guru tidak mampu mengejawantahkannya dalam proses belajar mengajar dengan baik maka kurikulum tersebut tidak bisa berjalan lancar.

2. Fasilitas yang kurang memadai

Di beberapa daerah, kadang-kadang fasilitas yang dimiliki sekolah menjadi kendala tidak berhasilnya penerapan kurikulum  baru.

Fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing sekolah di Indonesia masih belum merata.

Sekolah-sekolah yang ada di kota besar kemungkinan mampu memenuhi tuntutan dari perubahan kurikulum.

Bagaimana dengan sekolah di tempat terpencil yang serba terbatas?

3. Sosialisasi penerapan kurikulum baru membutuhkan waktu

Perubahan kurikulum tentu saja membutuhkan sosialisasi kepada guru-guru yang merupakan pelaksana di lapangan.

Kurikulum baru harus mampu membuat semua guru memahami kurikulum baru supaya penerapan kurikulum baru itu berhasil.

Sosialisasi sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang tujuan, capaian yang ingin diraih, dan lain sebagainya dari kurikulum baru.

Jika sosialisasi gagal, maka harapan kurikulum akan berhasil juga sangat kecil. (*)

Baca juga :

Baznas OKU – BPR Baturaja Kerjasama, Ini Bentuknya

 

Dapatkan berita terupdate OKU SATU di Google News