OKU SELATAN – Pagi itu, suasana di Perumahan Griya Permai, Desa Pelangki, Kecamatan Muaradua, terasa berbeda. Langit seolah ikut muram, menyaksikan satu per satu pelayat datang dengan wajah tertunduk, Sabtu, 2 Mei 2026.
Di rumah duka, keheningan sesekali pecah oleh tangisan keluarga. Nama dr Myta Aprilia Azmy disebut dalam doa-doa yang lirih. Sosok dokter muda itu kini hanya tinggal kenangan bagi banyak orang yang pernah merasakan ketulusannya.
Sejak pagi, halaman rumah dipenuhi warga. Mereka datang bukan sekadar melayat, tetapi juga mengantar kepergian seseorang yang dikenal ramah, ringan tangan, dan penuh dedikasi.
Ketika jenazah mulai diberangkatkan, suasana berubah semakin haru. Tangis keluarga pecah tanpa bisa ditahan. Beberapa pelayat terlihat mengusap air mata, larut dalam kehilangan yang terasa begitu nyata.
dr Myta menghembuskan napas terakhir sehari sebelumnya, Jumat, 1 Mei 2026, sekitar pukul 10.30 WIB. Ia meninggal dunia setelah sempat dirawat intensif di ruang ICU di Palembang.
BACA JUGA
Kakak di OKU Selatan Cekek dan Hajar Adik, Istri Ikut Menyerang Lalu Kabur
Polisi Usut Pembunuhan Lansia Pakai Balok, Menantu Dalangi Aksi
Tak lama setelah kabar duka itu menyebar, jenazah langsung dibawa pulang ke kampung halaman. Perjalanan panjang itu menjadi awal perpisahan terakhir antara dr Myta dan tanah kelahirannya.
Keesokan harinya, sekitar pukul 10.00 WIB, prosesi pemakaman berlangsung di TPU Simpang Pendagan, Kelurahan Pasar Muaradua. Ratusan orang ikut mengantar hingga ke liang lahat.
Suasana hening menyelimuti area pemakaman. Doa-doa dipanjatkan, seolah menjadi jembatan terakhir antara yang ditinggalkan dan yang telah pergi.
Namun, kepergian dr Myta tak hanya menyisakan duka.
Di balik tangis itu, muncul pertanyaan yang mulai bergema. Banyak pihak menyoroti kondisi yang dialaminya selama menjalani masa tugas sebagai dokter internship.
BACA JUGA
Lima ASN Ngadu Nasib Calon Sekda OKU
Sorotan semakin kuat setelah muncul informasi dari kalangan alumni kedokteran yang menyebut adanya dugaan beban kerja berat serta waktu istirahat yang terbatas.
Kondisi kesehatannya bahkan dikabarkan sudah menurun sejak beberapa waktu sebelum ia meninggal. Namun, tugas tetap berjalan seperti biasa.
Ia disebut masih menjalani jadwal jaga malam, meski kondisi tubuhnya tak lagi prima. Sebelum dirujuk, ia sempat mengalami sesak napas dan demam tinggi.
Tak hanya itu, muncul pula dugaan lain—mulai dari minimnya pengawasan hingga keterbatasan fasilitas. Bahkan, ada isu yang menyebut adanya tekanan agar kondisi sebenarnya tidak mencuat ke publik.
BACA JUGA
Bupati Oku Selatan, Tinjau infrastruktur di Desa Pajar Bulan
Situasi ini membuat banyak pihak mendesak agar dilakukan penelusuran menyeluruh. Harapannya jelas, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Bagi rekan sejawat, dr Myta bukan sekadar dokter. Ia dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab dan selalu siap membantu, terutama saat bertugas di ruang gawat darurat.
Kini, semua itu tinggal cerita.
Di pemakaman yang perlahan kembali sepi, satu hal terasa jelas—kepergian dr Myta bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan tanda tanya besar bagi banyak orang. ***











